BI: Ekspansi Moneter Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Stabilitas
Meeting Results – Dalam meeting results yang digelar oleh Bank Indonesia (BI), Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan moneter yang diperluas berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan. Pada April 2026, data menunjukkan bahwa volume uang beredar, yang dikenal sebagai uang primer (M0), meningkat 14,1% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 11,8% yang tercatat di bulan sebelumnya, Maret 2026.
Penyebab Peningkatan Likuiditas
Pertumbuhan M0 yang signifikan, menurut Perry, didorong oleh peningkatan giro bank umum sebesar 28,4% per tahun. Selain itu, uang kartal (M1) juga tumbuh 14,6% tahunan. “Penambahan likuiditas ini mencerminkan kebijakan moneter yang lebih ekspansif, yang berdampak langsung pada dinamika pasar keuangan dan kebutuhan pembayaran dividen perbankan,” jelas Perry dalam konferensi pers usai meeting results tersebut.
“Kebijakan moneter yang diterapkan Bank Indonesia tidak hanya fokus pada peningkatan ketersediaan uang, tetapi juga memastikan keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan dorongan pertumbuhan melalui sinergi dengan pemerintah,” tambahnya.
BI juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan uang beredar dalam ruang lingkup luas (M2) terus menguat. Pada Maret 2026, M2 tumbuh 9,7% secara tahunan, dibandingkan 8,7% di bulan Februari. Kenaikan ini diakui sebagai hasil dari peningkatan tagihan bersih ke Pemerintah Pusat dan penyaluran kredit yang terus berlanjut. Pertumbuhan M2 menjadi indikator penting dalam mengukur dinamika ekonomi makro.
Peran Intermediasi Perbankan
Dalam konteks meeting results ini, Perry menyoroti bahwa peran intermediasi perbankan tetap berjalan efektif. Likuiditas domestik, yang dipenuhi melalui kebijakan moneter yang fleksibel, dinyatakan sebagai faktor penggerak utama bagi aktivitas ekonomi. Namun, ia menekankan bahwa BI secara aktif memantau risiko inflasi yang mungkin muncul akibat peningkatan volume uang beredar.
Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dari kebijakan moneter ini dianggap sebagai jawaban untuk memperkuat permintaan internal. Dengan memastikan ketersediaan likuiditas yang cukup, BI berharap mampu mendukung investasi, konsumsi, serta kegiatan usaha skala kecil dan menengah. “Ini menjadi strategi untuk menghadapi tantangan eksternal seperti perlambatan ekonomi global,” ujar Perry.
Di sisi lain, meeting results menggarisbawahi pentingnya pengelolaan likuiditas secara disiplin. Meski ekspansi moneter memberikan peluang untuk mendorong pertumbuhan, BI tetap mempertahankan pengawasan ketat terhadap inflasi. Perry menyebutkan bahwa pertumbuhan uang beredar perlu diimbangi dengan pertumbuhan output ekonomi agar tekanan inflasi tidak menjadi ancaman.
