Keandalan Sistem Kelistrikan di Jawa Dipertanyakan
Key Strategy – Dalam upaya meningkatkan keandalan sistem kelistrikan di Jawa, masalah gangguan listrik yang terjadi pada 9-10 Juni 2026 menjadi sorotan. Pada masa ini, beberapa daerah seperti Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang mengalami pemadaman yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Keandalan sistem kelistrikan, yang seharusnya menjadi prioritas dalam Key Strategy, dipertanyakan oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) yang menyoroti kelemahan infrastruktur dan kebijakan terkini.
Analisis IESR tentang Sistem Jamali
IESR mengkritik sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali) yang mengalami kegagalan dalam menangani gangguan teknis. CEO IESR, Fabby Tumiwa, menegaskan bahwa keandalan sistem kelistrikan tidak hanya bergantung pada cadangan daya, tetapi juga pada sistem proteksi dan redundansi yang memadai. “Key Strategy dalam mengelola sistem listrik harus mencakup peningkatan kapasitas penyimpanan energi dan penataan jadwal operasional pembangkit secara lebih optimal,” katanya dalam pernyataan, Sabtu (13/6).
“Pemadaman yang terjadi beberapa bulan terakhir menunjukkan ketidakmampuan Kementerian ESDM dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan yang stabil,” ujar Fabby. IESR menyoroti bahwa stok bahan bakar di beberapa PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) terbilang rendah, sehingga mengakibatkan pembangkit harus beroperasi di bawah kapasitas maksimal. Masalah transmisi dan kesalahan teknis yang tidak terdeteksi juga memperparah keadaan, menurut laporan mereka.
Dalam Key Strategy untuk menjaga keandalan, IESR menyarankan penggunaan teknologi modern dalam monitoring jaringan listrik. Selain itu, mereka menekankan perlunya kerja sama yang lebih erat antara lembaga terkait seperti Kementerian ESDM, PLN, dan pemerintah daerah. Tumiwa menyatakan bahwa keterlambatan pengesahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara menjadi faktor kritis yang menghambat efisiensi sistem, sehingga memperkuat kebutuhan perbaikan Key Strategy.
Respons Kementerian ESDM
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menanggapi isu keandalan sistem kelistrikan dengan menyatakan bahwa penyebab utama pemadaman di Jabodetabek adalah gangguan teknis, bukan krisis pasokan batu bara. Juru Bicara ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa stok bahan bakar tetap memadai dan tidak ada indikasi kekurangan yang signifikan. “Key Strategy dalam pengelolaan pasokan batu bara telah dijalankan dengan baik, dan kita bersiap untuk mengatasi masalah secara terencana,” ujarnya, Kamis (11/6).
“Tidak ada batu bara menipis,” tegas Anggia, mengingatkan bahwa harga batu bara global naik karena ketegangan geopolitik, namun pasokan dalam negeri masih terjaga. Menurutnya, langkah mitigasi seperti pemeriksaan rutin jaringan dan peningkatan kapasitas PLTU sedang dikerjakan. “Kementerian ESDM berkomitmen untuk memastikan sistem kelistrikan tetap stabil melalui Key Strategy yang terus diperbarui,” tambahnya.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, juga mengungkapkan adanya kebijakan relaksasi kuota produksi batu bara secara bertahap. Kebijakan ini diharapkan bisa memperkuat pasokan energi primer dan mendukung Key Strategy dalam menjaga keandalan sistem. Meski demikian, IESR mengingatkan bahwa langkah ini perlu disertai dengan pengawasan ketat untuk mencegah kegagalan serupa terulang.
Kebutuhan Penyempurnaan Key Strategy
Analisis IESR menunjukkan bahwa Key Strategy dalam mengelola sistem kelistrikan Jawa perlu diperkuat dengan perbaikan struktur jaringan dan penggunaan energi terbarukan. Sejumlah daerah seperti Cianjur, Semarang, dan Madura juga mengalami gangguan serupa, yang memperlihatkan bahwa masalah ini tidak hanya terbatas pada Jabodetabek. Kebutuhan peningkatan investasi dalam infrastruktur dan pengembangan sumber daya alternatif menjadi solusi utama, menurut laporan yang dirilis pada akhir Juni 2026.
“Key Strategy harus mencakup keberlanjutan pasokan energi, baik dari batu bara maupun sumber daya lain seperti tenaga surya dan angin,” kata Tumiwa. Ia menyoroti bahwa saat ini ketergantungan pada batu bara terlalu besar, sehingga rentan terhadap fluktuasi harga global dan gangguan distribusi. Perbaikan Key Strategy diperlukan agar sistem bisa menangani tekanan yang semakin kompleks.
Pemadaman listrik yang berlangsung beberapa hari memicu keluhan masyarakat dan berdampak pada sektor industri serta perdagangan. Pemerintah diharapkan mengambil langkah konkrit untuk menyempurnakan Key Strategy, seperti menambah kapasitas penyimpanan energi dan memperkuat koordinasi antarinstansi. IESR juga merekomendasikan adopsi teknologi pengelolaan energi yang lebih canggih, agar mencegah kegagalan sistem yang bisa berdampak besar pada perekonomian.
