Petani Didorong Olah Limbah Batang Sorgum Jadi Arang Bernilai Ekonomi
Daftar Isi
Transformasi Limbah Batang Sorgum Menjadi Arang dan Briket di Desa Karangkamulyan
Beritabaru1.com – Sebuah langkah konkret menuju ekonomi sirkular berskala desa kini dijalankan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Limbah pertanian yang selama ini kerap menumpuk tanpa pemanfaatan kini diarahkan menjadi produk bernilai guna melalui program pendampingan yang digagas Universitas Bakti Tunas Husada (BTH).
Program ini merupakan bagian dari hibah pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Sasaran utamanya adalah Kelompok Tani Cahaya Harapan yang berdomisili di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing. Melalui kegiatan tersebut, petani diajak mengolah batang sorgum menjadi arang serta briket — dua produk yang sekaligus berfungsi sebagai sumber energi alternatif berlandaskan bahan baku lokal.
Dasar Pemikiran: Mengurangi Beban Lingkungan
Ummy Mardiana, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas BTH yang juga memimpin tim hibah, menegaskan bahwa pengelolaan limbah pertanian merupakan keharusan agar tumpukan sisa panen tidak berubah menjadi masalah ekologis.
“Batang sorgum yang selama ini berpotensi dibuang atau dibakar dapat dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bernilai, salah satunya sebagai bahan baku arang dan briket. Ini menjadi bagian dari upaya kita mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih berkelanjutan,” kata Ummy.
Proses Karbonisasi dan Pencetakan Briket
Secara teknis, petani diperkenalkan pada metode karbonisasi — yaitu pembakaran batang sorgum dalam kondisi oksigen terbatas sehingga menghasilkan arang. Arang hasil proses tersebut kemudian diproses lebih lanjut dan dicetak menjadi briket menggunakan perangkat yang dirancang agar dapat dioperasikan langsung oleh anggota kelompok tani.
Hadi Yusuf Faturochman, yang memandu pendampingan teknis terkait karbonisasi dan produksi briket, menekankan bahwa mutu arang merupakan faktor penentu kualitas akhir produk.
“Kunci awal pembuatan briket adalah menghasilkan arang yang baik melalui proses karbonisasi yang tepat. Setelah arang diperoleh, bahan kemudian dipersiapkan untuk proses pencetakan menjadi briket,” ujar Hadi.
Ketersediaan Peralatan untuk Keberlanjutan Produksi
Agar kegiatan produksi dapat diteruskan secara mandiri setelah masa pendampingan berakhir, Universitas BTH menyerahkan mesin cetak briket kepada Kelompok Tani Cahaya Harapan. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi bergantung pada pihak luar untuk menjalankan operasional harian.
Nilai Tambah dari Produk Samping
Teknologi yang diperkenalkan dalam program ini juga menghasilkan asap sebagai produk samping proses karbonisasi. Dalam rancangannya, asap tersebut dapat dikondensasikan menjadi cairan asap nonpangan yang berpotensi dimanfaatkan untuk keperluan tertentu, termasuk sebagai bahan pendukung pengendalian organisme pengganggu tanaman maupun pengawet kayu nonpangan.
Strategi Pemasaran dan Literasi Digital
Pendampingan tidak berhenti pada aspek produksi semata. Hana Diana Maria, dosen bidang Bisnis Digital Universitas BTH, memberikan materi mengenai branding, literasi digital, serta pemanfaatan media sosial sebagai kanal pengenalan produk kepada calon konsumen.
“Ketika masyarakat sudah mampu menghasilkan produk, tahap berikutnya adalah bagaimana produk tersebut dapat dikenal dan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Menurut Hana, kemampuan menghasilkan produk harus diimbangi strategi pemasaran yang tepat agar produk lokal mampu bersaing dan meraih nilai ekonomi yang lebih tinggi di pasar.
Dengan demikian, pengolahan batang sorgum menjadi arang dan briket di Desa Karangkamulyan menjadi wujud nyata pengembangan ekonomi sirkular di tingkat desa — mengubah limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan menjadi produk berfungsional sekaligus bernilai ekonomi.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Petani Didorong Olah Limbah Batang Sorgum?
Petani Didorong Olah Limbah Batang Sorgum is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Petani Didorong Olah Limbah Batang Sorgum matter?
Petani Didorong Olah Limbah Batang Sorgum matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.