Key Strategy: Sinergi Industri Farmasi dan BPOM Perkuat Agenda Keberlanjutan
Key Strategy menjadi elemen penting dalam upaya transformasi industri farmasi menuju keberlanjutan. Di tengah tantangan global mengenai perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya alam, sektor farmasi semakin sadar akan peran strategisnya dalam mengurangi dampak lingkungan. Salah satu contoh nyata sinergi antara industri farmasi dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) adalah inisiatif penanaman pohon yang diadakan pada 4 Juni 2026 di PT Ethica Industri Farmasi, Cikarang, Jawa Barat. Perusahaan PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), yang menjadi mitra dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa keberlanjutan bukan hanya target jangka panjang, tetapi juga prioritas dalam setiap langkah operasional.
Inisiatif Penghijauan sebagai Bagian dari Key Strategy
Kegiatan penanaman pohon di Cikarang menjadi bukti konkret komitmen industri farmasi dalam penerapan Key Strategy yang berfokus pada ekonomi hijau. Acara ini dihadiri oleh BPOM RI, para direksi perusahaan, serta pemangku kepentingan lainnya. Sebanyak 18 jenis pohon ditanam, termasuk Ketapang Kencana (Terminalia mantaly), yang secara langsung dihadiahi oleh Kepala BPOM RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. Dalam kesempatan tersebut, Taruna menekankan bahwa tindakan ini bukan sekadar simbolis, tetapi juga kontribusi nyata untuk mereduksi jejak karbon.
“Penanaman pohon hari ini merupakan manifestasi Key Strategy dalam membangun ekosistem industri yang ramah lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan pangan dan obat,” ujar Taruna Ikrar dalam sambutannya.
Dengan menggandeng BPOM, perusahaan farmasi mengambil langkah strategis untuk menjadikan keberlanjutan sebagai pilar utama pengembangan bisnis. Inisiatif ini sejalan dengan Visi BPOM RI tahun 2026 yang menekankan keberlanjutan sebagai bagian dari sistem pengawasan obat dan makanan.
Kolaborasi BPOM dan Industri Farmasi
Kolaborasi antara BPOM dan industri farmasi dalam Key Strategy menunjukkan pergeseran paradigma pengelolaan sektor kesehatan. Direktur Utama PYFA, Lee Yan Gwan, menyatakan bahwa keberlanjutan menjadi bagian tak terpisahkan dari visi perusahaan. “Melalui Key Strategy, kami berkomitmen untuk menjaga kesehatan masyarakat sekaligus membangun masa depan yang lebih hijau,” tambahnya. Selain acara penghijauan, PYFA telah melakukan kerja sama dengan BPOM dalam proyek restorasi mangrove di Pluit, serta program pelestarian sungai melalui kemitraan dengan Sungai Watch.
Pengembangan kapasitas produksi juga menjadi aspek penting dalam Key Strategy. Fasilitas Probietec di Australia, yang merupakan bagian dari PYFA, telah mencapai peringkat National Australian Built Environment Rating System (NABERS) yang mengakui efisiensi energi dan lingkungan. Capaian ini menunjukkan bahwa Key Strategy tidak hanya berfokus pada keberlanjutan lokal, tetapi juga global. Dengan memperkuat prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), industri farmasi berusaha menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.
Key Strategy dalam agenda keberlanjutan tidak hanya terbatas pada kegiatan penghijauan, tetapi mencakup berbagai inisiatif. Perusahaan-perusahaan farmasi terus mengembangkan teknologi ramah lingkungan, seperti penggunaan bahan baku daur ulang dan pengurangan limbah beracun. Selain itu, keterlibatan BPOM dalam penguatan standar produksi yang berkelanjutan membantu mengarahkan industri ke arah praktik yang lebih ekologis. Upaya ini diharapkan bisa menjadi model bagi sektor industri lainnya.
Di samping itu, Key Strategy juga melibatkan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan bagi karyawan dan mitra. BPOM RI berperan aktif dalam memberikan sertifikasi dan pedoman untuk memastikan semua aktivitas industri farmasi sesuai dengan prinsip keberlanjutan. Misalnya, dalam penegakan regulasi, BPOM tidak hanya mengawasi kualitas produk, tetapi juga memastikan bahwa proses produksi tidak merusak lingkungan. Hal ini mencerminkan penerapan Key Strategy secara holistik, mulai dari produksi hingga distribusi.
Key Strategy yang diterapkan oleh industri farmasi dan BPOM juga diukur melalui berbagai indikator kinerja. Mulai dari pengurangan emisi karbon, penggunaan energi terbarukan, hingga penerapan sistem daur ulang di seluruh rantai pasok. Dengan melibatkan pemangku kepentingan, seperti pemerintah, lembaga lingkungan, dan masyarakat, Key Strategy ini menjadi lebih efektif. Upaya kolektif ini diharapkan bisa memberikan dampak yang berkelanjutan, baik secara lingkungan maupun sosial.
