Implementasi Kerja Sama Internasional Melalui Program Visiting Lecturer
Key Discussion menjadi tema utama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan penelitian di tingkat global. Universitas Bakrie, dalam rangka memperkuat hubungan akademik lintas negara, meluncurkan program kerja sama internasional berupa kegiatan Visiting Lecturer dengan Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) yang berlangsung pada Selasa (12/5/2026). Proses ini bukan hanya sekadar pertukaran dosen, tetapi juga menjadi strategi untuk memperluas wawasan akademik dan meningkatkan daya saing institusi pendidikan di tingkat regional.
Struktur Kolaborasi Akademik yang Menguntungkan
Kegiatan ini dirancang secara komprehensif untuk menciptakan kesinambungan antara dua universitas. Dalam program tersebut, tiga dosen dari Program Studi Manajemen dan Akuntansi, yakni Ananda Fortunisa, Ovalia Rukmana, dan Jurica Lucyanda, memberikan materi kuliah tamu yang diselaraskan dengan kurikulum mata kuliah yang diajarkan oleh Siti Aisyah Binti Mustafa di UTHM. Dengan demikian, Key Discussion mengintegrasikan perspektif lokal dan global dalam pembelajaran, sehingga mahasiswa mendapat pengalaman belajar yang lebih dinamis.
Sebagai bagian dari program student mobility, tiga mahasiswa Bakrie, Ahmad Bilfagqih Nur Ridzqiara, Khadijah Insyirah Alatas, dan Rivalyn Chintia Putri Ladjoma, turut mengikuti sesi belajar. Kehadiran mereka tidak hanya memperkaya diskusi akademik, tetapi juga memperkuat komitmen universitas dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Key Discussion dalam konteks ini bertujuan menyelaraskan tujuan pendidikan melalui interaksi langsung antara dosen dan mahasiswa dari negara berbeda.
Pembelajaran Berbasis Perspektif Global
Topik yang dibawakan oleh Ananda Fortunisa, “Membangun Budaya Merek yang Kuat: Kepemimpinan Berbasis Merek,” menunjukkan bagaimana Key Discussion bisa mendorong pendekatan manajerial yang relevan dengan pasar modern. Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa strategi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional perusahaan, tetapi juga menciptakan nilai tambah dalam pengelolaan merek.
“Kepemimpinan yang fokus pada merek mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih kompetitif dan meningkatkan daya tahan bisnis di tengah dinamika pasar,”
ujarnya.
Sementara Ovalia Rukmana membahas peran kreativitas dalam sektor makanan dan minuman.
“Pemikiran kreatif serta desain berbasis solusi sangat dibutuhkan untuk menghadapi perubahan ekonomi digital,”
katanya. Hal ini menegaskan bahwa Key Discussion dalam kerja sama internasional tidak terbatas pada teori, tetapi juga mencakup aplikasi praktis yang bisa dipadukan dengan kebutuhan industri. Jurica Lucyanda, di sisi lain, fokus pada penggunaan anggaran sebagai alat pengukur kinerja keuangan, menyoroti pentingnya transparansi dalam manajemen sumber daya.
Kolaborasi ini bukan hanya terbatas pada ruang kelas. Delegasi Universitas Bakrie juga melakukan diskusi teknis dengan para dekan dan peneliti di Faculty of Technology Management and Business UTHM. Topik yang dibahas mencakup potensi riset bersama, pertukaran program studi, dan pengembangan kurikulum yang selaras dengan tuntutan era digital. Key Discussion dalam forum ini bertujuan menjembatani kebutuhan akademik kedua institusi serta memperkuat jaringan peneliti lintas batas.
Pertemuan antara kedua universitas diharapkan menjadi fondasi untuk kerja sama berkelanjutan. Selain itu, program Visiting Lecturer ini dianggap sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pengajaran. Dengan memperkenalkan perspektif luar negeri, mahasiswa Bakrie diberi kesempatan untuk memahami isu-isu global yang relevan dengan bidang studi mereka. Key Discussion dalam konteks ini juga mendorong kolaborasi antara dua komunitas akademik yang berbeda, memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan metode pembelajaran.
