Kolaborasi Malique, Zizi Kirana, dan Yasin Sulaiman: Lagu “Yang Tinggal” yang Mengusung Pesan Perdamaian
Beritabaru1.com – Lagu “Yang Tinggal” menjadi bukti kolaborasi musik bersejarah antara Malique, Zizi Kirana, dan Yasin Sulaiman, tiga seniman dari Malaysia yang menggabungkan suara mereka untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Proyek ini dipercayakan oleh Icon Records dalam inisiatif Premium Artist Collaboration 2026, yang bertujuan memperkuat kepedulian global terhadap korban konflik, khususnya anak-anak dan warga sipil di Palestina. Bagi pecinta musik Indonesia, Malique dikenal sebagai mantan anggota duo hip-hop Too Phat yang pernah mengguncang industri musik Tanah Air pada awal 2000-an.
Konsep Kolaborasi yang Unik dan Berarti
Kolaborasi “Yang Tinggal” menggabungkan elemen musik dari berbagai budaya dan latar belakang, yang membuatnya menjadi karya yang dinamis dan bermakna. Key Discussion ini tidak hanya terbatas pada alur musik, tetapi juga pada isu-isu sosial yang mendesak. Dalam rangkaian program Icon Records, lagu ini menjadi simbol kerja sama lintas generasi dan wilayah, menggambarkan bagaimana musik bisa menjadi jembatan antar budaya. Yasin Sulaiman, yang menjadi bagian dari proyek ini, mengungkapkan bahwa lagu ini dibuat sebagai bentuk penghargaan terhadap kehidupan yang terancam.
Proses rekam lagu ini memerlukan perjalanan panjang sejak pertengahan 2025. Pemilihan tema lagu berdasarkan kisah tragis dari medan perang menjadi fokus utama Key Discussion. Malique, Zizi Kirana, dan Yasin Sulaiman saling melengkapi dengan gaya musik yang berbeda, menciptakan harmoni yang menyentuh. Dalam pengambilan suara, Yasin Sulaiman yang sedang menjalani perawatan di Hospital Bahagia menjadi pusat perhatian, dengan produser Tripdisz membawa peralatan profesional langsung ke rumah sakit untuk merekam suaranya.
Proses Rekaman dan Teknik Musik yang Berbeda
Key Discussion dalam pembuatan lagu ini juga mencakup penggunaan teknik musik yang inovatif. Aransemen musik sinematik menggabungkan lirik Bahasa Melayu, syair Arab, dan bahasa Hebrew, menggambarkan keragaman budaya yang terlibat dalam proyek ini. Zizi Kirana, yang merekam sebagian vokalnya sambil menjalani misi flotila kemanusiaan, mengatakan bahwa lagu ini lahir dari keinginan untuk menyampaikan dukungan kepada pengungsi Suriah melalui suara anak-anak.
Di sisi lain, Malique mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam lagu ini adalah bentuk kepedulian terhadap keadaan di tanah Syam. Dengan adanya Voices of Bilad al-Sham Children’s Choir, lagu ini menjadi representasi kepedulian global yang terbentuk melalui kebersamaan musisi lintas batas. Proses rekaman yang berlangsung di tengah situasi sulit ini menunjukkan komitmen kuat para seniman untuk menghadirkan karya yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menyentuh hati.
Tragedi yang Menjadi Inspirasi Utama
“Dengan tangan kecilnya yang masih memegang roti untuk ibu, ia pergi tanpa suara.”
Key Discussion tentang lirik “Yang Tinggal” bermula dari kisah seorang anak kecil yang meninggal akibat serangan bom saat membeli roti untuk ibunya. Saat jasadnya ditemukan, tangan kecilnya masih menggenggam roti tersebut, menjadi simbol kesedihan yang dalam. Tragedi ini dijadikan sebagai bait reff yang menggugah, dengan lirik yang menyampaikan kepedulian terhadap kehidupan yang terancam. Icon Records menjelaskan bahwa proyek ini adalah bagian dari master plan 2026, yang bertujuan menghadirkan karya dengan dampak sosial yang nyata.
Dalam Key Discussion, lagu ini tidak hanya menjadi pengingat akan kesedihan, tetapi juga ajakan untuk bersatu dalam upaya menciptakan perdamaian. Aransemen musik yang menceritakan perjalanan emosional korban konflik menunjukkan bagaimana musik bisa menjadi alat untuk menyampaikan pesan yang mendalam. Dengan kehadiran suara anak-anak pengungsi, lagu ini memberikan dimensi unik yang memperkuat kesan emosionalnya.
Kontribusi Setiap Seniman dalam Kolaborasi
Kolaborasi ini memperlihatkan keberagaman keterampilan yang dimiliki para seniman. Malique, dengan pengalaman sebagai penulis lagu dan vokalis, memastikan alur cerita yang terasa alami. Zizi Kirana, yang dikenal sebagai penabuh dan vokalis, menyumbangkan nuansa yang memperkaya struktur musik. Sementara Yasin Sulaiman, sebagai penulis lirik dan produser, membawa elemen spiritual dan emosional yang menyatukan suara ketiga musisi.
Key Discussion tentang peran masing-masing seniman juga menekankan bagaimana mereka mampu mengadaptasi gaya musik mereka ke dalam konsep yang sama. Dalam sebuah wawancara, Zizi Kirana mengatakan bahwa ketiga musisi berkomitmen untuk menciptakan lagu yang bisa dinyanyikan oleh siapa pun, terlepas dari latar belakang mereka. Ini menunjukkan bahwa musik bisa menjadi media universal untuk menyampaikan pesan yang sama.
Respons Publik dan Harapan Masa Depan
Karya “Yang Tinggal” telah mencuri perhatian penggemar musik di berbagai platform digital. Key Discussion terkait dengan respon publik menunjukkan bahwa lagu ini berhasil menyentuh hati banyak orang. Dengan hadirnya suara anak-anak dan musisi lintas generasi, proyek ini menjadi contoh nyata bagaimana musik bisa digunakan untuk menyampaikan pesan perdamaian.
Icon Records berharap lagu ini bisa menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk terus peduli pada isu-isu yang ada di berbagai belahan dunia. Dalam Key Discussion, mereka menyatakan bahwa proyek ini akan terus dikembangkan, termasuk rencana pembuatan video musik yang menampilkan perjalanan ke Palestina dan Suriah. Selain itu, mereka juga berencana mengadakan acara diskusi musik di berbagai kota, untuk mendorong kolaborasi lebih lanjut.

