Ketika Ponpes Daarul Istiqoomah Cileungsi Bekali Santri dengan Ilmu Jurnalistik
Beritabaru1.com – DIMAS yang duduk di barisan depan terlihat menunjukkan ketertarikannya terhadap dunia jurnalistik. Dia dan dan teman-teman santri lainnya tampak fokus menyimak paparan yang disampaikan pemateri, Direktur Pemberitaan Media Indonesia , Abdul Kohar. Bahkan Dimas bereaksi cepat menjawab dan menyampaikan pendapatnya.
Suasananya begitu santai, terlihat berbeda dari kegiatan workshop pada umumnya. Santriwan (santri laki-laki) duduk bersila di barisan depan. Di bagian belakang duduk santriwati (santri perempuan).
Mereka duduk di lantai dengan alas karpet. Di bagian samping duduk para pengasuh yang juga menjadi peserta. Begitu gambaran workshop yang digelar Pondok Pesantren Daarul Istiqoomah di Aula KBIHU Daarul Istiqoomah, Rabu (19/8), di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Seperti penuturan Ketua Yayasan Daarul Istiqoomah, KH Fikri Halfia Ramadlan, pihaknya mengisi kegiatan ekstrakulikuler para santrinya dengan belajar memahami jurnalistik. Belajar menulis dengan benar dan baik dan dunia jurnalistik secara keseleuruhan. "Alhamdulillah Haji Kohar mau memberikan pembekalan pada santri agar santri bisa mengembangkan ilmu dalam hal karya tulis, terkait penulisan jurnalistik." Dia menyebut menulis itu senjata dan bisa menjadi senjata yang tajam jadi harus dilakukan dengan benar untuk menyebarkan kebaikan.
Terlebih di era digital dan media sosial (medsos). "Mudah-mudahan dari sini, nantinya para santri bisa memberikan kebaikan, menjadi jembatan yang bisa bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya. Dia menyebut, dalam kegiatan ekstra ini, bukan hanya diikuti santrinya saja, tapi juga para pengasuh.
Untuk santri yang ikut Adalah santri siswa kelas menengah atas. Tujuan utamanya agar para santri mempunyai bekal ilmu jurnalistik, yang untuk saat ini bisa diterapkan di sekolah melalui karya seni, menulis untuk media papan dinding sekolah dan bermedia sosial. Sementara itu, Workshop Jurnalistik yang bertema Meningkatkan Kompetensi Menulis : Menginspirasi dan Menyebarkan melalui Karya Jurnalistik itu dilakukan dengan cara berinteraksi dan langsung praktik.
Abdul Kohar menyampaikan materinya dengan cara membagikan pengalaman-pengalamannya selama menjadi wartawan, bagaimana menggali informasi, menganalisa data, menulis dengan segala perjuangannya di berbagai kondisi. "Tujuannya untuk mengajak yang ada di sini memahami jurnalistik. Belajar menulis supaya hal-hal baik bisa disebarkan.
Karena ilmu tidak cukup hanya dipelajari, tapi diamalkan," katanya. Dia menyebutkan bahwa di Al-Qur'an dan hadist pun diajari untuk mengenal berita, mengenal bagaimana membagikan dan menyebarkan ilmu. Dalam Al-Qur'an, Surat Al-Hujurat ayat 6, lanjutnya, berisi perintah kepada orang-orang beriman untuk melakukan tabayyun (meneliti, mengecek, atau memverifikasi kebenaran) setiap berita atau informasi yang dibawa oleh orang fasik agar tidak mencelakakan orang lain dan menimbulkan penyesalan.
" Tabayyun , periksalah, verifikasi, jangan ditelan mentah-mentah. Saring sebelum di- sharing kalau di medsos," katanya. Dari hadist, Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa ilmu kalau tidak disebarkan akan mati.
Termasuk ilmu jurnalistik. "Ilmu itu untuk diajari dan diamalkan. Tergerak oleh itu saya hadir.
Namanya memahami jurnalistik," tuturnya. Di hadapan para santri, Abdul Kohar menjelaskan, jurnalistik berawal dari zaman Romawi Kuno atau istilah Romawi Kuno Acta Diurna , yang berarti papan pengumuman harian. "Dulu informasi tentang sidang, catatan keseharian masyarakat ditempel, makanya namanya Diurna.
Kalau dari Bahasa Inggris itu general, umum. Tapi kalau tahu semuanya, hanya kulitnya saja." Jadi, lanjutnya, kegiatan yang disebut dengan jurnalistik atau berita, adalah meliput, mencari, menggali, mengumpulkan informasi, fakta, kejadian, dokumen, laporan, untuk ditulis, dilaporkan di televisi kepada masyarakat. "Jurnalistik bukan gibah.
Buktinya, informasinya harus diteliti dan tujuannya untuk kepentingan masyarakat. Wilayah rumah tangga, wilayah privat kami menyebutnya, itu sebetulnya bukan kegiatan jurnalistik," paparnya. Tujuan jurnalistik, jelasnya, mengubah fakta menjadi informasi berguna.
Mengubah fakta mentah menjadi berita yang jelas, informatif, dan relevan untuk kebutuhan publik. Kemudian memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam membuat keputusan dengan memberikan informasi objektif dan komprehensif. Jurnalistik, lanjutnya, bukan hanya sekadar menulis.
Ada proses penting di balik penulisan berita. Harus ada perencanaan, pengumpulan data, penulisan, editing , dan pengecekan fakta secara sistematis. Ada juga peran penting lainnya yaitu verifikasi dan penyuntingan.
Ini adalah kegiatan memastikan keakuratan, kejelasan, kredibilitas berita sebelum dipublikasikan. "Jadi menulis berita yang akurat dan jelas itu harus konfirmasi, klarifikasi untuk memperjelas dan verifikasi dengan datang langsung ke tempat kejadian," tutupnya. Sementara itu, Ponpes Daarul Istiqoomah Cileungsi memiliki sejarah panjang sebelum menjadi sekolah terpadu seperti sekarang.
Daarul Istiqoomah berdiri sejak 1986 dalam bentuk pondok pesantren, tanpa sekolah formal. Para santri bersekolah di luar. Namun, ponpes yang kini dipimpin KH Fikri Halfia Ramadlan terus berkembang.
Ponpes ini kini memiliki fasilitas pendidikan formal mulai dari TK, SMP, SMA, Madrasah Diniyah, dan bahkan kini memiliki fasilitas bimbingan haji dan umrah atau Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). (DD/E-4)
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Ketika Ponpes Daarul Istiqoomah Cileungsi Bekali?Ketika Ponpes Daarul Istiqoomah Cileungsi Bekali is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Ketika Ponpes Daarul Istiqoomah Cileungsi Bekali matter?Ketika Ponpes Daarul Istiqoomah Cileungsi Bekali matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.