Kementan Kawal Harga Ayam, Peternak Rakyat Jadi Prioritas
Key Discussion – Dalam Key Discussion yang digelar oleh Kementerian Pertanian (Kementan), pihaknya menegaskan komitmen untuk memastikan stabilitas harga ayam hidup di pasar. Hal ini diambil sebagai respons atas temuan bahwa beberapa wilayah masih mengalami harga jual ayam yang berada di bawah standar acuan pemerintah, yaitu Rp19.500 per kilogram. Dengan Key Discussion ini, Kementan berupaya melindungi kelangsungan usaha peternak skala kecil dan menjaga keseimbangan industri perunggasan nasional, yang menjadi fokus utama dalam upaya pemerintah menstabilkan ekonomi sektor pertanian.
Langkah Kementan untuk Stabilisasi Harga Ayam Hidup
Key Discussion kali ini melibatkan rapat koordinasi antara Kementan, Asosiasi Rumah Potong Unggas Indonesia (ARPHUIN), dan pelaku rumah potong hewan unggas (RPHU) untuk mencari solusi bersama. Rapat tersebut bertujuan memperkuat kerja sama lintas sektor dalam menjaga harga ayam tetap stabil. Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), I Ketut Wirata, menyampaikan bahwa harga ayam di beberapa daerah, khususnya Jawa Tengah, masih tergolong rendah, mencapai Rp15 ribu per kilogram. “Dalam Key Discussion, kami menegaskan bahwa harga ayam hidup di bawah Rp19.500 sangat berdampak negatif pada peternak rakyat,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Kementan memberikan perhatian khusus kepada peternak mandiri karena mereka paling rentan terhadap fluktuasi harga. Peternak skala kecil sering kali tidak memiliki akses ke pasar yang luas, sehingga harga jual mereka lebih mudah terpengaruh oleh kondisi pasar. Dalam Key Discussion, pihak Kementan menekankan perlunya kebijakan yang dapat melindungi peternak dari tekanan harga, terutama saat permintaan terhadap ayam hidup mengalami penurunan. Ketut menjelaskan bahwa penurunan harga bisa mengakibatkan penutupan usaha peternak kecil, yang berdampak pada produktivitas sektor pertanian secara keseluruhan.
Pandangan Pelaku Industri Perunggasan
Key Discussion juga mengundang masukan dari pelaku industri perunggasan, termasuk dari anggota ARPHUIN dan RPHU. Ketua ARPHUIN, Sigit Pambudi, menyatakan bahwa pelaku usaha menghadapi tantangan pasar akibat peningkatan pasokan dan penurunan permintaan. “Situasi yang kami hadapi memang sama-sama sulit. Dalam Key Discussion, kami sepakat untuk menyerap produksi peternak secara optimal agar harga tetap stabil,” katanya. Sigit menambahkan bahwa RPHU tetap berupaya meningkatkan efisiensi operasional, termasuk saat libur panjang, untuk menjaga keseimbangan rantai pasok.
Keenan Pardede, wakil dari RPHU PT Charoen Pokphand Indonesia, menyampaikan bahwa perusahaan telah memaksimalkan kapasitas pemotongan selama masa libur panjang, dengan sebanyak 400 truk ayam diproses setiap hari. “Dalam Key Discussion, kami mendukung kebijakan Kementan untuk menjaga harga ayam sesuai standar acuan. Kami berupaya menghindari penurunan harga yang akan merugikan peternak rakyat,” ujarnya. Keenan menekankan bahwa penyerapan produksi tetap dilakukan meskipun ada tekanan pasar, karena itu menjadi bagian dari strategi Kementan dalam Key Discussion.
Kementan menegaskan bahwa stabilitas harga ayam hidup merupakan prioritas utama dalam Key Discussion. Langkah seperti menunda rekomendasi usaha dalam sektor perunggasan diambil untuk memastikan harga kembali sesuai standar acuan. Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH, Hary Suhada, menjelaskan bahwa kebijakan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesejahteraan peternak, terutama di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks. “Key Discussion ini adalah wujud dari upaya bersama untuk mencegah penurunan harga yang bisa menyebabkan kegagalan usaha bagi peternak rakyat,” tambahnya.
Ditjen PKH juga mengambil langkah pengendalian dengan menunda rekomendasi tertentu hingga harga ayam hidup kembali stabil. Dengan demikian, pemerintah berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bekerja sama memperkuat rantai pasok perunggasan nasional. Key Discussion ini diharapkan menjadi titik awal dalam membangun kesepakatan jangka panjang antara Kementan, pelaku industri, dan peternak, agar pasar ayam hidup tetap sehat dan berkelanjutan. “Kami menekankan bahwa Key Discussion ini bukan hanya tentang harga saat ini, tetapi juga tentang strategi untuk memastikan kestabilan harga di masa depan,” ujar Hary Suhada.
