Dari Panggung PBB ke Jejak Nada – Perjalanan Musik Andi Rianto Penuh Kenangan
Pandangan tentang Musik dan Kenangan
Dari Panggung PBB ke Jejak Nada – Musik adalah cerminan dari kehidupan, dan untuk Andi Rianto, lagu-lagu yang ia ciptakan membawa kisah-kisah yang tak terlupakan. Dari panggung PBB ke karya yang dikenal sebagai “Jejak Nada”, perjalanan kariernya dihiasi oleh momen-momen yang selalu terasa seperti kembali ke masa lalu. Dalam wawancara eksklusif, Andi menjelaskan bahwa setiap nada yang dikeluarkan memiliki hubungan unik dengan pengalaman manusia, termasuk momen-momen penting yang mungkin sudah lama tersimpan dalam ingatan.
“Lagu itu bukan hanya rangkaian musik, tapi juga membawa kenangan-kenangan yang terus mengalir. Kalau kita mendengar suatu lagu, pasti kita mengingat momen pertama kali mendengarnya atau momen-momen spesial yang terkait dengan lagu itu,” ujarnya.
Andi menekankan bahwa kejujuran dalam karya musik adalah kunci untuk menggugah emosi pendengar. “Aku mencipta lagu bukan hanya untuk mengikuti tren, tapi untuk membagikan sesuatu yang benar-benar dari hati. Musik yang tulus, meski dibuat bertahun-tahun lalu, masih bisa mengisi jiwa orang yang mendengarnya,” lanjutnya.
Momen Paling Berkesan di PBB
Sebuah momen yang tak terlupakan dalam hidup Andi terjadi pada tahun 1987 ketika ia berkonser di markas besar PBB di New York. Saat itu, usia Andi baru 15 tahun, tetapi keberaniannya untuk tampil di panggung internasional memperlihatkan bakat yang luar biasa. Lagu yang dibawakannya, “Phinisi Nusantara,” menjadi bukti bahwa musik Indonesia mampu menyentuh hati dunia.
“Konser di PBB itu buat saya sangat berkesan. Sebagai anak muda, bisa menyampaikan karya cipta ke audiens internasional, itu momen yang nggak bisa dilupakan,” kata Andi Rianto.
Meski belum memiliki teknologi digital seperti sekarang, pengalaman tersebut mengukir kenangan yang tak tergantikan. “Foto-foto konser itu nggak ada, tapi saya masih ingat suara dan suasana saat itu,” ujarnya sambil mengingat kembali momen bersejarah itu.
Kemudian, ia juga menyoroti bagaimana karya-karyanya selalu membawa kisah yang terkait dengan kenangan. “Tidak semua lagu bisa disampaikan ke orang yang belum mengenalnya, tapi lagu-lagu yang berakar dari kehidupan, pasti bisa terus berdaur,” katanya.
Proses Mencipta Karya Musik
Perjalanan Andi Rianto sebagai musisi tidak hanya tentang keberhasilan, tetapi juga proses yang penuh tantangan. Dalam karyanya, ia memadukan elemen tradisional dan modern, menciptakan genre yang unik dan menyentuh. Dari panggung PBB hingga Jejak Nada, ia terus mencari ekspresi yang paling tepat untuk menyampaikan emosi.
“Aku suka memakai perasaan sebagai penggerak. Kalau sudah ada kenangan yang muncul dari hati, aku bisa melihat cara untuk menyampaikannya melalui musik,” ujarnya.
Sebagai komposer dan penata musik, Andi percaya bahwa setiap lagu yang lahir dari kejujuran akan menemukan jalannya sendiri. “Jejak Nada itu seperti buku kenangan. Lagu itu memuat perjalanan hidup saya, dari kecil hingga sekarang, dan mungkin juga akan menyentuh kenangan orang lain,” katanya dengan senyum.
Karya yang Menembus Generasi
Jejak Nada menjadi salah satu karya yang menggambarkan perjalanan Andi Rianto sebagai musisi. Lagu-lagu dalam album ini tidak hanya menawarkan irama yang mengalir, tetapi juga mengandung cerita yang memperkaya pengalaman pendengarnya. Dari panggung PBB ke Jejak Nada, ia terus berusaha menyampaikan pesan yang mungkin sudah lama tersimpan dalam diri pendengar.
“Jejak Nada itu bukan sekadar lagu, tapi seperti alur waktu. Setiap nada dalam album ini memikirkan kenangan-kenangan yang mungkin orang lain juga punya,” ujarnya.
Andi Rianto juga menekankan bahwa musik bisa menjadi jembatan antargenerasi. “Kalau kita membuat lagu dengan hati, maka orang dari masa lalu atau masa depan bisa merasakan yang sama. Itu yang membuat musik bisa bertahan lama,” katanya.
Masa Depan dalam Musik
Saat ini, Andi Rianto tidak berhenti berkarya. Ia terus berinovasi, mencoba menggabungkan tradisi dengan kesan modern. Dari panggung PBB ke Jejak Nada, ia memastikan bahwa karya-karyanya tetap relevan dan bisa diakses oleh berbagai generasi.
“Saya masih ingin mengeksplorasi musik. Tidak ada akhir dalam berkiprah, hanya perjalanan yang terus berlanjut,” ujar Andi.
Dalam wawancara, ia juga mengungkapkan rencana kolaborasi dengan musisi lintas generasi, seperti Tulus, Krisdayanti, Nadhif Basalamah, Anggi Marito, dan Didiie Shazry. “Kolaborasi ini akan menjadi bagian dari perjalanan musik saya, yang terus membawa kenangan-kenangan baru,” katanya dengan harapan.
