Beritabaru1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Jelang Muktamar NU di Jombang, KH Asep Saifuddin Chalim Kritik Keras: NU Seolah Dikendalikan Oknum Muda

Published Agustus 12, 2026 · Updated Agustus 12, 2026 · By Michael Gonzalez - beritabaru1.com

Foto : Michael Gonzalez - beritabaru1.com

Jelang Muktamar NU di Jombang, KH Asep Saifuddin Chalim Kritik Oknum Muda

Beritabaru1.com – Jelang Muktamar NU di Jombang, suara kritik keras kembali menggema di kalangan pesantren dan umat Islam Indonesia. Pengurus Pusat Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) melalui Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim menyampaikan kekhawatiran serius terkait arah organisasi Nahdlatul Ulama. Menurut Kiai Asep, NU seolah-olah sedang dikendalikan oleh sejumlah oknum muda yang bergerak semata-mata sesuai kehendak pribadi mereka tanpa mengindahkan nilai-nilai khittah organisasi.

Ungkapan tersebut disampaikan ketika Kiai Asep menjadi narasumber utama dalam Dialog Publik bertema "Transformasi dan Reorientasi Kepemimpinan Nahdlatul Ulama Abad II". Acara yang berlangsung di Aula JKSN Surabaya pada Rabu (12/8) ini diselenggarakan berkat kerja sama erat dengan Jurnalis Pokja Grahadi. Agenda strategis ini hadir tepat sebelum perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, pada akhir Agustus 2026 mendatang.

Keprihatinan atas Dinamika Internal NU

Ketua Umum JKSN ini menilai bahwa Muktamar mendatang harus menjadi titik balik penting untuk mengembalikan kepemimpinan organisasi kepada khittah aslinya. Kiai Asep juga menyoroti keprihatinannya terhadap dinamika internal NU dalam beberapa periode terakhir yang dinilai kurang mencerminkan semangat kekeluargaan dan musyawarah.

Hari ini menjadi keprihatinan kita bersama. Dalam tiga kali Muktamar terakhir, Nahdlatul Ulama seolah dikendalikan oleh oknum-oknum muda yang bergerak berdasarkan kehendak pribadi semata. Banyak kezaliman yang terjadi dalam proses pengambilan keputusan organisasi.

Menurutnya, tiga pelaksanaan Muktamar sebelumnya dinilai telah mencederai marwah organisasi karena praktik penataan kepemimpinan yang kurang berintegritas. Atas dasar itu, ia mendesak perlunya transformasi total serta reorientasi kepemimpinan agar organisasi ini kembali dipimpin oleh figur-figur yang memiliki kearifan, integritas tinggi, dan keberpihakan pada nilai dasar NU.

Mengenang Sejarah Panjang Berdirinya NU

Dalam pemaparannya, KH. Asep mengajak para hadirin untuk menengok kembali sejarah panjang berdirinya NU yang tidak terlepas dari simpul perjuangan melawan penjajahan Belanda. Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Nusantara, bahkan jauh sebelum lahirnya Boedi Oetomo. Sebagai contoh, Ponpes Tambakberas Jombang diperkirakan telah berdiri dan mengabdi selama hampir dua abad penuh.

Lembaga pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan kesadaran akan kemerdekaan dan penolakan terhadap perbudakan serta mengalami transformasi gerakan. Awalnya, perlawanan para kiai bergerak secara parsial sehingga mudah dipatahkan. Menyadari hal tersebut, para ulama seperti KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Mas Alwi, KH. Ridwan Abdullah, KH. Abdul Chalim, KH. Mas Nawawi Sidogiri, dan KH. Zubair sepakat membentuk wadah pergerakan terorganisir.

Konsolidasi tersebut diawali dengan pendirian Nahdlatul Wathan pada tahun 1916 di Surabaya, yang mendidik 65 kader muda pilihan (putra kiai dan tokoh). Para santri ini digembleng oleh ulama lulusan Mekah dan Mesir serta dibakar semangatnya melalui mars pergerakan Ya Lal Wathan, yang kini menjadi himne resmi NU.

Perjuangan tersebut berlanjut hingga pembentukan Komite Hijaz sebagai diplomasi internasional ulama Nusantara Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), serta penunjukan KH. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar PBNU pertama untuk memimpin gerakan besar ini. Puncaknya, kekuatan jaringan pesantren ini terbukti ampuh dalam mempertahankan kemerdekaan melalui pengerahan massa pada peristiwa Resolusi Jihad.

Dua Pilar Utama NU

Kiai Asep mengingatkan bahwa NU didirikan di atas dua pilar utama. Yaitu Pilar Kebangsaan yang bertujuan menjaga kesatuan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Kedua, Pilar Keagamaan dengan tujuan menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang inklusif, moderat, dan rahmatan lil 'alamin.

Regenerasi kepemimpinan melalui Muktamar seharusnya menjaga amanah sejarah tersebut. Oleh karena itu, penyimpangan, kecurangan, dan kezaliman dalam proses berorganisasi harus dihentikan demi menjaga kejayaan NU di abad kedua.

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Muktamar NU

Apa itu Muktamar NU? Muktamar NU adalah kongres tertinggi Nahdlatul Ulama yang diadakan setiap lima tahun sekali untuk memilih pengurus pusat dan membahas kebijakan organisasi.

Di mana lokasi Muktamar NU 2026? Muktamar ke-35 NU akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada akhir Agustus 2026.

Siapa saja tokoh yang dikritik KH Asep Saifuddin Chalim? Kiai Asep mengkritik oknum-oknum muda yang dinilai mengendalikan NU tanpa mengindahkan nilai-nilai khittah organisasi dalam tiga Muktamar terakhir.

Berapa kali NU mengadakan Muktamar sejak berdiri? Muktamar ke-35 akan menjadi perhelatan ke-35 dalam sejarah NU yang didirikan pada tahun 1926.

Apa dua pilar utama NU? Dua pilar utama NU adalah Pilar Kebangsaan untuk menjaga kesatuan Indonesia dan Pilar Keagamaan untuk menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah.

Related Reading