Upbit Berharap Solusi Berkelanjutan dalam Dinamika Regulasi
Latest Program – Dalam lingkungan ekosistem kripto yang terus berkembang, Upbit Indonesia tengah menghadapi tantangan dinamika regulasi yang memengaruhi operasionalnya. Sebagai bagian dari Latest Program yang diluncurkan pada 2025, Upbit berupaya menjaga keseimbangan antara kepatuhan terhadap aturan dan pertumbuhan bisnis. Dalam tiga minggu terakhir, layanan mereka sempat mengalami gangguan akses, mengakibatkan sekitar 65 ribu pengguna aktif kehilangan kemampuan bertransaksi. Masalah ini memicu kekhawatiran akan kesehatan industri kripto di Indonesia.
Kontroversi terkait Keputusan Regulasi
CEO Upbit Indonesia, Resna Raniadi, menjelaskan bahwa keputusan regulasi yang diambil OJK belakangan ini menimbulkan tekanan signifikan. “Kami menilai Latest Program ini penting untuk menciptakan kerangka kerja yang transparan, tetapi kami juga butuh waktu untuk menyesuaikan,” ujarnya. Perusahaan ini, yang telah mengantongi izin resmi dari OJK sejak Maret 2025, menghadapi keharusan mengalihkan operasionalnya secara bertahap. Resna mengatakan bahwa OJK memiliki peran kunci dalam mengawasi pertumbuhan kripto, tetapi ketegasan aturan terkadang berdampak pada stabilitas layanan.
“Kami sangat menghargai upaya OJK dalam mengatur industri kripto. Namun, perlu dipertimbangkan adopsi metode yang lebih fleksibel agar bisnis tetap berjalan lancar. Dengan Latest Program, kami ingin menjawab tantangan ini secara berkelanjutan, bukan sekadar memutus akses pengguna,” tambah Resna.
Upbit telah menawarkan dua opsi ke OJK sebagai bagian dari Latest Program. Pertama, komitmen untuk membatasi pengguna dari luar negeri melalui mekanisme penggunaan aplikasi lokal. Kedua, pembatasan akses berdasarkan IP, sehingga hanya pengguna Indonesia yang bisa mengakses layanan. “Kedua alternatif ini menunjukkan komitmen kami untuk memenuhi kebutuhan data nasional, sekaligus menjaga ekosistem yang sehat,” jelas Resna. Dengan Latest Program, Upbit berharap menemukan jalan tengah yang menggabungkan kepatuhan dan kemudahan bertransaksi.
Keseimbangan dalam Ekosistem Kripto
Resna menyoroti ketimpangan yang terjadi dalam ekosistem kripto. “Exchanger asing tanpa izin masih bebas beroperasi dengan biaya transaksi lebih rendah. Ini bisa mengakibatkan aliran dana keluar dari Indonesia,” katanya. Dalam konteks Latest Program, Upbit ingin menegaskan bahwa kebijakan regulasi tidak boleh berdampak berlebihan pada bisnis lokal. “Jika semua pelaku diatur dengan aturan yang sama, industri ini bisa berkembang secara berkelanjutan. Maka, Latest Program menjadi sarana untuk mencapai itu,” tambahnya.
“Kami berharap OJK dapat melihat Latest Program sebagai langkah strategis, bukan sekadar hukuman. Regulasi harus mendukung pertumbuhan, bukan menghambatnya. Apalagi kami telah menjalankan operasional yang patuh sejak awal,” lanjut Resna.
Di sisi lain, Upbit juga berupaya memberikan edukasi kripto secara menyeluruh, termasuk ke daerah-daerah seperti Ambon, Manado, dan Gorontalo. Resna mengatakan, hal ini menjadi bagian dari Latest Program untuk membangun kesadaran masyarakat tentang potensi dan risiko teknologi blockchain. “Kami ingin membuktikan bahwa generasi muda Indonesia mampu berkontribusi di Web3, selama ada ekosistem yang mendukung,” tuturnya. Perusahaan ini juga menekankan bahwa keberlanjutan bisnis kripto memerlukan kolaborasi antara regulator dan pelaku industri.
Sebagai bagian dari Latest Program, Upbit menilai bahwa solusi berkelanjutan tidak hanya membantu perusahaan, tetapi juga masyarakat pengguna. “Kami sangat prihatin dengan dampak cut loss yang dialami pengguna akibat gangguan akses. Solusi yang diusulkan harus memastikan transparansi dan keadilan,” kata Resna. Pemimpin industri kripto ini berharap OJK dapat menyesuaikan kebijakan dengan kondisi pasar yang dinamis. “Kami siap bekerja sama dalam Latest Program ini, asalkan ada kesepakatan yang realistis dan bisa berdampak positif jangka panjang,” pungkasnya.
