Hana Saraswati Kenang Gary Iskak di Film Lastri: Arwah Kembang Desa
Key Issue – Aktris Hana Saraswati kembali memperkuat koneksi dengan aktor legendaris Gary Iskak melalui film horor Indonesia terbarunya, *Lastri: Arwah Kembang Desa*, yang disutradarai Hendri Tjan. Proyek ini menjadi momen istimewa bagi Hana, karena memungkinkan ia menyampaikan kisah penuh makna yang menggambarkan ketakutan dan emosi dalam setting zaman 1980-an. Dalam film ini, Hana memerankan Lastri, sosok arwah yang menemukan jalan keluar dari keluhan hidupnya, dengan Gary Iskak sebagai salah satu bintang utama sebelum wafat.
Kenangan dengan Gary Iskak dan Proses Kerja
Dalam acara konferensi pers di Jakarta, Hana berbagi cerita tentang pengalaman kerja bersama Gary Iskak, yang menjadi salah satu proyek terbesar dalam karier aktornya. Meski Gary telah meninggal sebelum film ini selesai produksi, kehadirannya dalam proses syuting memberikan dampak mendalam. “Awalnya melihat penampilannya, aku pikir dia tipe aktor yang menakutkan, tapi setelah berbicara, hatinya justru sangat hangat, seperti ‘Hello Kitty’,” ujar Hana, Kamis (11/6). Ia menekankan bahwa Gary tidak hanya memberikan peran yang memukau, tetapi juga membangun iklim kehangatan yang memudahkan kolaborasi.
Menurut Hana, kerja dengan Gary Iskak memperkaya pemahaman tentang dunia perfilman Indonesia. “Dia adalah aktor yang bisa membawa kisah hidupnya ke layar lewat ekspresi yang sangat tajam dan spontan. Sifatnya yang ramah dan jujur membuat setiap sesi syuting terasa seperti dialog pribadi,” tambahnya. Selain itu, Gary juga membantu Hana mengatasi rasa takut pada genre horor, yang ia anggap menjadi tantangan terbesar dalam peran Lastri.
“Gary selalu memberi saran yang sangat relevan, bahkan tentang cara mengekspresikan kecemasan dan rasa takut secara alami. Dengan dia, aku merasa tidak sendirian dalam menciptakan karakter ini,” katanya.
Dalam film *Lastri: Arwah Kembang Desa*, Gary Iskak memerankan Turenggo, seorang pengusaha tambang yang menjadi pusat konflik dalam kisah ini. Meski sudah wafat, kehadirannya masih terasa melalui adegan yang dipenuhi emosi dan kesan menegangkan.
Tantangan Membangun Karakter dan Konteks Historis
Membawa karakter Lastri ke layar bukan hanya soal ekspresi wajah, tetapi juga tentang memahami suasana politik dan sosial era 1980-an. Hana mengakui perlu berusaha ekstra untuk menciptakan hubungan emosional yang otentik. “Kehidupan di masa itu berbeda jauh dari sekarang, terutama dalam hal adat istiadat dan struktur keluarga. Saya harus mencermati detail kecil agar penonton merasa terhubung,” jelasnya. Dengan bantuan pemain senior dan riset mendalam, Hana berhasil membangun karakter yang khas dan relevan.
“Proses pendalaman karakter paling efektif dilakukan dengan membaca naskah secara berulang dan berdiskusi dengan tim. Terkadang, saya juga mengamati kehidupan sehari-hari orang-orang di desa untuk mengambil inspirasi,” tutur Hana.
Ia menjelaskan bahwa kisah Lastri menggambarkan perjuangan perempuan dalam kehidupan desa yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan kekuasaan. “Dunia arwah yang dihadirkan bukan hanya menakutkan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang ketidakadilan dan penindasan yang masih relevan hari ini,” tambahnya.
Kisah *Lastri: Arwah Kembang Desa* berlatar belakang di desa Bandeng, yang dulu dikenal sebagai kawasan tambang pasir. Masyarakat desa terbelah antara keuntungan ekonomi dan korban yang muncul. Dalam film ini, Lastri menjadi korban dari kesenjangan sosial dan keracunan lingkungan. Hana menegaskan bahwa film ini memiliki makna khusus, karena menjadi salah satu karya terakhir Gary Iskak yang menggabungkan kisah horor dengan isu keadilan sosial.
“Saya harap film ini bisa memberi perhatian khusus pada isu-isu yang diangkat, seperti ketimpangan dan dampak industrialisasi terhadap masyarakat desa. Gary Iskak sendiri selalu menekankan bahwa kisah harus bermakna lebih dari sekadar seram,” pungkas Hana.
Dengan memadukan elemen horor, drama, dan sosial, *Lastri: Arwah Kembang Desa* diharapkan menjadi referensi baru dalam industri film Indonesia. Selain Hana dan Gary Iskak, film ini juga menampilkan aktor dan aktris lain yang mendukung narasi yang kompleks dan menyentuh.
Key Issue terus menjadi fokus utama dalam karya ini, karena melalui Lastri, penonton diajak memikirkan konflik yang masih relevan hingga hari ini. Dengan drama menegangkan dan pesan sosial yang jelas, film ini menjadi bukti bahwa kisah horor bisa mengangkat isu-isu penting dalam kehidupan masyarakat. Hana Saraswati berharap karya ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi refleksi terhadap kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tekanan dan ketidakadilan.
