Humaniora

Olah Limbah Rumah Tangga Menjadi Pewarna Tekstil, Kampus ini dan Kusuma Craft di Tangsel Dorong Seni Berkelanjutan

1786709484_b43e385a91a70566139b
Foto : Mark Jones - beritabaru1.com
Daftar Isi
  1. Olah Limbah Rumah Tangga Menjadi Pewarna Tekstil
  2. Related Reading

Olah Limbah Rumah Tangga Menjadi Pewarna Tekstil

Beritabaru1.com – Kulit buah, sisa sayuran, dan material organik lainnya menyimpan peluang besar untuk diubah menjadi pewarna alami. Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 dengan judul “Inovasi Pewarna Tekstil Berbasis Limbah Organik Domestik untuk Pengembangan Praktik Seni Tekstil dan Kriya Berkelanjutan” menyoroti potensi ini. Kolaborasi antara tim Universitas Budi Luhur dan Kusuma Craft di Tangerang Selatan telah menginisiasi program yang memanfaatkan olah limbah rumah tangga menjadi sumber pewarna tekstil berkelanjutan.

Kerjasama dan Pendanaan Program

Program yang dipimpin oleh Dhika Purnama Putra ini didukung oleh Benny Muhdaliha, Yori Pusparani, serta Muhammad Iqbal Naufal. Pendanaan diperoleh melalui jalur Program Inovasi Seni Nusantara Tahun 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM). Lembaga ini berada di bawah Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Mahasiswa Universitas Budi Luhur juga turut serta aktif dalam berbagai kegiatan. Mulai dari pendampingan, produksi karya, dokumentasi, hingga publikasi menjadi tanggung jawab bersama dalam menjalankan program ini.

Kusuma Craft dan Pendekatan Berkelanjutan

Kusuma Craft merupakan rumah kreasi seni dan kerajinan yang berlokasi di Pondok Kacang Timur, Tangerang Selatan. Selama bertahun-tahun, lembaga ini telah mengembangkan praktik seni tekstil dan kriya menggunakan pendekatan pewarna alami. Melalui PISN 2026, pendekatan tersebut diperluas dengan memanfaatkan limbah organik dari rumah tangga sebagai sumber material pewarna.

Program ini tidak hanya berfokus pada penciptaan produk akhir. Rangkaian proses yang dibangun menghubungkan pengelolaan limbah rumah tangga, eksplorasi material, penciptaan karya seni, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan pemasaran dan media digital.

Pelibatan Masyarakat dalam Rantai Nilai

Salah satu tantangan utama program adalah memastikan ketersediaan bahan pewarna tidak hanya bergantung pada limbah yang diperoleh secara insidental. Oleh karena itu, masyarakat dilibatkan sejak tahap awal melalui proses pemilahan dan pengumpulan material. Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah Pelatihan Pemilahan Sampah Domestik.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemilahan limbah rumah tangga sekaligus memperkenalkan jenis limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami. Kegiatan melibatkan masyarakat di lingkungan RT/RW, termasuk ibu-ibu PKK, serta mendorong optimalisasi peran bank sampah setempat dalam pengumpulan material.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai penyedia limbah, tetapi menjadi bagian dari ekosistem praktik seni berkelanjutan.

Proses Eksplorasi dan Produksi

Limbah organik yang telah dipilah kemudian dapat diseleksi dan dimanfaatkan sebagai bahan eksplorasi warna oleh Kusuma Craft dan peserta program. Setelah proses pemilahan, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan teknik pewarna tekstil alami berbasis limbah organik domestik.

Peserta diperkenalkan pada berbagai tahapan, mulai dari pemilihan material, ekstraksi warna, pewarnaan kain, hingga proses fiksasi. Metode pelatihan memadukan penyampaian materi, demonstrasi, eksperimen, dan praktik langsung. Melalui proses tersebut, peserta dapat memahami karakter setiap material organik serta pengaruhnya terhadap warna yang dihasilkan.

Hasil eksplorasi kemudian diterapkan dalam praktik seni tekstil dan kriya. Material yang sebelumnya dianggap sebagai sisa konsumsi rumah tangga memperoleh fungsi baru sebagai bagian dari proses penciptaan karya. Program juga diarahkan untuk menghasilkan karya dan prototipe yang memiliki karakter visual sekaligus nilai keberlanjutan, serta memperkuat identitas Kusuma Craft sebagai pelaku seni dan kriya yang mengembangkan eksplorasi material ramah lingkungan.

Keberlanjutan dan Digitalisasi

Program PISN 2026 tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan workshop, tetapi juga memastikan inovasi yang dikembangkan dapat terus diterapkan setelah program berakhir. Universitas Budi Luhur bersama Kusuma Craft melakukan penguatan pada aspek produksi, manajemen, dokumentasi, dan pemasaran.

Proses eksperimen pewarna alami didokumentasikan untuk membangun alur kerja yang lebih terstruktur, mulai dari pengumpulan bahan, pengolahan material, ekstraksi warna, pewarnaan, hingga pengembangan karya tekstil dan kriya. Standardisasi tersebut diharapkan dapat membantu Kusuma Craft menghasilkan karya dengan proses yang lebih konsisten sekaligus membuka peluang pengembangan produk secara berkelanjutan.

Pada aspek digital, program turut mengembangkan website Kusuma Craft sebagai ruang dokumentasi praktik seni sekaligus etalase karya.

FAQ: Olah Limbah Rumah Tangga Menjadi Pewarna Tekstil

Apa itu PISN 2026? Program Inovasi Seni Nusantara 2026 adalah program pendanaan dari Kemendiktisaintek yang mendukung inovasi seni berbasis masyarakat.

Bagaimana cara limbah rumah tangga menjadi pewarna tekstil? Limbah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran diekstrak warnanya melalui proses pemanasan dan pemurnian, kemudian digunakan untuk mewarnai kain.

Di mana lokasi Kusuma Craft? Kusuma Craft berlokasi di Pondok Kacang Timur, Tangerang Selatan.

Siapa saja yang terlibat dalam program ini? Tim Universitas Budi Luhur, Kusuma Craft, mahasiswa, dan masyarakat lokal di lingkungan RT/RW.

Leave a Comment