Beritabaru1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Lestarikan Budaya Sunda, Bale Rumawat Unpad Menggelar Pentas Ngaderes Cianjuran

Published Agustus 14, 2026 · Updated Agustus 14, 2026 · By Michael Gonzalez - beritabaru1.com

Foto : Michael Gonzalez - beritabaru1.com

Pentas Ngaderes Cianjuran: Lestarikan Budaya Sunda Bale Rumawat Unpad

Regenerasi Seni Sunda Lewat Pagelaran Ka-110

Beritabaru1.com – Upaya untuk lestarikan budaya Sunda terus digalakkan melalui berbagai kegiatan budaya. Salah satunya adalah Pagelaran Bale Rumawat ke-110 yang diselenggarakan oleh Universitas Padjadjaran. Acara ini menjadi wadah penting bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai kesenian tradisional Sunda. Prof. Ganjar, Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad, menyampaikan pandangannya saat pentas berlangsung di Kampus Universitas Padjadjaran, Bandung, pada Jumat (14/8).

"Sulit untuk mengatakan perkembangan budaya Sunda dalam kondisi memprihatinkan. Yang saya lihat, kita banyak melakukan seminar, diskusi yang isinya mengeluhkan kondisi pelestarian kebudayaan Sunda," jelasnya.

Menurut Prof. Ganjar, hal yang lebih krusial adalah tindakan nyata, bukan sekadar berbicara. Seminar dan diskusi yang hanya berisi keluhan tanpa aksi nyata dianggap sebagai penyakit. Yang terpenting adalah melangkah dan melakukan upaya konkret agar kesenian Sunda tidak terlupakan. Pusat Budaya Sunda Unpad berupaya keras untuk terus menggelar pentas kesenian Sunda secara berkala.

"Pusat Budaya Sunda Unpad berupaya keras untuk terus menggelar pentas kesenian Sunda. Kali ini yang ke-110. Tidak bisa terlalu sering, karena memang harus memikirkan pendanaannya," tambah mantan Rektor Unpad itu.

Prof. Ganjar juga mengajak para seniman untuk tidak selalu memikirkan upah saat mengikuti pentas yang bersifat apresiatif. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bisa dianggap seperti latihan yang dipindahkan dari rumah atau sanggar ke tempat yang lebih luas dan diapresiasi banyak orang. Pendekatan ini membantu membangun komunitas seni yang lebih solid.

Generasi Muda dan Tantangan Seni Sunda

Rizal Tri Lasuar, siswa SMKN 10 Bandung sekaligus seniman tembang Sunda, mengakui bahwa jumlah penggemar dan pelaku seni Sunda masih terbatas. Generasi muda cenderung enggan menekuni bidang ini karena tingkat kesulitannya yang tinggi. Namun, ada harapan baru dari generasi muda yang mulai tertarik dengan tembang Sunda.

"Ada juga yang suka, tapi jumlahnya sendiri. Kebanyakan pelaku dan penikmat seni Sunda ialah orang tua. Regenerasi ada, tapi tidak banyak," tandasnya.

Rizal berharap dengan perhatian lebih dari tokoh Sunda dan generasi muda, kesenian Sunda bisa tetap lestari. Ia menekankan bahwa tembang Sunda memiliki keunikan tersendiri yang harus dijaga. Untuk terjun ke dunia seni Sunda, Rizal mengaku mendapat dukungan penuh dari keluarga. "Saya senang dan mendapat dukungan lingkungan, terutama orangtua," ujarnya.

Ngaderes Cianjuran: Perjalanan Seni dari Abad 19 hingga 21

Pentas Bale Rumawat Universitas Padjadjaran ke-110 kali ini mengangkat tema "Ngaderes Cianjuran". Acara ini diselenggarakan di Aula Graha Sanusi, Jl Dipatiukur 35 Bandung. Pergelaran ini menceritakan perjalanan seni cianjuran yang dimulai dengan munculnya kawih Papantunan dan Jejemplangan pada paruh kedua abad ke-19.

Kemudian berkembang menjadi Tembang Rarancagan dan Dedegungan di awal abad ke-20, dilanjutkan dengan Kawih Kakawen dan Kawih Panambih pada dekade 1920-an hingga 1930-an, hingga perkembangannya di abad ke-21. Perkembangan ini menunjukkan bahwa seni cianjuran terus beradaptasi dengan zaman.

Pementasan ini menampilkan para pangawih generasi muda untuk menunjukkan bahwa seni cianjuran masih diminati oleh kawula muda yang masih duduk di bangku SMA dan perguruan tinggi. Para pangawih muda tersebut antara lain Fika Zaskia dari SMA 1 Bandung, Haidar Rasyiddanallah dari SMA 11 Bandung, dan Riza Tri Lazuar dari SMKN 10 Bandung.

Pentas ini juga diperkuat oleh para pangawih cianjuran yang pernah menjuarai pasanggiri Cianjuran Damas serta para finalis dalam berbagai pasanggiri. Di antara mereka ialah Taufik Mukariman, Sony Riza Windyagiri, Sri Ningsih, GJ Setra, Arif Budiman, Arif Rachman Hakim, Puji Puspita, dan Inten Kumala.

Sementara para pangawih senior yang turut tampil adalah Hery Siheryanto, Elis Rosliani, Mae Nurhayati, Ani Sukmawati, Rosyanti, Mustika Iman, serta Dedah Tajudin. Kehadiran mereka memberikan warna tersendiri dalam pentas kali ini.

Selain pementasan kawih Cianjuran, acara tersebut juga mengundang tokoh cianjuran HD Bastaman untuk menerima apresiasi dari Pusat Budaya Sunda. Tokoh ini dikenal setia memelihara, merawat, serta mengembangkan pemikiran cianjuran yang telah diwujudkannya dalam sebuah buku berjudul "Katumbiri Tembang Sunda".

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pentas Ngaderes Cianjuran

Apa itu Ngaderes Cianjuran? Ngaderes Cianjuran adalah bentuk seni tembang Sunda yang berasal dari daerah Cianjur dan telah berkembang sejak abad ke-19.

Di mana lokasi pentas Bale Rumawat ke-110? Pentas diselenggarakan di Aula Graha Sanusi, Jl Dipatiukur 35 Bandung.

Siapa saja yang tampil dalam pentas ini? Tampil para pangawih muda dari SMA dan perguruan tinggi, serta para pangawih senior dan tokoh cianjuran.

Berapa kali Pagelaran Bale Rumawat telah diselenggarakan? Pagelaran Bale Rumawat telah diselenggarakan sebanyak 110 kali sejak pertama kali dimulai.

Apa tujuan utama dari pentas ini? Tujuan utamanya adalah untuk melestarikan budaya Sunda dan mendorong regenerasi generasi muda dalam seni tembang Sunda.

Related Reading