Merajut Asa Mama-Mama NTT dari Balik Lembaran Tenun
Topics Covered – Di tengah kehidupan sebagai konsultan pertambangan, Stephanie Octorina Saing memutuskan untuk mengubah arah perjalanan bisnisnya dengan cara yang tak terduga. Mulai dari minat terhadap kain tenun tradisional Indonesia, ia menemukan peluang pemberdayaan yang tak hanya mengeksplorasi keindahan tekstil, tetapi juga memberikan harapan ekonomi bagi mama-mama NTT. Perjalanan ini berawal dari kebiasaan membeli kain daerah setiap kali melakukan perjalanan bersama organisasi mahasiswa pecinta alam, hingga akhirnya menjadi gerakan nyata untuk mengangkat kehidupan para perajin.
Dengan dukungan finansial dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), Stephanie berhasil menembus batas kecil dalam pengembangan usaha. Akses pembiayaan ini memungkinkan peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi produk, dan perluasan jaringan pemasaran. Pertama-tama, koleksi kain tenun hanya disimpan di rumah, tetapi pertemuan langsung dengan perajin membawa perubahan signifikan dalam visinya. “Mereka jual ke saya karena pas bulan Juni-Juli biasanya mau bayar sekolah anaknya,” ujarnya saat ditemui di Galeri Tinung Rambu, Tangerang, Banten.
“Sampai kapan beli-beli terus. Ini seperti ngasih ikan saja. Kalau terus begitu, tidak akan jadi apa-apa selain koleksi,” terang Stephanie.
Kisah Perjalanan ke Tangerang
Stephanie mulai menyadari kebutuhan untuk mengambil langkah lebih besar setelah bertemu secara langsung dengan perajin yang menjual karya mereka untuk kebutuhan ekonomi keluarga. Dari interaksi ini, ia menyakini bahwa tenun NTT memiliki potensi sebagai media pemberdayaan bagi para ibu-ibu penenun. “Suami bilang, sampai kapan beli-beli terus. Ini seperti ngasih ikan saja. Kalau terus begitu, tidak akan jadi apa-apa selain koleksi,” kenangnya dengan nada penuh semangat.
Perjalanan dari mengeksplorasi keindahan tenun hingga menciptakan usaha yang menjangkau pasar luas adalah proses yang membutuhkan komitmen. Dengan membangun kerja sama yang lebih intens, Stephanie mengejar visi mengangkat kesejahteraan mama-mama NTT. Usaha ini bertujuan memastikan seni lokal tetap hidup, sambil memberikan pendapatan yang stabil kepada para penenun.
Filosofi di Balik Nama Tinung Rambu
Dalam merancang nama Galeri Tinung Rambu, Stephanie memilih istilah yang mencerminkan peran perempuan dalam menjaga budaya. “Tinung” dalam bahasa Sumba mengacu pada tenun, sementara “rambu” menggambarkan perempuan. “Saya ingin menyampaikan bahwa tenun ini dikerjakan oleh perempuan, jadi namanya Tinung Rambu,” jelasnya. Nama ini tidak hanya menjadi penghormatan, tetapi juga simbol perjuangan para penenun yang telah lama menggantungkan hidup dari warisan budaya leluhur.
“Saya mau cari istilah yang filosofinya bahwa tenun ini dikerjakan oleh perempuan. Ya sudah, namanya Tinung Rambu, artinya tenun yang dikerjakan oleh perempuan,” tuturnya.
Kesadaran akan keunikan tenun dari setiap daerah, termasuk tingkat kecamatan, mendorong Stephanie untuk memperkenalkan seni lokal tersebut kepada pasar yang lebih luas. “Keistimewaan itu yang membuat tenun NTT tetap diminati hingga sekarang,” katanya. Kain tenun yang dihasilkan memiliki ciri khas yang membedakannya dari produk lain, sehingga mampu menarik perhatian kolektor dan pembeli.
Pengembangan Produk dan Jangkauan Pemasaran
Pada 2019, Stephanie memulai pengembangan produk dengan kolaborasi aktif para penenun. Kain yang dihasilkan direkayasa agar tetap mencerminkan identitas lokal, seperti Selendang Pahikung dari Sumba Timur. Selain itu, ia juga melakukan modifikasi ukuran dan warna untuk menyesuaikan dengan preferensi pasar modern. “Mulainya pada 2019, produk pertama yang kami jual adalah Selendang Pahikung,” ujarnya. Hasil produksi ini berhasil menggambarkan kekayaan budaya NTT sekaligus memberikan nilai ekonomi yang signifikan.
“Keistimewaan itu yang membuat tenun NTT tetap diminati dan dihargai oleh para kolektor hingga sekarang,” katanya.
Peluang Ekonomi dan Buku Katalog
Usaha ini bukan hanya tentang menjual kain, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan. Stephanie memperluas jaringan pemasaran dengan memanfaatkan media sosial dan kerja sama dengan pemain lokal. Buku katalog yang diterbitkan juga menjadi alat promosi untuk menjelaskan nilai seni dan budaya di balik setiap kain. “Kami ingin memastikan bahwa mama-mama penenun dikenal dan dihargai,” tambahnya. Langkah ini mencerminkan pendekatan yang holistik dalam pemberdayaan.
“Kami ingin memastikan bahwa mama-mama penenun dikenal dan dihargai,” katanya.
Keterlibatan dalam Masa Depan
Langkah-langkah Stephanie tidak hanya memberikan manfaat bagi para penenun, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kekayaan budaya NTT. Dengan menggabungkan pengalaman profesionalnya di bidang pertambangan, ia melihat potensi tenun sebagai sumber daya yang bisa dipertahankan. “Keberlanjutan itu penting agar warisan budaya tetap hidup di masa depan,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa Topics Covered tidak hanya fokus pada aspek ekonomi, tetapi juga pada peninggalan budaya yang memiliki nilai historis dan sosial.
