Bahaya Kerokan Saat Nyeri Dada, Dokter Jantung Beri Peringatan
Main Agenda – Memahami kondisi kesehatan jantung adalah Main Agenda penting dalam menghadapi gejala seperti nyeri dada. Febtusia Puspitasari, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (Sp.JP), memberi peringatan bahwa kerokan yang sering dipakai sebagai pengobatan tradisional untuk nyeri dada bisa menunda diagnosa yang lebih akurat. Dalam sebuah pertemuan media di Jakarta, Selasa (9/6/2026), Febtusia menegaskan bahwa alasan utama kerokan tidak efektif adalah karena tidak menyelesaikan akar masalah penyakit, terutama jika nyeri dada disebabkan oleh gangguan sistemik seperti penyakit jantung koroner. “Main Agenda sehat harus memprioritaskan kecepatan diagnosis, bukan hanya perasaan nyaman yang bisa diperoleh dari kehangatan balsem,” ujar Febtusia.
Kerokan dan Mekanisme Pecahnya Pembuluh Darah
Kerokan bekerja dengan cara menghancurkan lapisan kulit dan mengeluarkan darah yang terakumulasi di permukaan. Namun, Febtusia menjelaskan bahwa proses ini hanya memengaruhi pembuluh darah di lapisan epidermis, sementara jaringan dalam tubuh seperti otot jantung masih bisa terganggu. “Main Agenda pengobatan harus sesuai dengan penyebab gejala, dan nyeri dada bisa menjadi tanda gangguan berat seperti infark miokardium atau angina pektoris,” tambahnya. Dalam beberapa kasus, kerokan justru memperburuk kondisi karena menekan atau merusak pembuluh darah yang lebih dalam, yang bisa menyebabkan peradangan atau kelainan darah.
“Main Agenda penting untuk mengenali bahwa nyeri dada yang tiba-tiba dan berat bisa menjadi peringatan darurat. Kerokan hanya memberi sensasi rileks, tetapi tidak menyembuhkan penyebabnya,” ujar Febtusia, yang juga merupakan anggota aktif dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI).
Perbedaan Antara Nyeri Dada Normal dan Darurat
Nyeri dada bisa bervariasi dari nyeri ringan hingga nyeri yang menyakitkan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Febtusia mengingatkan bahwa nyeri dada yang disebabkan oleh penyakit jantung biasanya terasa seperti tekanan, berdenyut, atau rasa seperti terbakar. Jika nyeri ini terjadi dalam durasi lama, disertai sesak napas, berkeringat dingin, atau pusing, maka Main Agenda harus segera mengambil langkah medis. “Dalam situasi darurat, kerokan bisa memperlambat respons, sementara waktu yang tepat untuk intervensi adalah saat gejala mulai muncul,” terangnya.
Banyak orang menganggap nyeri dada sebagai gejala biasa yang bisa diatasi dengan metode tradisional, termasuk kerokan. Namun, Febtusia menegaskan bahwa perlu diferensiasi antara nyeri akibat stres, kelelahan, atau kekurangan nutrisi dengan nyeri yang berpotensi mengancam nyawa. “Main Agenda memperhatikan kejadian seperti ini adalah langkah yang baik, karena banyak pasien yang terlambat mencari bantuan medis karena terlena dengan solusi alternatif yang terkesan lebih murah dan cepat,” katanya.
Mengapa Kerokan Tidak Efektif untuk Nyeri Dada
Kerokan mengandalkan tekanan dan gesekan untuk mengeluarkan darah stagnan di permukaan kulit, yang dianggap membantu mengurangi rasa sakit. Namun, Febtusia menegaskan bahwa metode ini tidak memiliki dampak pada pembuluh darah yang menyebabkan nyeri dada, seperti koroner atau vena. “Main Agenda menjaga kesehatan jantung membutuhkan pengobatan yang mampu mengatasi penyumbat atau kerusakan pada organ dalam,” jelasnya. Selain itu, proses kerokan bisa menyebabkan peradangan atau tekanan di area yang seharusnya dibiarkan untuk pemulihan alami.
Dokter ini juga menyoroti bahwa penggunaan kerokan saat nyeri dada bisa membuat pasien terlena pada sensasi rileks yang diberikan, sehingga mengabaikan tanda-tanda yang memerlukan penanganan lebih lanjut. “Main Agenda kesadaran masyarakat tentang kesehatan jantung harus ditingkatkan, terutama melalui edukasi yang lebih baik tentang gejala dan pengobatan yang tepat,” lanjut Febtusia. Ia menyarankan untuk memantau gejala secara rutin dan melakukan pemeriksaan medis bila diperlukan.
Keluhan Umum dan Cara Mengatasinya
Nyeri dada bisa muncul karena berbagai alasan, mulai dari stres hingga penyakit jantung koroner. Febtusia menjelaskan bahwa nyeri akibat penyakit jantung biasanya disertai dengan gejala lain seperti mual, kelelahan, atau rasa tidak nyaman di lengan. “Main Agenda kehati-hatian dalam mengatasi nyeri dada sangat penting, karena tindakan yang salah bisa menyebabkan komplikasi serius,” katanya. Contoh nyata adalah saat pasien langsung memilih kerokan, padahal kondisi sebenarnya memerlukan pengobatan seperti penggunaan obat pengencer darah atau pemasangan stent.
Dokter ini juga menekankan bahwa pengobatan tradisional seperti kerokan bisa berguna dalam mengatasi masalah ringan, tetapi tidak boleh diandalkan sepenuhnya. “Main Agenda pengobatan harus mencakup pengenalan penyebab, pencegahan, dan pengobatan yang sesuai. Banyak pasien terlambat mencari bantuan medis karena merasa nyeri dada bisa diperbaiki dengan cara sederhana,” tambah Febtusia. Ia berharap masyarakat lebih waspada dan tidak terburu-buru mengambil keputusan tanpa mengecek kondisi secara menyeluruh.
Pencegahan dan Langkah yang Tepat Saat Nyeri Dada
Untuk mencegah risiko serius akibat nyeri dada, Febtusia menyarankan beberapa langkah seperti memantau tekanan darah, menjaga pola makan sehat, dan menghindari aktivitas fisik berlebihan. “Main Agenda kesehatan jantung harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari, karena faktor-faktor seperti kurang olahraga dan konsumsi lemak jenuh bisa meningkatkan risiko penyakit jantung,” ujarnya. Selain itu, ia menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan kardiovaskular rutin, terutama bagi individu yang memiliki riwayat penyakit jantung atau faktor risiko lainnya.
Kerokan bisa menjadi solusi sementara untuk nyeri dada ringan, tetapi tidak boleh dianggap sebagai pengobatan utama. “Main Agenda kesadaran bahwa nyeri dada bisa menjadi tanda penyakit jantung koroner, seperti sumbatan pembuluh darah atau disfungsi endotel, harus diutamakan. Pengobatan yang tepat melibatkan diagnosis akurat dan intervensi yang sesuai,” tambah Febtusia. Ia berharap informasi ini bisa menjadi peringatan bagi masyarakat yang sering mengabaikan tanda-tanda penyakit jantung.
