Bedah Buku Konservasi Berbasis Masyarakat di Invirotech Expo 2026
Key Discussion menjadi salah satu rangkaian utama dalam Invirotech Expo 2026 yang diadakan di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Jumat (12/6). Acara ini diinisiasi oleh PROSPECT Institute sebagai wadah untuk memperkenalkan buku terbaru mereka, Konservasi Berbasis Masyarakat: Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Indonesia, serta menggali perspektif dan pengalaman dari berbagai program konservasi yang telah dijalankan. Selama sesi ini, peserta dan pembicara mendiskusikan bagaimana partisipasi masyarakat dapat menjadi pilar utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan kekayaan alam Indonesia.
Perspektif Lintas Disiplin dalam Konservasi
Konservasi berbasis masyarakat bukan hanya sekadar upaya melindungi habitat alami, tetapi juga strategi yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya, dan masyarakat lokal. Dalam Key Discussion, para pembicara menjelaskan bahwa buku ini dirancang untuk menjadi sumber referensi strategis yang mengintegrasikan data lapangan, praktik terbukti, serta tantangan nyata yang dihadapi dalam upaya pelestarian lingkungan. Sesi ini diharapkan mampu memicu diskusi yang lebih dalam mengenai peran aktif masyarakat dalam menciptakan solusi berkelanjutan.
“Buku ini menggambarkan hasil kerja sama lintas sektor dan pengalaman di lapangan yang menjadi dasar pengambilan keputusan. Kami berharap, Key Discussion ini mampu memperkuat kesadaran kolektif bahwa konservasi tidak bisa terlepas dari partisipasi masyarakat,” ujar Wahyu Purwanto, Operation Director Prospect Institute sekaligus penulis buku tersebut.
Peserta acara termasuk Rahadiyand Aditya, dosen dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang turut meninjau materi buku. Dalam diskusi, ia menekankan pentingnya pendekatan partisipatif dalam konservasi, terutama untuk memastikan keberlanjutan program yang dirancang. Selain itu, Bakhtiar Fahmi Fuadi, Senior Environmental Consultant Prospect Institute, menjelaskan bagaimana pendokumentasian pengetahuan dari lapangan bisa menjadi basis untuk pengembangan strategi yang efektif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Peluang Kolaborasi Lintas Sektor
Sesi bedah buku ini juga membuka ruang bagi pembicara dan peserta untuk berbagi wawasan mengenai tantangan dan peluang dalam konservasi. Wahyu Purwanto menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal merupakan kunci keberhasilan program konservasi. Ia menjelaskan bahwa buku ini menggabungkan berbagai kasus nyata, seperti program pengelolaan hutan konservasi bersama masyarakat di Kalimantan dan Sumatra, yang menunjukkan bahwa partisipasi aktif masyarakat mampu meningkatkan efektivitas upaya pelestarian.
“Konservasi adalah proses yang berkelanjutan, dan peran masyarakat harus tetap menjadi fokus utama. Key Discussion ini bertujuan untuk membangun kesadaran bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada komitmen bersama,” tambah Wahyu.
Dalam rangkaian acara ini, PROSPECT Institute juga mengupas metode pengelolaan program yang berdampak jangka panjang. Sesi From Field to Insight: Integrasi Program Development dan Facilitation yang Berdampak menjadi bagian penting untuk mengeksplorasi bagaimana pembelajaran di lapangan dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan dan strategi konservasi. Diskusi ini menyoroti peran konsultasi dan pendampingan yang lebih dekat dengan masyarakat, serta bagaimana data yang diperoleh bisa diubah menjadi kebijakan yang adaptif dan berkelanjutan.
Key Discussion ini juga memberikan wawasan tentang kebutuhan akan pendokumentasian pengalaman dan data yang telah teruji. Dengan memperkenalkan buku konservasi berbasis masyarakat, PROSPECT Institute ingin menginspirasi lembaga lain untuk mengadopsi pendekatan serupa dalam pengelolaan lingkungan. Selain itu, acara ini bertujuan mengukuhkan bahwa partisipasi masyarakat bukan hanya menjadi bagian dari solusi, tetapi juga sebagai inti dari perubahan yang berkelanjutan.
Para peserta dan pembicara menyampaikan bahwa Key Discussion ini menjadi platform penting untuk membangun jejaring kolaborasi antar sektor. Dengan menggabungkan wawasan akademisi, pengalaman lapangan, dan kebutuhan masyarakat, acara ini diharapkan mampu menciptakan konsensus mengenai pentingnya konservasi sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Wahyu Purwanto menutup sesi dengan pesan bahwa konservasi adalah tanggung jawab bersama, dan buku ini menjadi alat untuk memperkuat komitmen tersebut.
