Beritabaru1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Ekowisata Harus Berkontribusi bagi Konservasi Lingkungan Bali

Published Agustus 15, 2026 · Updated Agustus 15, 2026 · By Michael Gonzalez - beritabaru1.com

Foto : Michael Gonzalez - beritabaru1.com

Ekowisata dan Pertanian: Kunci Konservasi Lingkungan Bali di Tengah Perubahan Iklim

Beritabaru1.com – Perkembangan ekowisata di Bali tidak boleh hanya menjadi alat pemasaran atau komodifikasi keindahan alam semata demi keuntungan ekonomi jangka pendek. Sebaliknya, sektor ini harus memberikan kontribusi nyata dan berkelanjutan bagi konservasi lingkungan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Prof. Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Shri Kesari Warmadewa, saat membuka International Conference on Agricultural Innovation and Ecotourism Environment (CAITEC 2026) pada hari Jumat, tanggal 14 Agustus, di kawasan Sanur, Bali.

Konferensi bertema "Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Ecotourism Practices in the Issue of Climate Change" ini diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa sebagai penyelenggara utama. Kolaborasi ini juga melibatkan beberapa perguruan tinggi sebagai co-host, yakni Institut Teknologi dan Kesehatan Bali, Universitas Dhyana Pura, Universitas Markandeya, Universitas Dwijendra, serta Universitas Pelita Bangsa.

Integrasi Konservasi dalam Pariwisata dan Pertanian

Prof. Wisnumurti menekankan perlunya mengintegrasikan prinsip-prinsip konservasi ke dalam pariwisata berbasis lingkungan dan sistem pertanian lokal. Di tengah ancaman perubahan iklim global yang semakin nyata, sektor ekowisata dan pertanian berkelanjutan harus berjalan selaras untuk menopang ketahanan pangan sekaligus menjaga daya dukung ekosistem pulau Bali.

"Ekowisata dan pertanian adalah dua sektor vital yang saling menopang. Pengembangan ekowisata harus berakar pada pemeliharaan kelestarian alam dan kebudayaan, sehingga mampu memberikan manfaat ekologis yang terukur serta berdampak langsung pada penguatan ekonomi masyarakat," paparnya di hadapan para akademisi, peneliti, dan praktisi internasional yang hadir.

Forum CAITEC 2026 menjadi ruang strategis bagi para peneliti dari berbagai negara dan lembaga perguruan tinggi mitra untuk merumuskan ide, inovasi teknologi pertanian, serta model tata kelola ekowisata yang adaptif terhadap perubahan iklim. Melalui kolaborasi lintas akademisi dan perguruan tinggi ini, hasil perumusan dari CAITEC 2026 diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana akademis belaka, melainkan dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan praktik nyata di lapangan demi menjaga keberlanjutan lingkungan Bali dan dunia.

Regulasi dan Kearifan Lokal dalam Pengembangan Pertanian

Sementara itu, Prof. Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha, anggota Kelompok Ahli Gubernur Bali, menegaskan pentingnya arah kebijakan dan regulasi pengembangan pertanian berkelanjutan yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal Bali, Sad Kerthi.

"Pengembangan sistem pertanian organik di Bali tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai dan kualitas produk pertanian, tetapi juga menjaga ekosistem alam serta keanekaragaman hayati. Hal ini diatur secara tegas melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2019 tentang Sistem Pertanian Organik," paparnya.

Prof. Suryawan juga menyoroti komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam mengendalikan alih fungsi lahan produktif melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2026, yang melarang alih fungsi lahan produktif untuk fasilitas usaha pariwisata dan properti demi menjaga kelestarian Subak dan mewujudkan kedaulatan pangan. Selain itu, perlindungan terhadap sumber-sumber air seperti danau, mata air, sungai, dan laut turut diperkuat lewat Peraturan Gubernur Bali Nomor 24 Tahun 2020.

Tantangan Konservasi Modern: Shifting Baseline Syndrome

Pada kesempatan yang sama, Associate Professor Michael van Keulen, Dekan Fakultas Ilmu Lingkungan dan Konservasi Universitas Murdoch, menyoroti tantangan mendasar dalam konservasi lingkungan modern, yaitu fenomena shifting baseline syndrome (sindrom pergeseran garis dasar). Menurut Mike van Keulen, sains modern kerap mengalami masalah ingatan (memory problem), yakni data ilmiah terukur hanya tersedia untuk rentang waktu kurang lebih 100 tahun terakhir.

Padahal, dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem laut telah berlangsung jauh lebih lama. Hal ini menyebabkan setiap generasi ilmuwan dan masyarakat menetapkan standar "kondisi alamiah/normal" yang terus menurun dibandingkan kondisi aslinya.

"Jika kita melupakan kondisi awal ekosistem yang sebenarnya, kita berisiko menetapkan target konservasi dan pemulihan lingkungan yang salah atau terlalu rendah (inappropriate targets)," tegas van Keulen.

Lebih lanjut, ia memperingatkan bahaya creeping normality atau normalisasi terhadap lingkungan yang sudah rusak, serta sikap puas diri (conservation complacency) yang memb

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Ekowisata Harus Berkontribusi bagi Konservasi Lingkungan?

Ekowisata Harus Berkontribusi bagi Konservasi Lingkungan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ekowisata Harus Berkontribusi bagi Konservasi Lingkungan matter?

Ekowisata Harus Berkontribusi bagi Konservasi Lingkungan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.