Lentera Anak: Key Discussion Mengungkap Penguatan Relasi Akademisi dan Industri Rokok
Key Discussion – Dalam rangka meningkatkan keterlibatan masyarakat, Lentera Anak memulai pembahasan utama dengan memperkuat upaya penjelasan terkait perluasan kerja sama antara para akademisi dan industri tembakau. Dari data pemantauan September 2025 hingga Mei 2026, terdapat 18 universitas, 13 lembaga riset, dan 50 peneliti yang secara aktif menyampaikan narasi pro-industri melalui berbagai platform media. Key Discussion ini menyoroti bagaimana aspek ekonomi, hukum, serta penurunan risiko menjadi poin utama yang dikemas agar lebih mudah diterima oleh publik.
Lebih dari itu, Lentera Anak, sebagai anggota Koalisi Save Our Surroundings (SOS), memperingatkan bahwa pengaruh industri rokok pada kebijakan akademik bisa mengakar. SOS sendiri terdiri dari lebih dari 50 organisasi dengan latar belakang beragam, yang bergerak untuk menciptakan lingkungan sehat. Pada sesi “Kampus di Persimpangan: Merebut Kembali Integritas Perguruan Tinggi” dalam ICTOH 2026, Lisda Sundari, ketua Lentera Anak, mengingatkan bahwa kampus seharusnya menjadi pusat kebijakan yang berpijak pada kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan perusahaan.
Pembentukan Narasi oleh Industri Rokok
Pola narasi yang diproduksi industri tembakau menunjukkan upaya menampilkan citra yang lebih positif. Di ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa Universitas Airlangga Surabaya, para pemangku kepentingan menggunakan istilah seperti keseimbangan, pengurangan risiko, dan inovasi untuk menutupi agenda bisnis mereka. Key Discussion pada diskusi ini menegaskan bahwa narasi ini tidak hanya menormalisasi hubungan akademisi dengan industri, tetapi juga membentuk persepsi masyarakat tentang kebijakan kesehatan.
“Kami menekankan bahwa key discussion dalam kebijakan akademik harus tetap berakar pada fakta objektif, agar tidak dimanipulasi oleh kepentingan ekonomi,” tegas Lisda.
Menyusul pernyataan Lisda, Mouhamad Bigwanto dari Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI) memperkuat peringatan bahwa industri rokok memiliki empat strategi utama untuk memengaruhi opini akademisi. Diantaranya adalah menolak bukti ilmiah, mengubah narasi menjadi lebih membingungkan, membentuk aliansi dengan akademisi, dan memanfaatkan kekuatan politik untuk mendukung kebijakan mereka. Key Discussion dalam penelitian RUKKI 2023-2024 menemukan bahwa 19 peneliti ditemukan mendukung industri tembakau dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Kesehatan.
Strategi untuk Mengontrol Framing Regulasi
Strategi industri tembakau tidak hanya terbatas pada narasi, tetapi juga pada framing regulasi yang menguntungkan mereka. Menurut Bigwanto, industri berusaha mengarahkan diskursus kebijakan kesehatan agar tidak mengganggu kepentingan bisnis mereka. Key Discussion dalam penelitian ini juga menyebutkan bahwa beberapa akademisi diduga memiliki hubungan finansial dengan organisasi pendukung industri. Hal ini membuat hasil penelitian cenderung menyembunyikan data yang tidak menguntungkan bagi industri.
Danang Widoyoko, Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia, menggarisbawahi pentingnya transparansi dalam penelitian akademis. Ia menyarankan bahwa institusi pendidikan di berbagai negara bisa menerapkan kebijakan seperti lingkungan bebas asap dan mekanisme pengawasan pendanaan. Key Discussion pada pembahasan ini mengingatkan bahwa tanpa transparansi, risiko konflik kepentingan bisa meningkatkan. “Selain itu, key discussion dalam kampus juga harus mengakui peran media sebagai alat penyebaran narasi yang benar,” tambahnya.
Perluasan relasi akademisi dan industri tembakau menimbulkan dampak pada kebijakan publik. Dalam Key Discussion, Lisda Sundari mengungkap bahwa sejumlah universitas telah mengubah pendirian mereka untuk menyesuaikan dengan kepentingan perusahaan. Contohnya, bekerja sama dengan industri dalam penelitian tentang pengurangan risiko kesehatan, sementara mengabaikan bukti yang menunjukkan kerusakan lingkungan dari industri rokok. Key Discussion ini juga menyoroti bagaimana kebijakan kampus yang lebih pro-industri bisa memengaruhi pendidikan generasi muda tentang kesehatan dan lingkungan.
