Beritabaru1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Terapi Hormon Estrogen Bantu Turunkan Risiko Demensia pada Perempuan

Published Agustus 15, 2026 · Updated Agustus 15, 2026 · By Matthew Martin - beritabaru1.com

Foto : Matthew Martin - beritabaru1.com

Estrogen Menurunkan Ancaman Demensia pada Wanita Lanjut Usia

Beritabaru1.com – Wanita yang menjalani terapi hormon berbasis estrogen menunjukkan peluang lebih kecil untuk menderita demensia. Temuan ini berasal dari kajian ilmiah yang melibatkan lebih dari dua puluh satu ribu partisipan. Jurnal Neurology memuat hasil penelitian tersebut pada tanggal 12 Agustus 2026. Data menunjukkan penurunan risiko diagnosis demensia sebesar 39 persen bagi para pengguna terapi hormon.

Selain itu, pemeriksaan autopsi mengungkapkan bahwa otak perempuan yang mengonsumsi terapi hormon memiliki lebih sedikit perubahan terkait penyakit Alzheimer. Penumpukan plak amiloid serta kekusutan protein tau (tau tangles) ditemukan dalam jumlah lebih kecil. Hasil tes biomarker juga mengonfirmasi hal serupa mengenai akumulasi amiloid di dalam otak.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini didukung oleh National Institute on Aging dan menganalisis informasi medis dari dua kumpulan data besar. Sebanyak 21.462 perempuan menjadi subjek kajian. Mereka dipantau selama periode tiga hingga lima tahun dengan usia rata-rata awal sebesar 71 tahun. Dari jumlah tersebut, 728 partisipan menjalani pemindaian otak atau tes biomarker saat masih hidup. Sementara itu, 2.959 partisipan menjalani autopsi setelah meninggal dunia pada usia rata-rata 82 tahun untuk memeriksa bukti fisik penyakit Alzheimer.

Dari seluruh partisipan, sebanyak 1.953 perempuan menggunakan terapi hormon yang dimulai setelah usia 70 tahun. Sisanya, yaitu 19.509 perempuan, tidak menggunakan terapi tersebut. Analisis ini secara khusus menitikberatkan pada terapi berbasis estrogen. Hal ini karena studi sebelumnya menunjukkan bahwa kombinasi estrogen dan progestin dapat meningkatkan risiko demensia. Dalam praktik medis kontemporer, terapi hormon estrogen saja umumnya hanya diresepkan untuk perempuan yang telah menjalani pengangkatan rahim guna menghindari risiko kanker endometrium.

Hasil Otopsi dan Biomarker

Pada kelompok partisipan yang otaknya diperiksa setelah meninggal dunia, perempuan yang pernah menggunakan terapi hormon menunjukkan tingkat kerusakan otak yang lebih rendah. Sebanyak 18 persen perempuan pengguna terapi hormon tidak memperlihatkan tanda-tanda Alzheimer saat diautopsi, dibandingkan dengan 10 persen pada kelompok non-pengguna. Sebaliknya, 40 persen pengguna terapi hormon menunjukkan tiga penanda utama Alzheimer (plak amiloid-beta, kekusutan tau, dan plak neuritik), sementara pada kelompok non-pengguna angkanya mencapai 51 persen.

Setelah memperhitungkan faktor usia, tingkat pendidikan, genetik, ras, dan hipertensi, terapi hormon tetap dikaitkan dengan 35 persen lebih rendahnya kemungkinan tanda-tanda Alzheimer saat autopsi. Tes biomarker darah dan cairan tulang belakang semasa hidup juga menunjukkan bahwa pengguna terapi hormon mengalami lebih sedikit penumpukan plak amiloid di otak. Selain penurunan risiko demensia klinis sebesar 39 persen, para pengguna terapi hormon ini juga lebih sedikit mengalami masalah daya ingat maupun penurunan fungsi organ sehari-hari.

Keterbatasan dan Kesimpulan

Peneliti memberi catatan usia penggunaan terapi hormon dalam studi ini kurang sesuai dengan standar modern. Partisipan penelitian memulai terapi pada usia rata-rata 70 tahun, sedangkan standar medis saat ini umumnya menyarankan terapi hormon dimulai pada usia akhir 40-an hingga awal 50-an dan dihentikan sebelum usia 60 tahun.

Meskipun temuan ini membantu kita memahami secara lebih baik hubungan antara penggunaan terapi hormon dan berbagai penanda demensia, penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan sebelum kita dapat memberikan rekomendasi kepada para perempuan mengenai penggunaan terapi ini terkait kesehatan otak mereka.

Kutipan tersebut disampaikan oleh penulis studi, Jennifer Bruno, PhD, dari Stanford Medicine di Stanford, California. Bruno menambahkan bahwa penelitian ini melihat kembali data perempuan yang menggunakan terapi hormon beberapa dekade lalu dengan waktu dan jenis penggunaan yang berbeda dari praktik medis saat ini. Oleh karena itu, hasilnya bersifat informatif tetapi mungkin tidak sepenuhnya berlaku untuk standar medis masa kini.

Terlepas dari keterbatasan ini, temuan kami memberikan bukti adanya hubungan antara penggunaan terapi hormon khusus estrogen pada usia lanjut dengan hasil kesehatan otak dan demensia yang lebih baik.

Kendati demikian, para peneliti menegaskan hasil ini hanya menunjukkan hubungan korelasi dan tidak membuktikan terapi hormon secara langsung dapat mencegah demensia. (Science Daily/Z-2)

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Terapi Hormon Estrogen Bantu Turunkan Risiko?

Terapi Hormon Estrogen Bantu Turunkan Risiko is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Terapi Hormon Estrogen Bantu Turunkan Risiko matter?

Terapi Hormon Estrogen Bantu Turunkan Risiko matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.