Beritabaru1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kembalikan Tren Surplus yang Terputus

Published Agustus 14, 2026 · Updated Agustus 14, 2026 · By Karen Smith - beritabaru1.com

Foto : Karen Smith - beritabaru1.com

Defisit Dua Bulan Berturut-turut, Neraca Perdagangan Indonesia Masih Catat Surplus Kumulatif

Beritabaru1.com – Periode Januari hingga Juni 2026 mencatatkan surplus perdagangan Indonesia sebesar US$3,58 miliar, meskipun tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan sejak Mei 2020 sempat terputus pada Mei dan Juni 2026. Pada bulan Mei, neraca perdagangan mencatatkan defisit US$1,61 miliar dengan ekspor mencapai US$23,20 miliar sementara impor tembus US$24,81 miliar. Kondisi ini sedikit membaik di bulan berikutnya, di mana defisit Juni 2026 menyusut menjadi US$0,45 miliar berkat ekspor US$25,46 miliar dan impor US$25,91 miliar.

Lonjakan Harga Minyak Global Jadi Penyebab Utama

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa defisit bulanan tersebut tidak terlepas dari melonjaknya nilai impor minyak dan gas (migas). Fenomena ini diperparah oleh kenaikan harga minyak dunia yang melampaui level normal. Ia menyebutkan bahwa harga minyak mentah dunia saat ini berada di atas US$100 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata normal sebesar US$60 hingga US$65 per barel.

"Kenapa Mei itu defisit? Karena pada Maret-April mulai naik tinggi harga minyak. Itu mempengaruhi neraca kita pada Mei," ungkap Budi saat menerima Media Indonesia di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta Pusat, Senin (3/8).

Meskipun volume impor mengalami penurunan, nilai impor justru meningkat akibat faktor harga. Impor migas pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,3 juta ton, turun 12,4% dari April 2026 yang mencapai 4,9 juta ton. Sementara itu, impor nonmigas juga menurun dari 21,5 juta ton di April menjadi 18 juta ton pada Mei 2026 atau turun 15,7%.

"Sebenarnya impor kita dari sisi volume turun tapi dari sisi nilai naik karena harga minyak naik," ujarnya.

Struktur Impor Didominasi Bahan Baku untuk Produksi

Mendag menekankan bahwa meskipun tingkat impor Indonesia tergolong tinggi, hal tersebut perlu dilihat dari jenis barang yang masuk. Struktur impor Indonesia pada semester I 2026 didominasi oleh bahan baku dan penolong dengan pangsa mencapai 71,37%. Barang modal seperti mesin-mesin produksi menyumbang 19,94%, sedangkan sisanya sebesar 8,69% merupakan barang konsumsi.

Menurut Budi, impor barang konsumsi atau barang jadi yang langsung digunakan konsumen sebenarnya tidak terlalu banyak. Sebagian besar yang diimpor adalah bahan baku dan bahan penolong yang dibutuhkan untuk proses produksi dalam negeri.

Defisit Juni Belum Menunjukkan Pelemahan Eksternal

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai defisit neraca dagang pada Juni 2026 belum mencerminkan pelemahan sektor eksternal. Menurutnya, kondisi ini lebih tepat dipandang sebagai bagian dari proses penyesuaian struktur perdagangan, meskipun defisit terjadi selama dua bulan berturut-turut.

Yusuf menjelaskan bahwa kinerja ekspor sebenarnya masih menunjukkan tren positif. Nilai ekspor pada Juni mencapai US$25,46 miliar atau tumbuh 8,84% secara tahunan, terutama ditopang oleh ekspor nonmigas seperti nikel, bahan bakar mineral, dan minyak nabati. Sebaliknya, tekanan terhadap neraca dagang berasal dari lonjakan impor yang meningkat 34,27% menjadi US$25,91 miliar.

Kenaikan paling besar terjadi pada impor migas yang melonjak lebih dari 100% sehingga mendorong defisit sektor migas mencapai US$3,49 miliar. Surplus perdagangan nonmigas sebesar US$3,04 miliar belum mampu menutupi defisit tersebut sepenuhnya.

"Di sisi lain, kenaikan impor juga menunjukkan permintaan domestik masih cukup kuat. Sebagian besar impor berasal dari bahan baku, barang penolong, dan barang modal yang digunakan untuk produksi dan investasi. Dalam analisis ekonomi, impor seperti ini cenderung bersifat produktif karena mendukung peningkatan kapasitas industri," kata Yusuf.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Kembalikan Tren Surplus yang Terputus?

Kembalikan Tren Surplus yang Terputus is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kembalikan Tren Surplus yang Terputus matter?

Kembalikan Tren Surplus yang Terputus matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.