Bank Sampah Manggis Sakato Didorong Jadi Unit Ekonomi Produktif Berbasis Kerajinan Daur Ulang
Bank Sampah Manggis Sakato Didorong Jadi Unit Ekonomi Kreatif
Beritabaru1.com – Bank Sampah Manggis Sakato Didorong untuk berkembang menjadi unit ekonomi produktif berbasis kerajinan daur ulang. Tim pengabdian masyarakat dari Universitas PGRI Sumatera Barat telah melaksanakan program pemberdayaan di lokasi yang berada di Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat. Inisiatif ini bertujuan memperkuat kemampuan mitra dalam mengkonversi limbah anorganik menjadi barang kerajinan bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, program ini juga meningkatkan sistem manajemen dan strategi pemasaran secara digital. Dukungan pendanaan berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di bawah Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Program ini masuk dalam kategori "Program Pengabdian Kepada Masyarakat" untuk tahun 2026.
Selama beroperasi, Bank Sampah Manggis Sakato telah aktif mengumpulkan dan memilah limbah rumah tangga. Material anorganik seperti botol plastik, kemasan plastik, dan kertas menjadi fokus utama pengumpulan. Potensi ini dinilai sangat layak untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai jual. Produk-produk yang dihasilkan meliputi tas, keranjang, tempat tisu, wadah beras untuk acara takziah, serta inovasi kreatif lainnya. Melalui pengembangan ini, mitra diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi.
Menumbuhkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat
Ketua Tim PkM Universitas PGRI Sumatera Barat, Sri Rahayu, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar berfokus pada pengurangan volume sampah. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi warga setempat. Melalui pendampingan menyeluruh, mitra dapat mengelola usaha dengan lebih profesional dan terstruktur.
"Sampah anorganik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk kerajinan yang menarik dan memiliki peluang pasar. Karena itu, mitra perlu didampingi dari sisi produksi, manajemen usaha, hingga pemasaran digital," ungkap Sri.
Program pengabdian ini dijalankan melalui beberapa tahap penting. Tahap pertama meliputi sosialisasi program kepada seluruh mitra. Selanjutnya, pelatihan inovasi desain kerajinan ramah lingkungan dilakukan untuk meningkatkan kreativitas. Pendampingan pembuatan produk memastikan kualitas hasil akhir sesuai standar pasar. Pelatihan manajemen usaha dan pencatatan keuangan sederhana membantu mitra mengelola arus kas dengan baik. Terakhir, pelatihan digital marketing membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Melalui serangkaian kegiatan tersebut, mitra diharapkan mampu menghasilkan produk yang lebih variatif, rapi, dan memiliki daya saing pasar yang kuat.
Penguatan Manajemen dan Pemasaran Digital
Dalam aspek manajemen usaha, mitra diberikan pendampingan dalam pencatatan kas masuk dan kas keluar. Perhitungan biaya produksi menjadi bagian penting untuk menentukan harga jual yang kompetitif. Pencatatan stok dan penyusunan laporan keuangan sederhana juga diajarkan secara bertahap. Mengingat mitra belum memiliki komputer secara mandiri, tim pelaksana memperkenalkan pencatatan berbasis digital menggunakan perangkat tim. Format manual dan template sederhana juga diberikan sebagai alternatif yang dapat digunakan secara bertahap.
Sementara itu, pada aspek pemasaran, tim pengabdian mendorong pemanfaatan media digital melalui katalog produk, media sosial, dan website. Website yang dikembangkan dirancang sebagai pusat informasi dan katalog digital. Halaman ini memuat profil mitra, foto produk, harga, deskripsi, kontak pemesanan, serta tautan ke media sosial dan marketplace. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program serupa, pembaca dapat mengunjungi halaman Humaniora Media Indonesia.
Program ini diharapkan dapat meningkatkan keberdayaan mitra secara kuantitatif. Tambahnya variasi produk dan meningkatnya frekuensi produksi menjadi indikator keberhasilan. Tersedianya pencatatan keuangan sederhana dan aktifnya saluran pemasaran digital juga menunjukkan kemajuan signifikan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dari rumah. Ekonomi sirkular berbasis komunitas semakin mendapat perhatian dari berbagai pihak. Melalui pengabdian ini, Bank Sampah Manggis Sakato diharapkan mampu berkembang sebagai unit ekonomi produktif berbasis lingkungan. Program ini juga menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Frequently Asked Questions
Apa itu Bank Sampah Manggis Sakato? Bank Sampah Manggis Sakato adalah lembaga pengumpulan dan pemilahan sampah anorganik yang berlokasi di Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat. Lembaga ini aktif mengumpulkan botol plastik, kemasan plastik, dan kertas untuk diolah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.
Bagaimana program pengabdian masyarakat membantu Bank Sampah Manggis Sakato? Program pengabdian dari Universitas PGRI Sumatera Barat membantu mitra dalam pengembangan produk kerajinan, penguatan manajemen usaha, dan pemasaran digital. Dukungan ini mencakup pelatihan desain, pencatatan keuangan, dan pengembangan website katalog produk.
Apa saja produk kerajinan yang dihasilkan dari Bank Sampah Manggis Sakato? Produk kerajinan yang dihasilkan meliputi tas, keranjang, tempat tisu, wadah beras untuk acara takziah, serta berbagai inovasi kreatif lainnya. Semua produk ini dibuat dari limbah anorganik yang telah dipilah dan diolah.
Bagaimana cara memesan produk dari Bank Sampah Manggis Sakato? Pembeli dapat memesan produk melalui website katalog digital yang memuat informasi lengkap tentang produk, harga, dan kontak pemesanan. Selain itu, pemesanan juga dapat dilakukan melalui media sosial dan marketplace yang terhubung dengan website.
Apakah program ini mendapat dukungan dari pemerintah? Ya, program ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat di bawah Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Program ini masuk dalam kategori "Program Pengabdian Kepada Masyarakat" untuk tahun 2026.