Key Strategy: Ebitda Emiten Tambang Ini Melonjak 98% di Musim Hujan Tertinggi
Key Strategy menjadi pilar utama dalam menopang kinerja PT Buma Internasional Grup Tbk (IDX: DOID) di kuartal pertama tahun 2026. Perusahaan yang dikenal sebagai Buma International Group ini mencatatkan peningkatan signifikan dalam Ebitda, mencapai US$28 juta atau naik 98% secara tahunan dibandingkan US$14 juta pada periode sama tahun sebelumnya. Meski menghadapi tantangan cuaca ekstrem, seperti curah hujan musiman tertinggi, kinerja keuangan perusahaan tetap menunjukkan perbaikan yang signifikan. Laporan keuangan konsolidasinya menunjukkan pendapatan sebesar US$318 juta, turun 10% dibandingkan kuartal I 2025.
Strategi Pemulihan Operasional
Key Strategy perusahaan berfokus pada peningkatan efisiensi operasional dan pengelolaan biaya yang ketat. Dalam keterangan resmi, Direktur Buma International Group, Iwan Fuad Salim, menyatakan bahwa pemulihan operasional yang dimulai sejak 2025 terus berkembang, bahkan dalam kondisi cuaca yang tidak menentu. “Dengan Key Strategy yang dijalankan, kami berhasil meningkatkan Ebitda hampir dua kali lipat YoY meskipun pendapatan mengalami penurunan karena penutupan beberapa proyek tambang di Indonesia dan Australia,” jelasnya.
“Dukungan dari manajemen kondisi jalan, optimisasi area pengangkutan, serta peningkatan produktivitas alat ukur BCM per jam menjadi faktor kunci keberhasilan ini. Selain itu, penurunan unit biaya per BCM sebesar 1% dan efisiensi biaya tenaga kerja yang meningkat 4% juga memperkuat strategi kami untuk menjaga kinerja keuangan,” lanjut Iwan.
Pengurangan Kerugian dan Optimasi Investasi
Peningkatan EBITDA di kuartal I 2026 menjadi momentum penting bagi Buma International Group. Dalam Key Strategy mereka, perusahaan juga memprioritaskan pengelolaan aset dan investasi. Penjualan aset lahan dalam program optimalisasi ACG memberikan kontribusi US$12 juta, sementara pengurangan kerugian investasi di 29Metals mencapai US$12 juta. Hal ini membantu memperbaiki rugi bersih perusahaan dari US$70 juta menjadi US$24 juta, atau turun 66%.
Kinerja arus kas bebas juga mengalami perbaikan signifikan. Dalam kuartal I 2026, arus kas bebas mencapai US$2 juta, dibandingkan negatif US$19 juta di kuartal I 2025. Keberhasilan ini menunjukkan efektivitas Key Strategy dalam meningkatkan likuiditas dan menstabilkan operasional perusahaan. Selain itu, perusahaan juga mengoptimalkan penggunaan sumber daya melalui kebijakan yang lebih ketat di segala aspek operasional.
Analisis Performa Operasional
Di Indonesia, operasional Buma International Group menunjukkan peningkatan efisiensi sebesar 14% YoY dalam mengurangi jam tidak produktif. Perbaikan ini terjadi karena penerapan Key Strategy yang mencakup manajemen jalan, pengangkutan material, dan pengendalian faktor geologi. Produktivitas BCM per jam meningkat 1%, sementara waktu siklus operasional turun 1%. “Kami terus memperkuat disiplin kerja dan penempatan operator untuk mencapai efisiensi maksimal, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem seperti musim hujan,” tambah Iwan.
Pada sisi biaya, kenaikan harga bahan bakar menyebabkan biaya bahan bakar per BCM naik 3% YoY. Namun, konsumsi bahan bakar tetap stabil, sehingga dampaknya terbatas. Di sisi lain, biaya perbaikan dan pemeliharaan armada meningkat 13% karena perusahaan mempercepat program perawatan untuk menyambut musim operasional yang lebih kering di kuartal II.
Pengembangan Tren Pemulihan
Kinerja Buma International Group terus membaik di kuartal II 2026. Volume pengupasan gabungan Indonesia dan Australia meningkat dari 26,4 MBCM pada Februari menjadi 34,3 MBCM pada April. Produksi batu bara di bulan April saja mencapai 5,9 juta ton, atau naik 22% dibandingkan rata-rata bulanan kuartal I. “Key Strategy yang terus ditekankan memungkinkan kami menghadapi tantangan cuaca sambil menjaga kestabilan produksi dan efisiensi biaya,” papar Iwan.
Perusahaan juga menekankan upaya keselamatan dalam Key Strategy mereka. Tidak ada insiden fatalitas tercatat di seluruh operasional kuartal I 2026. Pelaporan risiko secara proaktif serta peningkatan keterlibatan karyawan dalam program keselamatan menjadi elemen penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman. Emisi Cakupan 1 dan 2 di Indonesia menurun 13,3% YoY, seiring peningkatan efisiensi operasional dan pengurangan polusi di lokasi utama.
