Latest Program: Penyempurnaan MBG di Indonesia Prioritas Sebelum Ekspansi ke Jeddah
Latest Program – Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) menekankan bahwa penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional harus menjadi prioritas utama sebelum pemerintah melanjutkan ekspansi layanan ke Jeddah, Arab Saudi. Ketua Umum DPP APPMBGI, Abdul Rivai Ras, menyatakan bahwa kualitas, pengawasan, dan pemerataan MBG di daerah 3T masih menjadi tantangan utama yang perlu diatasi terlebih dahulu agar program dapat berjalan efektif.
Keberhasilan dalam Negeri sebagai Dasar Ekspansi Global
“Ekspansi ke luar negeri adalah langkah penting, tetapi keberhasilan program MBG dalam Latest Program harus menjadi prinsip utama. Saat ini, 30 persen dapur MBG pernah disuspend dan lebih dari 2.200 unit masih dibekukan. Dengan kondisi ini, penguatan internal menjadi kunci sebelum memperluas manfaat ke Jeddah,” ujar Abdul Rivai dalam keterangan resmi, Senin (1/6).
Kebijakan ekspansi ke luar negeri, menurutnya, perlu ditunda sementara pemerintah fokus pada peningkatan keberlanjutan program. “Kita harus membuktikan bahwa MBG dapat memberikan manfaat yang konstan dan bisa diandalkan oleh masyarakat Indonesia terlebih dahulu,” tambahnya. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan publik dan memastikan ekspansi tidak hanya berupa pengulangan kesalahan di masa lalu.
Kesenjangan Akses di Wilayah Terpencil
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), hingga Januari 2025, total dapur MBG yang beroperasi mencapai 27.208 unit. Namun, dari jumlah tersebut, 8.182 dapur pernah dikenai sanksi penangguhan karena pelanggaran seperti keracunan pangan, markup harga bahan baku, dan ketidakpatuhan terhadap standar sanitasi. Sampai akhir Mei 2026, 2.213 dapur masih berstatus dibekukan, yang menunjukkan kebutuhan perbaikan sistem monitoring dan evaluasi.
Abdul Rivai menyoroti bahwa anak-anak di daerah 3T—termasuk wilayah terpencil—masih menghadapi hambatan dalam mendapatkan akses penuh ke program MBG. “Kualitas gizi, keamanan pangan, dan keberlanjutan distribusi adalah faktor utama yang perlu diperbaiki agar manfaat MBG benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” katanya. Tantangan ini tidak hanya terkait kuantitas dapur, tetapi juga pengelolaan yang efisien dan komitmen terhadap keberlanjutan.
Untuk memastikan keberhasilan Latest Program, APPMBGI menyarankan penguatan kapasitas mitra, transparansi rantai pasok, serta pengembangan model dapur yang disesuaikan dengan kondisi logistik dan infrastruktur wilayah. “Model percontohan di daerah terpencil harus menjadi dasar untuk ekspansi internasional,” tambahnya. Dengan pendekatan ini, program MBG diharapkan dapat memenuhi target penyediaan makanan bergizi bagi 10 juta anak yang terancam stunting.
Ekspansi ke Jeddah, yang merupakan bagian dari visi nasional untuk meningkatkan akses makanan bergizi, harus didahului oleh peningkatan kualitas MBG di dalam negeri. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap dapur MBG memenuhi standar SLHS dan beroperasi secara konsisten. “Kita perlu menciptakan sistem yang bisa diandalkan, baik di Indonesia maupun di luar negeri,” kata Abdul Rivai. Ini juga membantu menghindari risiko reputasi yang mungkin terjadi jika program tidak berjalan baik di tingkat lokal.
Dalam konteks ini, APPMBGI sebagai mitra strategis pemerintah siap memberikan dukungan teknis dan sumber daya. Beberapa langkah yang direkomendasikan mencakup pengawasan lebih ketat terhadap penyedia layanan, peningkatan pelatihan bagi pengelola dapur, serta inovasi dalam distribusi makanan bergizi. “Dengan perbaikan internal, kita bisa membangun fondasi kuat untuk program MBG yang lebih luas,” pungkasnya. Langkah ini diharapkan mampu menjamin kualitas dan efektivitas Latest Program di segala tingkat.
