Key Strategy: Harga Obat Terancam Melonjak, Ahli Kebijakan Minta Pemerintah Tegakkan Tata Kelola Fiskal
Kebijakan Fiskal Jadi Fokus Utama untuk Stabilkan Harga
Key Strategy – Ahli kebijakan publik, Agus Pambagio, mengingatkan pemerintah agar segera menegakkan kebijakan fiskal yang lebih baik. Fiskal yang tidak terarah dapat memicu lonjakan harga barang bahan bakunya mengandalkan impor, seperti obat dan peralatan kesehatan. “Karena barang yang dibuat di dalam negeri memakai bahan dasar dari luar, dan saat ini rupiah sedang melemah, maka harga akan pasti naik,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (10/6).
“Kebijakan fiskal yang tidak baik membuat para investor kehilangan kepercayaan. Bursa kita tidak dikelola dengan optimal, serta peraturan sering berubah-ubah karena tata kelola negara belum terpenuhi,” terang Agus. Ia menekankan bahwa keseriusan dalam mengatur anggaran dan pengeluaran menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Bahan Bakar Impor dan Tekanan Eksternal Memperparah Situasi
Key Strategy – Kenaikan harga obat tidak hanya dipengaruhi oleh ketergantungan impor, tetapi juga oleh faktor eksternal seperti gejolak perang Amerika Serikat dengan Iran. Situasi ini memaksa pemerintah mengambil keputusan yang tergesa-gesa, yang berpotensi mengacaukan kebijakan fiskal. “Kita perlu memperkuat pertahanan fiskal agar tidak terguncang oleh tekanan luar,” tambahnya.
Agus menyoroti bahwa ketergantungan pada bahan bakar impor dan biaya produksi yang meningkat membuat harga jual produk dalam negeri menjadi lebih mahal. Hal ini berdampak langsung pada akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok, terutama dalam bidang kesehatan. “Jika fiskal tidak diperbaiki, maka harga obat akan terus meningkat meski ada upaya penghematan di sektor lain,” jelasnya.
Pengelolaan Keuangan Nasional Perlu Ditingkatkan
Key Strategy – Dalam konteks ini, Agus menekankan perlunya transparansi dan efisiensi dalam pengelolaan keuangan nasional. “Fiskal yang buruk memperparah defisit anggaran, sehingga pemerintah terpaksa menaikkan harga barang impor untuk menutupi keterbatasan dana,” pungkasnya. Ia juga memperingatkan bahwa ketidakstabilan nilai rupiah memperkuat tekanan inflasi, terutama pada komoditas kritis seperti obat-obatan.
Menurutnya, kebijakan fiskal yang tidak konsisten dalam hal batu bara, impor, dan sektor lainnya berdampak signifikan pada ekonomi. “Kita harus mengadopsi Key Strategy yang terpadu, tidak hanya dalam hal pengeluaran, tetapi juga dalam penghematan anggaran,” imbuhnya. Agus menambahkan bahwa kinerja Menteri Keuangan dan Bank Indonesia perlu diperbaiki agar kebijakan fiskal dapat dijalankan secara efektif.
Kenaikan Harga Obat Menjadi Tantangan Kesehatan Masyarakat
Key Strategy – Lonjakan harga obat tidak hanya menimbulkan dampak ekonomi, tetapi juga mengganggu akses kesehatan masyarakat. Jika kenaikan harga terus berlanjut, maka biaya pengobatan akan semakin mahal, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. “Fiskal yang baik harus menjadi prioritas utama, karena ini berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat,” tambahnya.
Agus menyarankan pemerintah mengadakan evaluasi menyeluruh terhadap pengeluaran subsidi dan belanja pemerintah. “Jika kita tidak mengoptimalkan penggunaan dana, maka fiskal akan terus menjadi titik lemah,” ujarnya. Ia menilai bahwa penerapan Key Strategy yang tepat dapat mencegah kenaikan harga obat dan menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Peran Pemerintah dalam Membangun Fiskal yang Kuat
Key Strategy – Pemerintah perlu mengambil langkah konkret dalam memperbaiki sistem fiskal, termasuk memperkuat pengawasan atas kebijakan belanja dan investasi. “Investor akan lebih percaya jika fiskal diatur dengan baik dan transparan,” jelas Agus. Ia menekankan bahwa Key Strategy yang efektif tidak hanya tentang anggaran, tetapi juga tentang penguatan institusi seperti Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan.
Kebijakan fiskal yang terstruktur akan membantu mengurangi risiko kenaikan harga obat dan memastikan ketersediaan bahan baku impor. “Dengan menegakkan tata kelola fiskal yang baik, kita bisa menjaga harga barang kritis tetap stabil,” tutupnya. Agus berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk menghindari dampak ekonomi yang lebih luas akibat kebijakan fiskal yang tidak sehat.
