Transformasi Logistik Hijau Didorong untuk Tingkatkan Daya Saing Industri Nasional
Beritabaru1.com – Indonesia sedang melakukan upaya besar-besaran dalam mencapai target iklim nasional melalui Transformasi Logistik Hijau Didorong secara masif. Inisiatif ini dinilai sebagai salah satu kunci penting untuk meningkatkan daya saing industri logistik di kancah global. Upaya transformasi ini memerlukan sinergi kuat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar praktik green logistics dapat diterapkan secara luas di sektor logistik nasional.
Peluncuran APGLI dan Diskusi Green Logistics
Kegiatan Green Logistics Talk #2 yang juga menjadi soft launching Asosiasi Pengusaha Green Logistik Indonesia (APGLI) berlangsung di Jakarta pada Rabu, 5 Agustus 2025. Acara ini menghadirkan sejumlah pakar sebagai narasumber, termasuk Mahawan Karuniasa dari Universitas Indonesia, Agus Purnomo dari Universitas Logistik dan Bisnis Internasional (ULBI), serta Rifka Hidayat dari ALFI. Kehadiran para ahli ini menunjukkan betapa pentingnya Transformasi Logistik Hijau Didorong untuk masa depan industri nasional.
Dalam sambutannya, Analis Kebijakan Ahli Utama Kementerian Kehutanan Agus Justianto menekankan peran strategis sektor logistik. Ia menyebutkan bahwa logistik memiliki kontribusi penting dalam mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia dan Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui efisiensi energi, optimalisasi rute dan muatan, pengembangan transportasi multimoda, pemanfaatan kendaraan serta energi rendah emisi, hingga digitalisasi yang mampu meningkatkan ketertelusuran rantai pasok.
“Logistik hijau bukan hanya agenda lingkungan. Logistik hijau merupakan strategi bisnis, strategi efisiensi, dan strategi peningkatan daya saing,” tegas Agus Justianto.
APGLI sebagai Respons terhadap Tantangan Logistik
Ketua Umum APGLI Netty Sri Rejeki menjelaskan bahwa asosiasi tersebut dibentuk sebagai respons atas besarnya peran sektor logistik terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari tingginya biaya operasional, aspek keselamatan transportasi, hingga tuntutan penerapan praktik bisnis yang lebih berkelanjutan. Transformasi Logistik Hijau Didorong melalui APGLI diharapkan dapat menjawab tantangan-tantangan tersebut secara komprehensif.
Netty menambahkan bahwa konsep green logistics perlu diwujudkan melalui langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan oleh perusahaan logistik, baik skala besar maupun kecil, sesuai dengan kapasitas dan kondisi operasional masing-masing. Ia menjelaskan APGLI akan membantu pelaku industri memulai transformasi logistik hijau melalui penguatan organisasi, pengembangan jejaring anggota, edukasi, serta pengukuran emisi karbon. Ke depan, asosiasi juga akan mengembangkan ekosistem digital, sistem pelaporan karbon, hingga skema pembiayaan hijau (green financing) bagi para anggotanya.
Kolaborasi sebagai Faktor Utama
Ketua Umum Women in Logistics and Transport (WiLAT) Indonesia sekaligus Penasehat APGLI Nurmaria Sarosa menilai kolaborasi menjadi faktor utama dalam mempercepat implementasi green logistics di Indonesia. Melalui kemitraan strategis dengan APGLI, kami berharap dapat mempercepat adopsi green logistics di seluruh pelosok negeri. Bersama pemerintah dalam regulasi, pelaku usaha dalam penerapan teknologi, dan akademisi dalam pendidikan, kita akan membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan melalui rantai pasok rendah karbon.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum APGLI Juliana S Damu mengatakan pihaknya ingin memastikan transformasi hijau tidak berhenti sebagai konsep, tetapi benar-benar diterapkan secara bertahap dan terukur agar mampu meningkatkan efisiensi, keselamatan, sekaligus daya saing perusahaan logistik nasional. Sekretaris Jenderal APGLI Henky Hindarmin Indracahya menambahkan APGLI akan menjadi mitra strategis bagi pemerintah, industri, akademisi, dan praktisi dalam mempercepat implementasi green logistics melalui berbagai program yang aplikatif dan berorientasi pada kebutuhan industri.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Transformasi Logistik Hijau
Apa itu Transformasi Logistik Hijau? Transformasi Logistik Hijau adalah proses perubahan sistem logistik konvensional menjadi lebih ramah lingkungan melalui efisiensi energi, penggunaan kendaraan rendah emisi, dan digitalisasi rantai pasok.
Mengapa Transformasi Logistik Hijau Didorong di Indonesia? Indonesia mendorong transformasi ini untuk mencapai target NDC dan Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, sekaligus meningkatkan daya saing industri logistik nasional di pasar global.
Siapa saja yang terlibat dalam APGLI? APGLI melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha logistik, dan praktisi industri untuk mempercepat implementasi green logistics di Indonesia.
Berapa target emisi karbon yang ingin dicapai? Indonesia menargetkan Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 sebagai bagian dari komitmen NDC untuk mencapai netralitas karbon di sektor kehutanan dan logistik.
Bagaimana cara perusahaan logistik memulai transformasi hijau? Perusahaan dapat memulai dengan evaluasi emisi karbon, optimalisasi rute, penggunaan kendaraan rendah emisi, dan pemanfaatan teknologi digital untuk ketertelusuran rantai pasok.
Melalui Green Logistics Talk #2 dan soft launching APGLI, seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat kolaborasi untuk membangun ekosistem logistik hijau nasional. Transformasi Logistik Hijau Didorong tersebut tidak hanya ditujukan untuk mendukung pencapaian target iklim Indonesia, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta mendongkrak daya saing industri logistik nasional.
