Dokter Indonesia Kembangkan AI Bantu Deteksi Dini Gagal Jantung
Beritabaru1.com – Teknologi kesehatan terus berkembang dengan pesat, dan salah satu inovasi terbaru berasal dari kalangan tenaga medis di Indonesia. Seorang dokter spesialis kardiovaskular, Dr. dr. Rony M. Santoso, Sp.JP, Subsp. K.I.(K), FIHA, telah mengembangkan alat berbasis kecerdasan buatan (AI) yang bertujuan untuk memudahkan deteksi dini kondisi gagal jantung. Alat ini, yang diberi nama Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure (NAVI-HF), merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan selama disertasinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Dengan teknologi ini, dokter Indonesia Kembangkan AI Bantu dapat memberikan layanan kesehatan yang lebih efisien dan akurat, terutama dalam pemantauan pasien yang rentan.
Tentang NAVI-HF
NAVI-HF dirancang sebagai alat bantu untuk mendeteksi risiko perburukan pada pasien gagal jantung. Alat ini berbeda dari alat diagnostik tradisional seperti stetoskop yang bergantung pada pendengaran manusia. Dengan menggunakan algoritma AI, NAVI-HF mampu menganalisis suara jantung dari lima titik pemeriksaan selama sekitar satu menit. Teknologi ini tidak hanya memberikan hasil yang lebih cepat, tetapi juga meningkatkan keandalan dalam mengidentifikasi tanda-tanda awal penyakit yang sering terlewat oleh metode konvensional.
Dokter Indonesia Kembangkan AI Bantu mengatakan bahwa alat ini merupakan jawaban atas tantangan yang sering dihadapi dalam sistem kesehatan nasional. Gagal jantung adalah penyakit yang memerlukan perhatian khusus karena kejadian kambuh atau perburukan bisa sangat berbahaya bagi pasien. Dengan NAVI-HF, dokter dapat mengambil keputusan lebih cepat dalam menilai kondisi pasien, terutama untuk yang berada dalam kondisi kritis atau memerlukan pemantauan jangka panjang. Alat ini diharapkan bisa menjadi bagian dari sistem layanan kesehatan modern yang lebih responsif dan berbasis teknologi.
Pengembangan NAVI-HF merupakan hasil kolaborasi antara dokter spesialis dan para peneliti di bidang AI. Alat ini memanfaatkan data suara jantung yang dianalisis menggunakan algoritma canggih, sehingga mampu mengenali pola-pola yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Teknologi ini juga dirancang agar lebih mudah digunakan oleh tenaga medis di berbagai tingkatan, baik di rumah sakit maupun di pusat kesehatan masyarakat. Dengan bantuan AI, proses pemeriksaan bisa lebih akurat dan efisien, terutama dalam lingkungan yang terbatas sumber daya.
Meski demikian, Dokter Indonesia Kembangkan AI Bantu menegaskan bahwa alat ini tidak dirancang untuk menggantikan peran dokter dalam menegakkan diagnosis. NAVI-HF lebih sebagai asisten untuk mempercepat proses identifikasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, terutama di daerah yang kurang dilengkapi tenaga medis berkualitas tinggi.
Peluncuran NAVI-HF juga sejalan dengan kebutuhan meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan di Indonesia. Dengan kemampuan pemantauan jarak jauh, alat ini bisa digunakan dalam layanan telemedicine, yang sangat penting di tengah perkembangan digitalisasi kesehatan. Dokter Indonesia Kembangkan AI Bantu berharap teknologi ini bisa menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi beban kerja tenaga medis dan mencegah risiko komplikasi yang sering terjadi pada pasien gagal jantung.
Dalam uji coba yang melibatkan 246 pasien gagal jantung akut, NAVI-HF menunjukkan performa yang sangat menggembirakan. Tingkat akurasinya mencapai sekitar 86 persen, dengan sensitivitas hingga 91 persen dan spesifisitas 82 persen dibandingkan dengan pemeriksaan ultrasonografi paru. Hasil analisis menunjukkan bahwa pasien dengan rencana positif dari alat ini memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang. Hal ini menunjukkan bahwa alat ini tidak hanya mempercepat proses deteksi, tetapi juga meningkatkan prediksi kesehatan yang lebih akurat.

