Beritabaru1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Ini Bahaya Lemak Perut dan Risiko Penyakit Metabolik

Published Agustus 19, 2026 · Updated Agustus 19, 2026 · By Michael Jones - beritabaru1.com

Foto : Michael Jones - beritabaru1.com

Lemak Perut: Ancaman Metabolik yang Sering Diabaikan

Beritabaru1.com – Di tengah peluncuran Kampanye Edukasi Obesitas #BeraniBicaraBerat yang digelar di Jakarta pada Jumat (19/8), Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, menyampaikan pesan tegas kepada publik. Ia menegaskan bahwa akumulasi lemak di area abdomen bukan sekadar soal estetika atau angka timbangan, melainkan pemicu serangkaian gangguan metabolik yang mengancam kesehatan jangka panjang.

Mekanisme Bahaya yang Berbeda

Menurut Yunir, jaringan adiposa yang menumpuk di rongga perut berperilaku secara biologis berbeda dari lemak subkutan di paha, lengan, atau pipi. Karakteristik tersebut menjadikannya jauh lebih berbahaya bagi sistem tubuh secara keseluruhan.

"Lemak di rongga perut itu lebih jahat dari lemak di tempat lain. Karena dia bukan hanya lemak ngumpul terus beratnya jadi tinggi, tapi dia mengandung banyak hormon lain," ujar Yunir, dikutip Rabu (19/8).

Salah satu konsekuensi paling signifikan dari penumpukan lemak abdominal adalah timbulnya resistensi insulin. Fenomena ini memang sudah lama dikaitkan dengan risiko diabetes, namun Yunir mengingatkan bahwa dampaknya melampaui sekadar gangguan glikemik. Resistensi insulin turut mendorong munculnya berbagai disfungsi metabolik lain pada individu yang mengalami obesitas sentral.

Faktor Usia dan Inflamasi Kronis

Sel lemak yang menumpuk di area abdomen melepaskan mediator inflamasi yang beredar secara sistemik dalam aliran darah. Risiko komplikasi meningkat secara progresif seiring bertambahnya usia, khususnya ketika seseorang memasuki dekade kelima hingga keenam (50–60 tahun). Pada rentang usia tersebut, kegemukan dan diabetes kerap bermanifestasi secara simultan, memperberat beban metabolik tubuh.

Bobot Tinggi Bukan Berarti Massa Otot

Yunir juga menyoroti kesalahpahaman umum: angka berat badan yang tinggi tidak otomatis mencerminkan proporsi otot yang besar. Kenaikan bobot dapat didominasi oleh jaringan lemak, sehingga diperlukan penilaian komposisi tubuh yang lebih rinci dan spesifik.

"Jangan-jangan otot kita kurang,因为 berat badannya tinggi itu bukan karena komponen ototnya tapi karena lemaknya. Dengan mengetahui komposisi tubuh, kita bisa mengatur treatment yang lebih tepat," jelasnya.

Indikator Klinis dan Langkah Preventif

Berdasarkan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa yang diterbitkan Kementerian Kesehatan, lingkar pinggang ditetapkan sebagai parameter utama untuk mengkuantifikasi lemak abdominal sekaligus menjadi penanda risiko penyakit kardiometabolik. Batas aman lingkar pinggang mengacu pada konsensus Asia Pasifik yang berlaku secara internasional di kawasan tersebut.

Sebagai langkah pencegahan, Yunir mengimbau masyarakat untuk membangun kebiasaan deteksi dini sejak usia muda. Praktik sederhana seperti mengamati perubahan postur tubuh, menimbang berat badan secara berkala, serta mengukur lingkar perut secara rutin dapat membantu mengidentifikasi kecenderungan akumulasi lemak berlebih pada tahap awal.

Upaya deteksi dini tersebut, menurutnya, harus selalu diiringi penyesuaian pola konsumsi dan adopsi gaya hidup aktif agar risiko penumpukan lemak dapat ditekan secara efektif.

"Kalau perutnya rata atau maju, kita biasakan mencari indikator-indikator ini," pungkasnya.

(Ant/Z-1)

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Ini Bahaya Lemak Perut dan Risiko?

Ini Bahaya Lemak Perut dan Risiko is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ini Bahaya Lemak Perut dan Risiko matter?

Ini Bahaya Lemak Perut dan Risiko matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.