Menanti Tuah Danantara Menuju Pertumbuhan 8 Persen
Danantara dan Visi Pertumbuhan Ekonomi Menuju 8 Persen
Beritabaru1.com – Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, dan investasi menjadi salah satu pilar utama untuk mewujudkan ambisi tersebut. Dalam konteks ini, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memegang peranan vital. Lembaga ini bertugas mengelola investasi strategis nasional dengan cara mengoptimalkan aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN), membiayai proyek-proyek pembangunan, serta mengurangi ketergantungan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain itu, Danantara juga berperan menarik modal asing ke dalam negeri.
Menteri Investasi dan Hilirisasi yang merangkap sebagai CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengemukakan bahwa realisasi investasi nasional pada kurun waktu 2014 hingga 2024 telah menyentuh angka US$789,9 miliar. Ia menegaskan bahwa target serupa harus dicapai dalam lima tahun mendatang demi menopang pertumbuhan ekonomi.
"Untuk lima tahun ke depan, angkanya adalah US$789,9 miliar. Itulah angka yang harus kita capai untuk mencapai pertumbuhan 8%. Ini bisa dicapai jika kita semua bekerja bersama, melakukan kolaborasi, melakukan sinergi," ujar Rosan dalam diskusi di Jakarta.
Program Hilirisasi dan Proyek Strategis
Rosan menambahkan bahwa sekitar 30 persen dari realisasi investasi nasional tahun 2025 bersumber dari program hilirisasi, khususnya di sektor mineral dan energi. Pemerintah pun terus mendorong pengembangan hilirisasi ke berbagai bidang lain, seperti kehutanan, minyak dan gas, perikanan, kelautan, serta komoditas pertanian.
Danantara saat ini mendukung 26 proyek hilirisasi strategis nasional yang bertujuan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Total nilai investasi untuk proyek-proyek tersebut mencapai Rp225 triliun dan diproyeksikan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja.
"Tidak hanya menghasilkan investasi, hilirisasi ini juga mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi daerah dan membuat nilai tambahnya dinikmati di dalam negeri," kata Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria.
Pelaksanaan proyek dibagi menjadi dua fase. Fase pertama dimulai dengan groundbreaking pada 6 Februari 2026, mencakup enam proyek prioritas di 13 lokasi dengan investasi Rp109 triliun dan potensi penyerapan 11.456 tenaga kerja. Fase kedua dijadwalkan dimulai pada 29 April 2026, meliputi 10 proyek prioritas di 13 lokasi dengan investasi Rp116 triliun dan diperkirakan menyerap 26.377 tenaga kerja.
Dony menekankan bahwa hilirisasi harus memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional, tidak hanya dari sisi investasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat. Sebanyak 26 proyek tersebut mencakup berbagai komoditas strategis, mulai dari sektor pertambangan seperti pembangunan smelter aluminium, baja nirkarat, dan tembaga, hingga sektor energi dan pangan melalui pengembangan fasilitas bioavtur, bioetanol, pengolahan kelapa sawit, industri kelapa, serta peternakan ayam terintegrasi.
Transformasi Pengelolaan BUMN
Selain investasi, transformasi pengelolaan BUMN juga menjadi fokus utama Danantara. Melalui transformasi yang terus dijalankan, BP BUMN bersama Danantara mendorong BUMN menjadi perusahaan yang lebih sehat, adaptif, dan berdaya saing. Dony Oskaria mencatat sebanyak 274 perusahaan pelat merah telah ditata per 31 Juli 2026.
"Sekarang sudah 274 perusahaan yang kita lakukan streamlining. Kurang lebih nanti total yang akan kita selesaikan itu 652 perusahaan yang akan hilang, sehingga nanti kita hanya akan punya 250 perusahaan," ujarnya.
Penyederhanaan struktur perusahaan, penguatan strategi bisnis, serta peningkatan kinerja operasional diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Akhir Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi kinerja Danantara Indonesia yang berhasil mengurangi jumlah BUMN. Lewat konsolidasi dan penggabungan perusahaan ada 250 BUMN yang dipangkas dalam 18 bulan pertama pemerintahannya.
Menurut Presiden, jumlah BUMN yang telah dikonsolidasikan tersebut menjadi langkah awal menuju target yang lebih besar pada akhir 2026. Hingga 31 Desember 2026, jumlah BUMN ditargetkan berkurang dari 1.074 dan nantinya akan ada 250-300 perusahaan melalui penutupan, penggabungan, dan konsolidasi. Kesemuanya akan didorong menjadi BUMN yang produktif serta menciptakan nilai tambah.
Berdasarkan laporan yang diterima Presiden, penutupan dan penggabungan 250 BUMN telah menghemat biaya rutin atau overhead sekitar Rp50 triliun. "Desember 31 nanti, saya kira ini mungkin angka penghematan bisa naik, bisa mendekati Rp70 triliun-Rp80 triliun," kata Presiden Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin, (20/7).
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai merger atau pembentukan holding BUMN menghilangkan duplikasi fungsi perusahaan, sehingga ope
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Menanti Tuah Danantara Menuju Pertumbuhan 8 Persen?Menanti Tuah Danantara Menuju Pertumbuhan 8 Persen is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Menanti Tuah Danantara Menuju Pertumbuhan 8 Persen matter?Menanti Tuah Danantara Menuju Pertumbuhan 8 Persen matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.