Key Discussion: NasDem Desak Penguatan Implementasi UU TPKS untuk Edukasi Stop Kekerasan Perempuan
Key Discussion – Dalam rangka Key Discussion yang digagas oleh Akademi Perempuan NasDem, kegiatan penayangan film “Suamiku Lukaku” di Jakarta kembali menjadi ajang advokasi penting. Acara nobar ini menghadirkan masyarakat umum, komunitas, serta organisasi perempuan untuk menyelami isu kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui narasi visual. Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan edukasi menyeluruh dan membangun kesadaran kolektif tentang perlunya perubahan kebijakan serta peningkatan perlindungan bagi korban kekerasan di Indonesia.
Kebutuhan Penguatan Implementasi UU TPKS
Ketua DPP NasDem Bidang Perempuan dan Anak, Amelia Anggraini, menekankan bahwa Key Discussion ini menjadi momentum untuk memperkuat penerapan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Menurut Amelia, penguatan implementasi UU ini penting agar korban kekerasan bisa lebih mudah mendapatkan akses ke layanan bantuan hukum dan restitusi. “Key Discussion ini mengingatkan bahwa KDRT bukan hanya urusan keluarga, tapi juga hak asasi manusia yang harus dipertahankan melalui regulasi yang konsisten,” jelasnya.
“Masyarakat sering kali menganggap kekerasan sebagai masalah privasi, padahal UU TPKS dan PKDRT menyediakan ruang untuk mengubah persepsi itu. Dengan Key Discussion, kami ingin memastikan kebijakan tidak hanya terbentuk di kertas, tapi juga berdampak nyata di lapangan,” tambah Amelia.
Amelia mengungkapkan bahwa implementasi UU TPKS dan PKDRT masih menghadapi tantangan, terutama dalam penegakan hukum dan pemberdayaan korban. Meski regulasi sudah ada, banyak kasus kekerasan yang tidak dilaporkan karena ketakutan pelaku atau kebiasaan korban untuk diam. Key Discussion ini diharapkan bisa menjadi sarana untuk menggali perubahan mind set dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengawasi penerapan hukum.
Peran Film dalam Pendidikan Anti-Kekerasan
Penayangan film “Suamiku Lukaku” yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan ketiga Akademi Perempuan NasDem, didesain agar mampu menyampaikan pesan edukatif secara menyentuh. Film ini menggambarkan berbagai bentuk kekerasan, termasuk psikis, ekonomi, dan seksual, yang sering kali diabaikan dalam diskusi umum. “Key Discussion kali ini membuktikan bahwa seni bisa menjadi alat perubahan sosial,” ujar Amelia. Dengan narasi yang emosional, film ini diharapkan mampu memicu refleksi dan tindakan dari penonton.
Sebagai bagian dari Key Discussion, NasDem juga menyoroti pentingnya pembangunan kesadaran masyarakat tentang perlunya melaporkan kekerasan. Partai tersebut menekankan bahwa akses ke layanan bantuan hukum, seperti SAPA 129 dan UPTD PPA, harus dipermudah. “Key Discussion ini mengajak masyarakat untuk tidak ragu melaporkan kasus, karena itu adalah langkah berani untuk memperjuangkan hak perempuan,” tegasnya.
Dalam kegiatan nobar, para peserta juga diberi informasi tentang berbagai bentuk kekerasan yang sering terlewatkan. Amelia mengingatkan bahwa kekerasan tidak hanya terjadi fisik, tapi juga melalui pengucilan, tekanan ekonomi, dan pembulian. “Key Discussion ini membantu memperluas pemahaman bahwa kekerasan bisa terjadi di mana pun, bahkan di dalam rumah tangga,” jelasnya. Data dari Kementerian PPPA menunjukkan bahwa angka kekerasan terhadap perempuan dan anak masih tinggi, dengan lebih dari 28.000 laporan pada 2023. Pemutaran film dianggap sebagai salah satu metode untuk menurunkan angka tersebut.
NasDem berkomitmen untuk terus menggelar Key Discussion sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang lebih sensitif terhadap isu kekerasan. Partai ini mengajak lembaga swadaya masyarakat dan media untuk terlibat dalam menyebarkan pesan UU TPKS dan PKDRT. “Key Discussion ini adalah awal dari perubahan, tapi tidak cukup jika tidak disertai dengan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Amelia.
