Inflasi dan Menyusutnya Surplus Dagang Tekan Rupiah
Inflasi dan Menyusutnya Surplus Dagang Tekan – Rupiah kembali mengalami tekanan dalam nilai tukar, terutama karena kombinasi kenaikan inflasi dan penurunan surplus dagang. Kedua faktor ini memperkuat sentimen negatif yang terjadi di pasar keuangan domestik maupun internasional. Menurut Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas, kondisi ini menjadi perhatian utama bagi investor dan pemerintah, karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi secara signifikan.
Faktor Utama yang Memicu Tekanan Rupiah
Situasi ekonomi Indonesia semakin kritis akibat dua isu utama: inflasi yang terus menguat dan menyusutnya surplus dagang. Dalam Mei 2026, inflasi bulanan mencapai 0,28%, naik dari 0,13% di bulan sebelumnya. Dalam keterangan resmi Badan Pusat Statistik (BPS), angka ini mencerminkan kenaikan harga pangan, energi, dan komoditas yang diatur pemerintah. Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa inflasi yang meningkat berpotensi memperburuk kondisi rupiah, terlebih di tengah ketidakpastian global yang semakin menguat.
Di sisi lain, surplus dagang Indonesia yang sebelumnya mencatatkan kinerja positif turun signifikan. Dalam April 2026, surplus hanya mencapai US$89,1 juta, dibandingkan dengan surplus yang lebih besar di bulan-bulan sebelumnya. Tren ini memperpanjang ketidakstabilan yang telah terjadi selama beberapa bulan, seiring dengan tekanan pasokan global dan kenaikan harga komoditas internasional.
“Inflasi dan menyusutnya surplus dagang menjadi dua pelaku utama yang menekan rupiah, khususnya di tengah perubahan kondisi ekonomi internasional dan domestik yang tidak terduga,” kata Ibrahim Assuaibi, Rabu (3/6).
Konteks Surplus Dagang yang Menyusut
Ketidakstabilan surplus dagang Indonesia terjadi karena beberapa alasan, termasuk kenaikan harga energi global dan gangguan distribusi komoditas. Pada April 2026, surplus perdagangan nonmigas mencapai US$3,53 miliar, namun kontribusi dari sektor migas menurun. Ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat terhadap barang impor semakin berkurang, yang secara langsung berdampak pada permintaan mata uang asing terhadap rupiah.
Dalam konteks makroekonomi, Ibrahim Assuaibi menyebut bahwa surplus dagang yang menurun mencerminkan tekanan pada sektor ekspor dan kenaikan biaya impor. “Surplus April yang turun tajam menunjukkan bahwa daya beli rakyat sedang terganggu, serta pertumbuhan ekspor tidak cukup untuk menutupi kenaikan impor,” jelasnya. Hal ini juga memperkuat peran inflasi dalam mengurangi daya beli dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang, terutama jika inflasi tidak bisa dikendalikan. Kenaikan harga barang konsumsi, seperti bahan pokok dan energi, akan meningkatkan beban bagi masyarakat, sementara tekanan pada surplus dagang berpotensi memperkuat ketergantungan Indonesia pada impor, yang sekaligus memengaruhi aliran modal ke pasar rupiah.
Dalam perdagangan Rabu sore, rupiah ditutup melemah 127 poin ke 17.966 per dolar AS, dibandingkan level 17.839 sebelumnya. Selama hari tersebut, mata uang domestik sempat turun hingga 130 poin. Ibrahim Assuaibi memperkirakan volatilitas nilai tukar akan terus berlanjut, terutama jika inflasi dan surplus dagang tetap tidak stabil. “Kondisi rupiah besok diperkirakan fluktuatif, dengan potensi ditutup di kisaran 17.960 hingga 18.030 per dolar AS,” prediksi mantan pengamat tersebut.
