Beritabaru1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pertanian Regeneratif Jadi Upaya Selamatkan Kunang-Kunang di Desa Taro

Published Agustus 14, 2026 · Updated Agustus 14, 2026 · By Michael Jones - beritabaru1.com

Foto : Michael Jones - beritabaru1.com

Konservasi Kunang-Kunang Melalui Pendekatan Pertanian Regeneratif di Desa Taro

Beritabaru1.com – Konservasi biodiversitas di Bali semakin mendapat perhatian serius, khususnya upaya pelestarian kunang-kunang di wilayah Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Langkah strategis ini mengadopsi model pertanian regeneratif yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal. Strategi ini dirancang untuk melindungi habitat serangga tersebut dari ancaman alih fungsi lahan serta dampak negatif penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan. Dengan pendekatan holistik ini, ekosistem alami dapat pulih secara bertahap.

Program ini diimplementasikan melalui mekanisme Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Warmadewa. Proses pendampingan bersama Kelompok Petani Organik Tegal Dukuh, Desa Taro, telah berlangsung sejak tanggal 24 Mei hingga 8 Agustus 2026. Selama periode tersebut, tim pengabdi melakukan pendampingan intensif kepada petani lokal.

Kunang-Kunang sebagai Bioindikator Lingkungan

Desak Ketut Tristiana Sukmadewi, yang menjabat sebagai Ketua Tim Pengabdi sekaligus akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, menjelaskan pentingnya peran kunang-kunang dalam menilai kesehatan lingkungan. Serangga ini sangat sensitif terhadap perubahan kualitas tanah dan air.

"Kunang-kunang adalah bioindikator alami. Ketika ekosistem tanah dan air tercemar pestisida, populasi mereka akan merosot tajam," kata Desak saat dikonfirmasi di Denpasar, Kamis (13/8).

Menurutnya, pendekatan pertanian regeneratif tidak sekadar bertujuan memulihkan kesuburan tanah dan menekan biaya produksi, namun juga membangun kawasan penyangga yang kondusif bagi habitat kunang-kunang. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan di Bali.

Implementasi Program di Lapangan

Tahap awal program dimulai dengan pengumpulan data dasar kondisi biofisik tanah melalui uji laboratorium. Pemeriksaan mencakup analisis pH tanah, kandungan bahan organik, unsur hara NPK, Kapasitas Tukar Kation (KTK), residu pestisida, serta keanekaragaman mikroba tanah. Informasi tersebut menjadi acuan penerapan Soil Health Index untuk pemantauan berkala lahan setiap enam bulan sekali.

Tim juga menyiapkan demplot seluas 1.000 meter persegi sebagai area pembelajaran bagi petani. Di lokasi tersebut, para petani menerima pendampingan terkait budidaya ramah lingkungan, pengurangan input kimia minimal 30 persen, pembuatan pupuk organik, serta pengendalian hama berbasis hayati. Pendekatan ini terbukti efektif meningkatkan hasil panen.

"Kami tidak hanya mengajak petani beralih ke praktik ramah lingkungan secara intuitif, tetapi membuktikannya lewat kalkulasi data ilmiah dan analisis biaya usaha tani," ujar Desak. Hasilnya, petani dapat melihat langsung manfaat ekonomi dari perubahan metode bertani.

Masterplan Kawasan Konservasi

Selain fokus pada perbaikan kualitas tanah, program ini juga menyusun masterplan kawasan konservasi yang mengintegrasikan arsitektur lanskap adaptif. Desain kawasan pertanian dan konservasi Desa Taro dibagi menjadi tiga zona utama, yaitu zona inti habitat, zona penyangga, dan zona pertanian regeneratif. Pembagian zona ini memastikan keseimbangan antara aktivitas manusia dan pelestarian alam.

Kolaborasi antara akademisi, kelompok petani, serta dukungan pendanaan riset terapan diharapkan dapat menjadikan Desa Taro sebagai percontohan konservasi berbasis masyarakat. Program ini juga menargetkan peningkatan ketahanan kawasan terhadap perubahan iklim serta mendukung pengembangan ekowisata di Bali. Untuk informasi lebih lanjut, pembaca dapat mengunjungi [artikel terkait pertanian Bali](https://mediaindonesia.com/nusantara).

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Program Konservasi

Apa itu pertanian regeneratif? Pertanian regeneratif adalah sistem pertanian yang bertujuan memulihkan kesehatan tanah, meningkatkan biodiversitas, dan mengurangi emisi karbon melalui praktik berkelanjutan.

Mengapa kunang-kunang penting untuk konservasi? Kunang-kunang berfungsi sebagai bioindikator alami yang menunjukkan kesehatan ekosistem tanah dan air. Penurunan populasi mereka menandakan adanya pencemaran lingkungan.

Berapa lama program ini berlangsung? Program pendampingan telah berlangsung sejak 24 Mei hingga 8 Agustus 2026, dengan pemantauan berkala setiap enam bulan sekali menggunakan Soil Health Index.

Bagaimana cara petani mengurangi penggunaan kimia? Petani didorong untuk mengurangi input kimia minimal 30 persen melalui pembuatan pupuk organik dan pengendalian hama berbasis hayati yang telah dibuktikan efektivitasnya.

Apa manfaat ekonomi bagi petani? Selain meningkatkan hasil panen, petani mengalami pengurangan biaya produksi karena penggunaan pupuk kimia yang lebih efisien dan peningkatan nilai jual produk organik.

(E-2)

Related Reading