Faktor Genetik Tidak Menentukan Secara Utama, Ini Penjelasan dari Ahli Gizi
Faktor Genetik bukan Penyebab Utama Obesitas. Dalam sebuah seminar kesehatan yang diadakan di Jakarta pada Kamis (18/6), ahli gizi klinik dr. Maryam, Sp.GK, membantah anggapan bahwa kegemukan hanya disebabkan oleh warisan genetik. Menurutnya, faktor keturunan hanya berkontribusi sekitar 20 persen terhadap risiko seseorang mengalami obesitas. Jadi, meskipun genetik memainkan peran, ia bukan penyebab utama. Penjelasan ini penting untuk memperjelas bahwa faktor genetik bukan penyebab utama, tetapi bisa menjadi salah satu dari banyak elemen yang memengaruhi kondisi ini.
Mengapa Genetik Tidak Menjadi Penyebab Utama?
Pada seminar tersebut, dr. Maryam menjelaskan bahwa obesitas adalah kondisi kompleks yang melibatkan interaksi antara berbagai faktor, termasuk genetik, lingkungan, dan gaya hidup. Ia menegaskan bahwa faktor genetik bukan penyebab utama, melainkan salah satu dari banyak aspek yang berkontribusi. Misalnya, genetik bisa memengaruhi metabolisme, preferensi rasa, atau kecenderungan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori, tetapi kebiasaan sehari-hari dan lingkungan sekitar memiliki pengaruh yang lebih signifikan. “Faktor genetik bukan penyebab utama, jadi kita bisa mengubah pola hidup untuk mencegahnya,” tambahnya.
Menurut dr. Maryam, genetik memang bisa memengaruhi risiko seseorang mengalami obesitas, tetapi pengaruhnya terbatas. Sebagai lulusan Universitas Indonesia, ia menjelaskan bahwa faktor lingkungan seperti akses makanan, lingkungan sosial, dan tingkat aktivitas fisik bisa diubah. “Kita bisa membangun pola hidup sehat meskipun ada faktor genetik bukan penyebab utama,” ujarnya. Ini berarti, meskipun seseorang memiliki kecenderungan genetik, ia tetap memiliki peluang besar untuk mengubah kondisi tersebut melalui tindakan sehari-hari.
Definisi Obesitas dan Peran Komposisi Tubuh
Dalam menegaskan konsep ini, dr. Maryam menekankan pentingnya memahami definisi obesitas secara lebih akurat. Ia menjelaskan bahwa obesitas tidak hanya diukur dari angka timbangan berat badan, tetapi lebih berkaitan dengan komposisi tubuh, terutama kadar lemak yang berlebihan. “Faktor genetik bukan penyebab utama, tetapi bisa memengaruhi distribusi lemak di tubuh,” tambahnya. Ini berarti, seseorang dengan faktor genetik bukan penyebab utama mungkin tetap bisa mempertahankan berat badan ideal jika mengadopsi pola hidup sehat.
Ia juga menyebutkan fenomena “skinny fat”, di mana seseorang tampak kurus secara fisik tetapi memiliki kadar lemak tubuh yang tinggi. Kondisi ini sering diabaikan karena tidak terlihat dari berat badan, tetapi berisiko besar terhadap penyakit seperti diabetes atau penyakit jantung. “Faktor genetik bukan penyebab utama, tapi jika kita hanya fokus pada berat badan, kita mungkin tidak menyadari masalah komposisi tubuh,” tegas dr. Maryam. Dengan memahami bahwa faktor genetik bukan penyebab utama, kita bisa lebih fokus pada strategi yang benar untuk menurunkan lemak tubuh, bukan hanya berat badan.
Faktor Lingkungan dan Perilaku Sehari-hari
Kontribusi faktor lingkungan dan perilaku sehari-hari jauh lebih besar dari faktor genetik bukan penyebab utama. Menurut dr. Maryam, lingkungan sosial dan budaya berperan kritis dalam menentukan pola makan dan aktivitas fisik. Misalnya, anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan akses mudah ke makanan cepat saji lebih cenderung mengalami obesitas, meskipun genetik bukan penyebab utama. Ia juga menyebutkan bahwa faktor seperti stres, kurang tidur, dan pola kerja yang tidak sehat bisa memicu peningkatan nafsu makan dan mengurangi metabolisme.
Dr. Maryam menyarankan bahwa pengaturan lingkungan dan kebiasaan hidup bisa menjadi solusi efektif. “Faktor genetik bukan penyebab utama, jadi kita bisa mengubah lingkungan untuk mendukung kesehatan tubuh,” jelasnya. Dengan memahami bahwa faktor genetik bukan penyebab utama, individu bisa lebih percaya diri dalam mengambil langkah-langkah seperti olahraga rutin, mengurangi konsumsi gula, atau makanan tinggi lemak, serta menghindari kebiasaan tidak sehat.
Lebih lanjut, dr. Maryam menyoroti bahwa faktor genetik bukan penyebab utama bisa diperkuat oleh kebiasaan hidup yang baik. Misalnya, seseorang yang memiliki genetik cenderung gemuk tetapi tetap bisa menjaga berat badan ideal dengan mengatur pola makan dan berolahraga secara teratur. “Kita tidak boleh menganggap faktor genetik bukan penyebab utama sebagai alasan untuk tidak berusaha,” katanya. Ini menunjukkan bahwa meskipun genetik berpengaruh, tindakan individu tetap mampu mengatasi masalah obesitas.
Langkah-Langkah untuk Mencegah Obesitas
Menurut dr. Maryam, pencegahan dan pengelolaan obesitas memerlukan pendekatan holistik yang mencakup perubahan lingkungan, gaya hidup, dan pola makan. “Faktor genetik bukan penyebab utama, jadi kita bisa mengubah lingkungan untuk mendukung kesehatan tubuh,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya olahraga secara teratur, pola makan seimbang, dan manajemen stres. “Faktor genetik bukan penyebab utama, tapi dengan kombinasi tindakan yang tepat, kita bisa mengurangi risiko obesitas secara signifikan,” tambahnya.
Dalam seminar tersebut, dr. Maryam juga memberikan contoh nyata bagaimana faktor genetik bukan penyebab utama bisa diatasi. Ia menyebutkan bahwa banyak orang yang memiliki genetik cenderung gemuk tetapi berhasil menurunkan berat badan dengan mengadopsi gaya hidup sehat. “Kita harus mengubah perilaku sehari-hari, bukan hanya mengandalkan genetik bukan penyebab utama,” katanya. Dengan memahami bahwa faktor genetik bukan penyebab utama, individu bisa lebih konsisten dalam berkomitmen untuk hidup sehat, terlepas dari latar belakang keluarga mereka.
Dengan penjelasan dari ahli gizi klinik dr. Maryam, masyarakat kini lebih memahami bahwa faktor genetik bukan penyebab utama. Ini memberikan harapan baru untuk mencegah dan mengatasi obesitas melalui perubahan lingkungan dan kebiasaan hidup. “Faktor genetik bukan penyebab utama, tapi kita bisa mengubah kondisi dengan tindakan yang tepat,” tegas dr. Maryam. Dengan pendekatan ini, kita tidak hanya mengurangi risiko obesitas, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara jangka panjang.
