Teknologi

Studi DNA Kuno Ungkap Alasan Wabah Pes Bertahan 400 Tahun setelah Tragedi Black Death di Eropa

1789902258_7bb0b89085538c07d1bd
Foto : Thomas Thomas - beritabaru1.com
Daftar Isi
  1. DNA Kuno Memetakan Jejak Panjang Pes di Eropa
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

DNA Kuno Memetakan Jejak Panjang Pes di Eropa

Beritabaru1.com – Wabah pes ternyata tidak berhenti ketika Black Death mereda pada pertengahan abad ke-14. Kajian DNA kuno memperlihatkan bakteri penyebab penyakit tersebut tetap beredar di berbagai wilayah Eropa selama lebih dari 400 tahun, berubah menjadi sejumlah garis keturunan dan kembali muncul melalui jaringan mobilitas manusia.

Black Death merupakan gelombang besar pes yang melanda Eropa pada 1347 hingga 1353 dan menewaskan jutaan jiwa. Namun, dampaknya bukan sekadar satu peristiwa singkat dalam sejarah. Wabah serupa terus datang kembali selama berabad-abad berikutnya, menekan kehidupan perkotaan, perdagangan, kegiatan ekonomi, serta ketahanan masyarakat di banyak kawasan Eropa.

Pes adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Yersinia pestis. Bakteri ini dapat berpindah kepada manusia melalui gigitan kutu yang sebelumnya berada pada hewan terinfeksi. Tikus termasuk hewan pengerat yang sering dikaitkan dengan pes, meski tupai, kelinci, kucing, dan bajing juga dapat membawa penyakit tersebut.

Rekonstruksi genom dari 11 situs arkeologi

Riset yang dipimpin ilmuwan Universitas Tartu di Estonia menelaah sisa-sisa kerangka manusia dari berbagai lokasi arkeologi. Tim berhasil membangun kembali 26 genom Yersinia pestis yang berasal dari 11 situs di Estonia, Rusia, Inggris, Belanda, dan Swiss.

Sampel itu mencakup rentang abad ke-14 hingga ke-18, periode yang meliputi sebagian besar Pandemi Pes Kedua. Dengan memeriksa perubahan genetik bakteri dari waktu ke waktu, para peneliti dapat menelusuri bagaimana pes berpindah, beradaptasi, dan kembali menjangkiti komunitas manusia jauh sesudah tragedi Black Death.

Temuan genetik tersebut tidak mendukung gambaran bahwa penyakit bertahan dari satu titik asal tunggal lalu menyebar terus-menerus ke tempat lain. Sebaliknya, pes tampaknya masuk kembali ke sejumlah kawasan Eropa secara berulang dalam kurun ratusan tahun. Pola ini membuka kemungkinan terbentuknya beberapa reservoir baru, yakni lingkungan atau populasi inang alami yang memungkinkan bakteri tetap hidup.

Estonia dan koneksi perjalanan jarak jauh

Estonia menjadi salah satu wilayah yang menunjukkan tanda paparan berulang. Jejak DNA mengindikasikan pes masuk ke kawasan itu berkali-kali sejak akhir abad ke-14. Keterhubungan Estonia dengan bagian-bagian lain Eropa diduga membantu perjalanan bakteri dalam jarak jauh, seiring bergeraknya orang, barang, dan hewan.

Kami menemukan bukti masuknya wabah secara berulang ke Estonia mulai akhir abad ke-14 dan mengidentifikasi beberapa garis keturunan genetik yang sebelumnya tidak diketahui, baik di lingkungan perkotaan maupun pedesaan.

Pernyataan itu disampaikan penulis senior penelitian, Prof. Kristiina Tambets. Keberadaan garis keturunan yang berbeda di wilayah kota dan desa menunjukkan bahwa peredaran pes tidak hanya terkait pusat perdagangan besar, tetapi juga dapat menjangkau komunitas yang lebih terpencar.

Periode sekitar 1450 hingga 1500 menjadi salah satu fase paling penting dalam rekonstruksi evolusi bakteri ini. Pada masa tersebut, satu garis keturunan pes mengalami perluasan besar lalu terbelah menjadi tiga cabang utama. Cabang-cabang itu diperkirakan berperan dalam pembentukan reservoir Yersinia pestis baru pada hewan pengerat liar.

Perubahan kondisi lingkungan dapat ikut memengaruhi proses tersebut. Kekeringan Besar Renaisans atau Great Renaissance Drought disebut sebagai salah satu faktor yang mungkin berkaitan dengan ekspansi pes. Iklim dapat mengubah dinamika populasi hewan pengerat liar dan kutu, dua unsur penting dalam siklus alami bakteri penyebab penyakit ini.

Menajamkan waktu terjadinya infeksi

Salah satu persoalan terbesar dalam penelitian epidemi masa lampau adalah penentuan waktu infeksi. Tidak seperti kasus penyakit modern yang biasanya mempunyai catatan tanggal rinci, sisa manusia dari era berabad-abad lalu kerap hanya dapat diberi perkiraan melalui penanggalan radiokarbon. Rentang hasilnya dapat sangat lebar, bahkan mencapai sekitar satu abad.

Tim penelitian mengembangkan pendekatan untuk mempersempit ketidakpastian tersebut. Mereka menilai posisi genom setiap sampel pada pohon evolusi bakteri, lalu memakai hubungan genetis itu untuk memperhalus estimasi waktu kemunculan masing-masing infeksi.

Metode tersebut diterapkan pada 64 genom pes yang telah dipublikasikan sebelumnya serta 11 genom baru. Hasilnya memungkinkan hampir seluruh genom pes yang tersedia dari abad ke-14 sampai abad ke-18 dihubungkan dengan catatan wabah tertentu dalam sumber sejarah.

Kami mampu meningkatkan interval penanggalan untuk banyak sampel, yang memungkinkan kami menghubungkannya dengan gelombang wabah tertentu yang dicatat oleh para penulis kronik di kota atau wilayah masing-masing.

Penjelasan itu disampaikan sejarawan Prof. Philip Slavin. Penyatuan bukti biologis dengan catatan sejarah membantu membangun gambaran yang lebih tajam mengenai kapan dan di mana wabah berlangsung, sekaligus menunjukkan nilai kolaborasi antara arkeologi, genetika, sejarah, dan ilmu kesehatan.

Perang, perpindahan penduduk, dan jalur penyebaran

Jejak genom juga memperlihatkan besarnya pengaruh aktivitas manusia terhadap pergerakan pes. Sampel yang dianalisis memberikan tambahan bukti mengenai kaitan wabah dengan Perang Tiga Puluh Tahun pada 1618-1648 dan Perang Utara Besar sekitar 1700-1721.

Dalam situasi konflik, tentara, pengungsi sipil, dan pedagang bergerak melalui rute yang sering beririsan. Mobilitas semacam itu dapat memperluas peluang perpindahan penyakit antardaerah, terutama ketika perjalanan berlangsung melewati kota, pelabuhan, permukiman, dan wilayah pedesaan dalam jaringan yang sama.

Pelajaran dari penelitian ini tidak hanya terletak pada pemahaman masa lalu. Riwayat pes menunjukkan bahwa wabah dapat dipengaruhi oleh gabungan faktor biologis, lingkungan, dan sosial. Perubahan pada iklim, hewan inang, jalur perdagangan, perpindahan penduduk, hingga konflik dapat menciptakan kondisi yang membuat penyakit bertahan atau kembali menyebar.

Dengan membaca DNA yang tersimpan pada sisa manusia arkeologis, para ilmuwan kini dapat melihat pandemi pes sebagai proses panjang, bukan hanya satu ledakan penyakit. Black Death memang menjadi salah satu tragedi terbesar Eropa, tetapi bukti baru menegaskan bahwa warisannya terus membentuk kehidupan masyarakat selama berabad-abad sesudahnya.

Frequently Asked Questions

What is Studi DNA Kuno Ungkap Alasan Wabah?

Studi DNA Kuno Ungkap Alasan Wabah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Studi DNA Kuno Ungkap Alasan Wabah matter?

Studi DNA Kuno Ungkap Alasan Wabah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment