International Battery Summit Kupas Tata Kelola Limbah Baterai
Menyongsong Masa Depan Pengelolaan Baterai di Indonesia
Beritabaru1.com – Transisi energi di sektor transportasi kerap dipandang sebagai jawaban cepat terhadap krisis iklim global. Indonesia merespons narasi ini dengan percepatan adopsi kendaraan listrik secara masif. Namun, di balik berbagai program dan kebijakan pemerintah yang ambisius, muncul pertanyaan penting: apakah transisi ini dapat berjalan tanpa bias, terutama ketika elektrifikasi lebih banyak diterapkan pada kendaraan pribadi?
Laporan Climate Policy Initiative (CPI) yang dikutip Institute for Transportation and Development Policy menyoroti ketimpangan investasi. Pada tahun 2023, pendanaan domestik maupun internasional untuk kendaraan pribadi mencapai empat kali lipat dibandingkan transportasi publik berbasis jalan dan rel. Sementara itu, pengembangan kawasan dan infrastruktur berorientasi transportasi hanya memperoleh 0,26% dari total pembiayaan transportasi secara keseluruhan.
International Battery Summit 2026: Forum Diskusi Kritis
Isu tersebut akan menjadi fokus dalam diskusi panel bertajuk "Bagaimana Pemerintah Indonesia Dapat Mendukung Industri Baterai Nasional dan Ekosistem Kendaraan Listrik (EV)?". International Battery Summit Kupas Tata Kelola - acara ini diselenggarakan dalam rangkaian International Battery Summit (IBS) 2026 yang akan berlangsung pada 26–28 Agustus 2026 di Jakarta.
Acara pameran dan konferensi terkait ekosistem baterai dan transisi energi tersebut diselenggarakan oleh National Battery Research Institute (NBRI) bersama Asosiasi Ekosistem Baterai Indonesia, dan Indonesia Battery Corporation (IBC). Selain itu, terdapat sesi ESG, Circular Economy & Battery Passport. Forum ini mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, peneliti, serta pemangku kepentingan lainnya.
Berbagai topik yang dikupas berada dalam payung tema "Empowering the Energy Transition through Advanced Battery Technology, Renewable Energy, Storage & E-mobility." Acara tersebut akan menghadirkan 100 pembicara serta pemangku kepentingan dari lebih dari 35 negara. Diskusi akan berfokus pada perkembangan teknologi baterai, manufaktur, bahan baku, penyimpanan energi, energi terbarukan, kendaraan listrik, investasi, hingga pengembangan ekonomi sirkular dan pengelolaan baterai pada akhir masa pakainya.
Tantangan Pengelolaan Limbah Baterai
Dalam diskusi bertajuk "Bagaimana Pemerintah Indonesia Dapat Mendukung Industri Baterai Nasional dan Ekosistem Kendaraan Listrik (EV)?", akan berbicara Koordinator Kelompok Kerja Lintas Batas dan Konvensi pada Direktorat Pengelolaan Limbah B3 dan Non-B3, Kementerian Lingkungan Hidup, Amelia Rachmatunisa.
Sebelumnya, Amelia mengungkapkan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang sangat pesat dan diperkirakan akan terus meningkat seiring keterbatasan BBM akibat situasi global. Kondisi tersebut mendorong masyarakat mulai mencari alternatif pengganti, salah satunya melalui penggunaan energi listrik.
Setiap kendaraan, kata Amelia, memiliki masa pakai atau lifetime. Pada akhirnya, komponen utama, seperti baterai, akan memasuki fase akhir penggunaan dan menjadi limbah yang perlu dikelola secara tepat. Kini, paradigma pengelolaan limbah berbasis daur ulang mulai diterapkan dengan memanfaatkan material yang masih dapat digunakan kembali setelah masa pakainya berakhir.
Indonesia telah memiliki sejumlah aturan yang mengatur perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, termasuk dalam aspek limbah B3. Namun, pengaturan tersebut dinilai belum secara spesifik mengakomodasi limbah baterai kendaraan listrik, khususnya baterai berbasis litium.
"Ini memang menjadi tantangan ke depan, bagaimana kita menyiapkan pengelolaannya," ujar Amelia.
Amelia menjelaskan, sumber limbah baterai ke depan tidak hanya berasal dari sektor industri, tetapi juga dari masyarakat sebagai pengguna kendaraan listrik. Hal ini menuntut kesiapan sistem pengelolaan yang mencakup proses pengumpulan hingga pengolahan. Mekanisme pengumpulan, seperti melalui bengkel maupun skema trade-in, menurut dia, dapat menjadi salah satu solusi agar baterai bekas tidak dibuang sembarangan dan dapat masuk ke dalam sistem pengelolaan yang tepat.
Amelia juga menegaskan bahwa upaya pengurangan limbah perlu dilakukan sejak tahap awal dengan memilih bahan baku yang dapat didaur ulang. Dengan demikian, limbah yang dihasilkan pada akhir siklus penggunaan masih memiliki nilai guna dan dapat dimanfaatkan kembali secara optimal.
Sementara itu, fisikawan sekaligus profesor riset BRIN dan pendiri NBRI, Evvy Kartini, menyatakan bahwa selain isu tata kelola limbah baterai, Indonesia juga memiliki pekerjaan rumah yang tidak kalah mendasar. Sebagai negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia harus memastikan bahwa hulu hingga hilir industri baterai dapat berjalan sinergis. Hal ini mencakup penguatan rantai pasok, pengembangan teknologi pemurnian, serta peningkatan nilai tambah produk dalam negeri.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang International Battery Summit
Apa itu International Battery Summit Kupas Tata Kelola? International Battery Summit Kupas Tata Kelola adalah forum internasional yang membahas pengelolaan baterai dan limbah baterai dalam konteks transisi energi global.
Kapan dan di mana acara ini diselenggarakan? International Battery Summit 2026 akan berlangsung pada 26–28 Agustus 2026 di Jakarta, Indonesia.
Siapa saja penyelenggara acara ini? Acara ini diselenggarakan oleh National Battery Research Institute (NBRI), Asosiasi Ekosistem Baterai Indonesia, dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Apa saja topik utama yang dibahas? Topik utama meliputi teknologi baterai, energi terbarukan, penyimpanan energi, e-mobility, ekonomi sirkular, dan pengelolaan limbah baterai.
Berapa banyak pembicara yang akan hadir? Acara tersebut akan menghadirkan 100 pembicara serta pemangku kepentingan dari lebih dari 35 negara.