Beritabaru1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Perlombaan Antariksa Meningkat, Akankah Bulan Menjadi Tempat Pembuangan Sampah Baru?

Published Agustus 15, 2026 · Updated Agustus 15, 2026 · By Richard Moore - beritabaru1.com

Foto : Richard Moore - beritabaru1.com

Akankah Bulan Jadi Tempat Sampah Baru? Perlombaan Antariksa Meningkat

Beritabaru1.com – Perlombaan Antariksa Meningkat Akankah Bulan Menjadi Tempat Pembuangan Sampah Baru? Permukaan Bulan kembali menjadi saksi peristiwa tabrakan benda buatan manusia yang signifikan. Pada hari Rabu, tanggal 5 Agustus 2026, bagian atas roket Falcon 9 dengan berat mencapai 4.000 kilogram menabrak satelit alami Bumi. Dampak keras tersebut memicu lontaran awan debu regolit yang sangat besar, bahkan bisa diamati langsung dari planet kita. Peristiwa ini menambah deretan panjang artefak manusia yang telah bersarang di Bulan selama puluhan tahun.

Semenjak era awal penjelajahan kosmos, diperkirakan sekitar 200 ton material buatan manusia telah jatuh atau sengaja ditinggalkan di permukaan Bulan. Di antara tumpukan tersebut terdapat benda-benda bersejarah, seperti modul pendarat dari enam misi Apollo, rover Lunokhod dari Uni Soviet yang diluncurkan tahun 1970-an, serta robot Yutu 1 dan 2 karya China. Namun, tidak semua objek sengaja ditempatkan di sana. Banyak pula sisa-sisa roket yang terlantar di orbit antara Bumi dan Bulan lalu jatuh secara tidak sengaja ke permukaan satelit alami kita.

Kekosongan Regulasi Internasional

Jonathan McDowell, seorang ahli astronomi dan sejarawan antariksa, menyoroti risiko yang mengintai akibat meningkatnya intensitas aktivitas luar angkasa. Menurutnya, dunia sedang mengalami masa transisi signifikan dalam sejarah eksplorasi kosmos. Dulu, eksplorasi Bulan didominasi oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet dengan frekuensi yang relatif rendah. Kini, negara-negara baru serta misi komersial mulai mendarat di permukaan Bulan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sayangnya, tata kelola belum mampu mengimbangi laju perkembangan tersebut.

"Kita belum memiliki serangkaian kesepakatan internasional tentang cara beroperasi di sekitar Bulan," jelas McDowell dalam pernyataannya.

Dalam ranah hukum, aktivitas manusia di Bulan merujuk pada Outer Space Treaty Perserikatan Bangsa-Bangsa yang disahkan tahun 1967. Marieta Valdivia Lefort, petugas kebijakan di Royal Astronomical Society Inggris, menjelaskan bahwa Pasal IX perjanjian tersebut mewajibkan setiap negara untuk menghindari pencemaran yang merugikan. Namun, batas-batas pencemaran tersebut belum diatur secara spesifik dalam peraturan internasional yang ada saat ini.

"Perjanjian Luar Angkasa tidak mendefinisikan kapan kontaminasi menjadi 'merugikan'. Regulasi tersebut tidak menetapkan batas jumlah sampah, tidak membuat lokasi pembuangan resmi, dan tidak mewajibkan setiap objek di Bulan untuk diangkut kembali," tulis Lefort melalui email.

Dampak Debu dan Keberuntungan yang Berulang

Meskipun luas permukaan Bulan mencapai 38 juta kilometer persegi, gravitasinya yang rendah, yakni sekitar 17% dari gravitasi Bumi, menyebabkan debu hasil hantaman melayang jauh dan membutuhkan waktu lama untuk mengendap. McDowell mengingatkan bahwa lontaran debu ini merupakan peristiwa berskala kontinental yang berpotensi mengganggu eksperimen ilmiah maupun instrumen di pangkalan manusia masa depan. Selain itu, jatuhnya bangkai roket berisiko merusak bukti geologis alami yang belum sempat diteliti oleh para ilmuwan.

Gregory Radisic, pakar hukum antariksa dari Bond University Australia, menambahkan bahwa insiden Falcon 9 ini menjadi momentum penting untuk membahas perilaku bertanggung jawab di luar angkasa. Menurutnya, tabrakan tersebut tidak menghantam sesuatu yang penting bukan karena perencanaan yang matang, melainkan semata-mata karena keberuntungan yang luar biasa.

"Hanya karena keberuntungan semata kita cuma membahas masalah teoritis dan tidak kehilangan eksperimen bernilai jutaan dolar atau situs penelitian ilmiah yang penting," kata Radisic.

Roket Falcon 9 yang menabrak Bulan tersebut sebelumnya ditinggalkan di orbit bumi tinggi pada Januari 2025 setelah mengantar pendarat Blue Ghost milik Firefly Aerospace dan Resilience milik ispace. Sejak peluncuran tersebut, SpaceX telah mendorong sisa roket misi Bulan mereka lebih jauh ke orbit mengelilingi matahari guna menghindari tabrakan tak terduga di masa depan.

"Saya berharap kita melihat norma baru yang berkembang, dan apa yang kita lihat sekarang bukan lagi cara membuang sisa roket di masa depan," tutur McDowell.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Sampah Antariksa di Bulan

Berapa banyak sampah yang sudah ada di Bulan? Diperkirakan sekitar 200 ton material buatan manusia telah jatuh atau sengaja ditinggalkan di permukaan Bulan sejak era awal penjelajahan kosmos.

Apa yang mengatur aktivitas manusia di Bulan? Outer Space Treaty Perserikatan Bangsa-Bangsa yang disahkan tahun 1967 menjadi dasar hukum utama, meskipun regulasinya masih belum spesifik.

Mengapa debu Bulan bisa melayang sangat jauh? Gravitasi Bulan yang rendah, yakni sekitar 17% dari gravitasi Bumi, menyebabkan debu hasil hantaman melayang jauh dan membutuhkan waktu lama untuk mengendap.

Apakah ada solusi untuk masalah sampah antariksa? Para ahli berharap norma baru akan berkembang untuk mencegah pembuangan sisa roket sembarangan di masa depan.

Kapan roket Falcon 9 terakhir kali ditinggalkan di orbit tinggi? Roket tersebut ditinggalkan di orbit bumi tinggi pada Januari 2025 setelah mengantar pendarat Blue Ghost milik Firefly Aerospace dan Resilience milik ispace.

Related Reading