Rupiah Berpeluang Kembali Menguat ke Rp16.800 Jika Kebijakan Fiskal-Moneter Terkoordinasi
Latest Program menunjukkan bahwa rupiah memiliki potensi untuk rebound ke level Rp16.800 jika kebijakan fiskal dan moneter bisa berjalan solid. Kepala ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menjelaskan bahwa peningkatan nilai tukar rupiah sangat bergantung pada konsistensi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Dalam analisis terbarunya, Fakhrul mengatakan bahwa koordinasi yang baik antara dua lembaga ini akan menjadi kunci untuk memperkuat mata uang lokal.
Pemulihan Rupiah dan Faktor Penentu
Dalam situasi tekanan global yang masih terus berlanjut, nilai tukar rupiah terus mengalami fluktuasi. Menurut Fakhrul, kurs rupiah saat ini terlalu melemah dibandingkan dengan kapasitas ekonomi Indonesia yang stabil. “Latest Program menekankan bahwa rupiah perlu dibantu oleh kebijakan bauran yang selaras,” kata Fakhrul dalam wawancara dengan Antara. Dia menjelaskan bahwa distribusi beban antara otoritas fiskal dan moneter harus seimbang agar pasar tidak terus menerima tekanan eksternal.
Kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi akan mengurangi risiko kekacauan dalam pasar keuangan. BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%, langkah ini dianggap sebagai bagian dari Latest Program untuk menegaskan komitmen menjaga inflasi. Namun, Fakhrul mengingatkan bahwa kebijakan moneter yang ketat tanpa didukung oleh kebijakan fiskal yang tepat bisa menyebabkan ketidakseimbangan.
Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya
Kurs rupiah sekarang berada di Rp17.800 per dolar AS, yang sempat terjadi selama libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada 27-28 Mei 2026. Dalam Latest Program, Fakhrul menyebutkan bahwa keadaan ini memperlihatkan bahwa rupiah masih mengalami tekanan dari luar. Namun, ia menegaskan bahwa dengan koordinasi yang lebih baik antara pemerintah dan BI, mata uang ini bisa kembali ke level Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar AS.
Fakhrul menyoroti bahwa BI mulai kembali ke pendekatan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve seperti di era 2018. “BI perlu memperkuat komunikasi kebijakan agar pasar tidak terkejut dengan perubahan mendadak,” katanya. Ini menunjukkan bahwa Latest Program juga menekankan pentingnya komunikasi yang jelas dalam mengelola ekspektasi pasar.
Perspektif Ekonomi Global
Dalam konteks global, Fakhrul mengatakan bahwa tekanan pada rupiah tidak hanya berasal dari kebijakan moneter BI, tetapi juga dari faktor eksternal seperti kinerja ekonomi negara-negara lain dan kondisi pasar global. “Latest Program mengingatkan bahwa ekonomi Indonesia harus tetap menjadi fokus utama, terutama dalam menangani risiko dari luar,” jelasnya. Dia menambahkan bahwa kebijakan fiscal stance yang terarah akan memperkuat kepercayaan investor.
Koordinasi yang solid antara kebijakan fiskal dan moneter juga diperlukan untuk memperkuat struktur ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Fakhrul menyarankan bahwa pembentukan ekonomi yang lebih anti-fragile akan membantu rupiah tidak hanya kembali ke level Rp16.800, tetapi juga terus menguat dalam jangka panjang. “Dalam Latest Program, kita perlu melibatkan sektor-sektor seperti energi dan riil agar beban tidak hanya jatuh pada rupiah,” pungkasnya.
Menurut Fakhrul, peningkatan kredibilitas pasar tidak hanya bergantung pada suku bunga acuan, tetapi juga pada konsistensi kebijakan pemerintah. Ia mengingatkan bahwa konsistensi dalam pendanaan APBN dan subsidi akan memberi dampak positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. “Latest Program menekankan bahwa semua pihak harus bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama,” katanya.
Dengan Latest Program yang diusung, Fakhrul berharap kebijakan fiskal dan moneter bisa berjalan secara selaras. Ini akan memastikan bahwa mata uang lokal tidak lagi menjadi penanggung utama tekanan ekonomi. “Koordinasi yang baik akan membantu Indonesia mencapai pertumbuhan yang sehat dan stabil,” pungkasnya. Dengan demikian, rupiah berpotensi menguat kembali ke Rp16.800 jika langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten.
