Key Discussion: BRIN Tegaskan Risiko Hantavirus Menjadi Pandemi Rendah, Tapi Indonesia Butuh Lab Tingkat Tinggi
Key Discussion tentang potensi Hantavirus menyebar secara pandemi di Indonesia dinilai relatif rendah oleh Profesor Masdalina Pane, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Namun, ia menekankan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan untuk mengatasi ancaman virus ini. Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, antara tahun 2024 hingga 2026 tercatat 23 kasus Hantavirus, dari mana 20 orang sembuh dan 3 korban meninggal. Meski risiko terhadap pandemi rendah, Masdalina mengingatkan bahwa persiapan dan sistem deteksi harus tetap kuat.
Potensi Penyebaran dan Penanganan di Indonesia
Key Discussion mengenai virulensi Hantavirus di Indonesia menunjukkan bahwa spesies tikus lokal seperti *Rattus norvegicus* dan *Rattus rattus* adalah sumber utama penularan. Penyebaran virus ini melalui kontak dengan cairan tubuh tikus, seperti urine atau ludah, menjadi faktor kunci dalam epidemiologi. Meski demikian, kematian akibat Hantavirus di Indonesia tergolong langka dibandingkan negara lain seperti Argentina atau Cina, yang melaporkan ratusan hingga ribuan kasus setiap tahun. Dinas Kesehatan DKI Jakarta, misalnya, mencatat enam pasien yang diduga terpapar virus hingga pertengahan Mei 2026.
“Di Argentina, varian Hantavirus yang menyebabkan HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) mencatat 70 kasus per tahun, sementara di Cina dan Korea Selatan, jumlahnya mencapai ribuan kasus setiap tahun,” ujar Masdalina.
Dampak Usia pada Gejala Infeksi
Key Discussion tentang gejala Hantavirus menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan usia penderita. Pada orang dewasa, gejala awal seperti demam dan sakit kepala sering diabaikan, sementara pada anak-anak, suhu tubuh bisa mencapai 38,5°C. Selain itu, mual dan muntah muncul lebih sering, mirip dengan gejala infeksi lain. Namun, ketika kondisi memburuk dalam jam-jam pertama, tanda-tanda serius seperti infiltrasi plasma dan gagal ginjal akut muncul, menyerupai gejala demam berdarah.
Masdalina memperingatkan bahwa keterlambatan diagnosis bisa berakibat fatal. “Gejala dini harus dikenali secara tepat agar tindakan cepat dapat diambil,” katanya dalam Key Discussion dengan Eddy Wijaya di podcast EdShareOn pada 20 Mei 2026.
Perbedaan Strain dan Kesiapan Nasional
Key Discussion mengenai variasi strain Hantavirus mengungkapkan bahwa ada lebih dari 300 jenis, 41 di antaranya berpotensi menyerang manusia. Strain Andes, yang ditemukan di Indonesia, tergolong lebih ringan dibandingkan strain lain seperti Seoul Virus (SEOV) yang pernah menyebar di perang Jepang-Korea pada 1950-an. Saat itu, 3 ribu tentara PBB terpapar SEOV, menunjukkan kemungkinan penyebaran lebih luas jika tidak diantisipasi.
Masdalina menekankan bahwa meski risiko pandemi rendah, sistem laboratorium tingkat keamanan tinggi (BSL-4) tetap diperlukan untuk penelitian mendalam. “Di masa lalu, Hantavirus sudah menunjukkan kemampuan menyebar antarmanusia, sehingga persiapan klinis dan laboratorium harus lebih matang,” tambahnya dalam Key Discussion.
Kesiapan Hadapi Ancaman Biologi
Key Discussion mengenai kesiapan Indonesia terhadap virus berpotensi pandemi seperti Hantavirus mengingatkan bahwa negara ini hanya memiliki laboratorium BSL-3, sementara BSL-4 lebih diperlukan. Masdalina menyebutkan bahwa mikroorganisme kategori A memiliki kemungkinan digunakan sebagai senjata biologi, dan kesiapan memerlukan investasi yang lebih besar. “Sistem deteksi dan respons harus siap menghadapi situasi terburuk, meski probabilitasnya rendah,” katanya.
Dalam Key Discussion, ia juga menyoroti pentingnya pencegahan sejak dini. “Penyebaran Hantavirus sangat bergantung pada lingkungan, jadi masyarakat harus memastikan makanan disimpan rapat dan rumah bebas dari tikus,” terang Masdalina. Dengan adanya laboratorium tingkat tinggi, peneliti dapat mengembangkan vaksin atau obat jika virus mengalami mutasi atau penyebaran yang tidak terduga.
Kesiapan nasional terhadap Hantavirus menjadi penting karena virus ini tidak hanya menyebabkan gejala ringan, tetapi juga bisa berdampak serius jika tidak diatasi secara tepat. Dengan Key Discussion yang terus dilakukan oleh BRIN, upaya mitigasi dan penelitian akan lebih efektif, memperkuat sistem kesehatan Indonesia dalam menghadapi ancaman biologis di masa depan.
