Hilirisasi Nikel Tak Cuma Butuh Investasi, tetapi Juga Keberlanjutan
Topics Covered – Dengan meningkatnya minat dunia terhadap mineral kritis untuk mendukung transisi energi global, keberlanjutan semakin menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing industri nikel. Sekarang, selain kapasitas produksi dan volume investasi, perusahaan juga harus menunjukkan praktik pengelolaan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang dapat dipertanggungjawabkan, agar tetap memiliki akses pasar internasional.
Konferensi dan Pengembangan Ekosistem Industri
Diskusi bertema “Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience” diselenggarakan oleh Kadin Komite Bilateral Inggris dan Irlandia sebagai bagian dari Indonesia Critical Minerals Conference 2026. Acara ini mengumpulkan pemerintah daerah, industri, organisasi internasional, serta para pemangku kepentingan lain untuk mengeksplorasi bagaimana hilirisasi nikel di Maluku Utara bisa menjadi contoh global dalam industri yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Banyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi terhadap industri nikel Indonesia. Namun setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya,” ujar Ovan Tito, ketua ESDM Kadin Komite Bilateral Inggris dan Irlandia.
Kemajuan ekonomi provinsi Maluku Utara pada kuartal I 2026 mencapai pertumbuhan 19,64 persen, yang menjadi yang tertinggi nasional. Pertumbuhan ini didorong oleh pertambangan dan pengolahan nikel yang berkembang. Angka ini sejalan dengan meningkatnya realisasi investasi di sektor hilirisasi, yang mencapai Rp147,5 triliun, dengan nikel menyumbang sekitar Rp41,5 triliun.
Maluku Utara, sebagai salah satu pusat produksi nikel global yang menyumbang 13-15 persen pasokan dunia, kini memainkan peran kritis dalam rantai pasok mineral kritis. Untuk memastikan keberlanjutan, pemerintah provinsi berupaya memperkuat pendidikan dan keterampilan warga setempat agar mereka bisa terlibat lebih aktif dalam sektor industri. Hal ini juga mencakup pengembangan program vokasi dan politeknik yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Keberhasilan hilirisasi harus diukur tidak hanya dari pertumbuhan ekonomi dan investasi, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat lokal bisa memperoleh manfaat langsung dari perkembangan industri,” kata Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.
Dalam konteks global yang semakin mementingkan aspek ESG, Chris Schlekat, Direktur Eksekutif NiPERA, menekankan bahwa kemampuan menunjukkan praktik keberlanjutan yang terverifikasi akan menjadi penentu utama akses pasar nikel di masa depan. “Dengan demikian, industri harus mengacu pada standar yang kredibel, relevan, dan berbasis sains agar klaim mereka dapat diukur secara objektif,” tambahnya.
Pandangan serupa disampaikan Ilse Schoeters, Co-head of Responsible Sourcing Glencore. Menurutnya, industri nikel Indonesia berkembang pesat dibandingkan negara-negara lain yang menghasilkan mineral serupa. “Ini menunjukkan potensi besar, tetapi juga tantangan dalam menjaga keberlanjutan secara konsisten,” ujarnya.
Kemajuan hilirisasi juga tercermin dari lonjakan nilai ekspor produk nikel, yang meningkat hampir sepuluh kali lipat, dari sekitar US$3,3 miliar pada 2018 menjadi US$34 miliar pada 2024. Angka ini menunjukkan peningkatan nilai tambah di dalam negeri, yang menjadi bukti kemajuan industri.
