PTPN III dan Unila Perkuat Pengembangan Ubi Kayu untuk Ketahanan Pangan dan Energi
PTPN III dan Unila Perkuat Pengembangan Ubi Kayu
Beritabaru1.com – PTPN III dan Unila Perkuat sinergi strategis dalam pengembangan ubi kayu sebagai komoditas unggulan untuk ketahanan pangan dan energi nasional. Penandatanganan nota kesepahaman resmi dilakukan di Bandar Lampung pada Rabu, 12 Agustus, dengan kehadiran Denaldy Mulino Mauna sebagai Direktur Utama PTPN III dan Lusmeilia Afriani sebagai Rektor Universitas Lampung. Kolaborasi ini menandai langkah konkret dalam mengoptimalkan potensi ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol yang berkelanjutan.
Empat pilar utama menjadi fondasi kerjasama ini, meliputi pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan pengembangan sumber daya manusia. Fokus pengembangan tertuju pada riset varietas unggul, peningkatan produktivitas lahan, pendampingan budidaya petani, serta dukungan teknis untuk menjadikan ubi kayu sebagai bahan baku bioetanol yang andal. Langkah ini sejalan dengan visi nasional untuk diversifikasi sumber energi terbarukan.
Peran National Cassava Center dalam Kolaborasi
Denaldy Mulino Mauna menekankan bahwa keberadaan National Cassava Center di kampus Universitas Lampung menjadi aset strategis bagi PTPN III. Pusat pengembangan ubi kayu ini menjadi pusat riset dan inovasi yang mendukung program pengembangan komoditas secara holistik.
"Kolaborasi ini sejalan dengan penugasan yang kami emban untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional melalui pengembangan komoditas strategis. Universitas Lampung memiliki keunggulan yang sangat relevan melalui National Cassava Center," ujar Denaldy Mulino Mauna.
Pengembangan ubi kayu akan diarahkan untuk mendukung industri bioetanol secara berkelanjutan. Penggunaan ubi kayu sebagai bahan baku diharapkan dapat melengkapi pasokan energi tanpa mengganggu program swasembada gula yang mengandalkan tebu sebagai bahan utamanya. Sinergi ini membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi berbasis komoditas lokal.
Target Produksi dan Inovasi Teknologi Mukibat
PTPN III dan Unila berkomitmen mengembangkan varietas ubi kayu dengan produktivitas dan kadar pati tinggi. Inovasi sistem tanam Mukibat menjadi salah satu teknologi yang dikaji secara intensif. Berdasarkan data dari Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Malang, metode stek sambung ini berpotensi meningkatkan produksi hingga 65,1 persen serta kadar pati sebesar 52,4 persen dibandingkan teknik konvensional.
Lampung telah menjadi salah satu wilayah utama dalam pengembangan ubi kayu di Indonesia. Data Dinas Pertanian Provinsi Lampung mencatat bahwa produksi ubi kayu di provinsi tersebut pada tahun 2025 mencapai 7,52 juta ton. Angka ini mewakili sekitar 45,9 persen dari total produksi nasional yang mencapai 16,4 juta ton, menunjukkan dominasi Lampung dalam sektor ini.
PTPN III menargetkan pengembangan lahan ubi kayu seluas 10.000 hektare di wilayah Lampung. Produktivitas lahan ditargetkan meningkat dari rata-rata 20 ton menjadi 30 hingga 60 ton per hektare. Pengembangan ini akan dilakukan melalui penyediaan varietas unggul, penerapan Good Agricultural Practices berbasis riset, serta pendampingan budidaya secara intensif kepada petani lokal.
Dukungan Pemerintah dan Ekosistem Hilirisasi
PTPN III juga mendorong pembangunan ekosistem hilirisasi hingga pengolahan ubi kayu menjadi bioetanol. Denaldy menjelaskan bahwa dukungan Pemerintah Provinsi Lampung menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan ekosistem tersebut. Termasuk di dalamnya adalah penyiapan lahan untuk pembangunan pabrik bioetanol berbasis ubi kayu yang akan menjadi pusat pengolahan modern.
Sementara itu, Rektor Unila Lusmeilia Afriani menyatakan kesiapan kampus untuk mendukung pengembangan ubi kayu melalui riset dan inovasi yang dimiliki. Ia menilai kolaborasi ini memberikan ruang luas bagi sivitas akademika untuk mengembangkan riset yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
"Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini karena memberikan ruang yang luas bagi sivitas akademika untuk mengembangkan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat," kata Lusmeilia Afriani.
Ia menambahkan bahwa pengembangan ubi kayu untuk bioetanol memiliki potensi ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan dan energi nasional. Melalui kerja sama ini, PTPN III dan Unila menargetkan terbentuknya ekosistem pengembangan ubi kayu yang menghubungkan kampus, industri, dan masyarakat secara holistik.
Pengembangan mencakup riset varietas, peningkatan produktivitas, pendampingan petani, hingga hilirisasi menjadi bioetanol sebagai sumber energi terbarukan yang berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan menjadi model bagi pengembangan komoditas strategis lainnya di masa depan.
Frequently Asked Questions
Apa tujuan utama kerjasama PTPN III dan Unila? Tujuan utamanya adalah mengembangkan ubi kayu sebagai komoditas strategis untuk ketahanan pangan dan energi nasional melalui riset, pendidikan, dan pengembangan teknologi.
Berapa target produksi ubi kayu di Lampung? PTPN III menargetkan pengembangan lahan seluas 10.000 hektare dengan produktivitas meningkat dari 20 ton menjadi 30-60 ton per hektare.
Apa itu sistem tanam Mukibat? Sistem tanam Mukibat adalah metode stek sambung yang berpotensi meningkatkan produksi ubi kayu hingga 65,1 persen dan kadar pati sebesar 52,4 persen.
Berapa kontribusi Lampung terhadap produksi ubi kayu nasional? Lampung berkontribusi sekitar 45,9 persen dari total produksi nasional yang mencapai 16,4 juta ton pada tahun 2025.