Strategi Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi: Integrasi Kearifan Lokal dan Teknologi Genomik
Main Agenda menjadi topik utama dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) XVII yang diadakan di Yogyakarta pada 8-13 Mei 2026. Acara ini mengupas pentingnya pendekatan holistik untuk menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), dengan fokus pada sinergi antara kearifan lokal dan inovasi teknologi genomik. Meski ada penurunan global dalam angka kematian ibu, Indonesia masih termasuk negara dengan beban kematian ibu terbesar di dunia, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2023.
Pendekatan Multidisiplin untuk Kesehatan Ibu dan Bayi
Main Agenda dalam pertemuan HOGSI XVII menekankan perlunya integrasi antara ilmu pengetahuan modern dan praktik tradisional yang telah terbukti efektif di masyarakat. Dalam konteks ini, kearifan lokal menjadi sumber solusi untuk meningkatkan akses dan akseptasi layanan kesehatan. Prof. Gunadi, dari FK-KMK UGM, menyatakan bahwa genomik bisa menjadi alat untuk memahami penyebab kematian ibu dan bayi secara lebih mendalam, sekaligus membantu pencegahan penyakit genetik yang berdampak pada kesehatan reproduksi.
Strategi Main Agenda juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan kesehatan untuk ibu hamil, terutama dalam wilayah dengan akses terbatas ke layanan medis. Kebiasaan budaya, seperti kebiasaan melahirkan di rumah atau penggunaan obat tradisional, harus diperhitungkan dalam desain program pencegahan. Dengan memadukan data genomik dan pengetahuan lokal, harapannya adalah munculnya solusi yang lebih kontekstual dan efisien.
Peran Teknologi dan Kolaborasi dalam Mewujudkan Main Agenda
Penurunan AKB dan AKI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kerja sama lintas sektor. Prof. Ova Emilia, Rektor UGM, menegaskan bahwa universitas, pemerintah, serta organisasi masyarakat perlu bersinergi untuk mendukung Main Agenda ini. “Genomik adalah salah satu alat yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi risiko kesehatan sejak dini, tetapi implementasinya harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat,” kata Emilia.
Menurut data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka kematian ibu di Indonesia masih berkisar antara 177 hingga 189 per 100.000 kelahiran hidup, sementara AKB sekitar 16 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan bahwa perlu pendekatan yang lebih serius dan berkelanjutan. Main Agenda yang diusung oleh HOGSI XVII menjadi rencana kerja nasional untuk mengatasi masalah ini dengan kombinasi pendekatan lokal dan teknologi.
Kolaborasi antara institusi riset, rumah sakit, dan komunitas lokal dianggap kunci dalam mewujudkan Main Agenda ini. Misalnya, melalui inisiatif Biomedical and Genome Science (BGSi) di RS Dr. Sardjito, lebih dari 20.000 data genomik telah dikumpulkan. Data ini diharapkan bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan layanan kesehatan yang lebih tepat dan efektif. Dengan memadukan kedua pendekatan, Indonesia bisa menjadi contoh bagi negara lain dalam upaya penurunan kematian ibu dan bayi.
Penekanan pada Ketersediaan dan Keterjangkauan Layanan
Salah satu tantangan dalam Main Agenda adalah keterjangkauan layanan kesehatan di daerah terpencil. Prof. Gunadi menyoroti bahwa skrining genomik perlu disesuaikan dengan kapasitas infrastruktur dan sumber daya manusia. “Meski punya data yang memadai, penerapan teknologi ini harus diimbangi dengan pendekatan yang praktis dan mudah diakses oleh ibu hamil di berbagai latar belakang sosial,” tambahnya.
“Pendekatan lokal tidak hanya memberikan solusi yang lebih cepat, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan,” ujar Dwiana Ocviyanti, dosen Universitas Airlangga.
Potensi Genomik dalam Pemetaan Risiko Kesehatan
Dalam Main Agenda HOGSI XVII, genomik diperkenalkan sebagai alat untuk memetakan risiko kesehatan ibu dan bayi secara lebih spesifik. Teknologi ini memungkinkan analisis genetik yang bisa mengungkap faktor penyebab stunting, penyakit jantung bawaan, atau risiko komplikasi kehamilan. Dengan menggabungkan data genomik dan kearifan lokal, harapannya adalah adanya perubahan pada kebijakan kesehatan yang lebih inklusif dan berbasis bukti.
