PGI Memperkuat Upaya Penanggulangan Kanker Kolorektal dengan Deteksi Dini
Meeting Results – Dalam Meeting Results yang diselenggarakan Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI), fokus utama diarahkan pada pentingnya deteksi dini sebagai kunci dalam meningkatkan kesadaran dan upaya penanggulangan kanker kolorektal. Kanker ini terus menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di tengah peningkatan kasus yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Meeting Results ini menjadi wadah untuk diskusi intensif antara para ahli kesehatan, pengambil kebijakan, dan stakeholder terkait, serta menghasilkan rencana aksi yang terukur untuk memperkuat sistem skrining di Indonesia.
Kanker Kolorektal sebagai Ancaman Kesehatan Global
Menurut data Global Cancer Observatory 2024, kanker kolorektal termasuk dalam lima penyakit kanker paling umum di dunia, dengan lebih dari 1,9 juta kasus baru tercatat setiap tahun. Di Indonesia, penyakit ini menempati peringkat keempat dalam kasus kanker baru dan kelima dalam jumlah kematian akibat kanker, dengan 19 ribu kematian tahunan. Tantangan utama terletak pada keterlambatan diagnosis, yang sering kali menyebabkan stadium penyakit menjadi lebih lanjut, sehingga mengurangi peluang penyembuhan. Meeting Results menekankan bahwa dengan peningkatan deteksi sejak dini, angka kematian bisa ditekan secara signifikan.
Strategi Peningkatan Kualitas Skrining
Meeting Results menyoroti perlunya harmonisasi kebijakan antara lembaga kesehatan dan komunitas lokal untuk memastikan skrining kanker kolorektal dapat diakses secara luas. Dalam sesi diskusi, Prof. Ari Fahrial Syam, Ketua PB PGI, menekankan peran organisasi profesi dalam memberikan kontribusi nyata melalui pendekatan terstruktur. “Meeting Results ini membantu memperjelas bagaimana kolaborasi antar sektor bisa mengoptimalkan penggunaan teknologi seperti fitnes test (FIT) dan kolonoskopi, serta membangun infrastruktur yang memadai,” ujarnya. Selain itu, PGI juga mengusulkan kebijakan yang mengintegrasikan pendidikan kesehatan dan layanan medis di berbagai tingkat.
“FIT memiliki keunggulan seperti biaya rendah, non-invasif, skalabel, dan terbukti menurunkan mortalitas kanker kolorektal. Namun, tantangan terbesar di Jepang bukan pada tes FIT-nya, melainkan pada kolonoskopi diagnostik lanjutan. Sekitar 30 persen individu dengan hasil FIT positif tidak menjalani kolonoskopi lanjutan. Ini adalah pekerjaan rumah besar yang juga akan dihadapi Indonesia,” ujar Prof. Takahisa Matsuda dari Jepang dalam Meeting Results.
“Keberhasilan program skrining tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh koordinasi sistemik yang terintegrasi. Taiwan membangun sistem call-recall, standarisasi laporan patologi, serta pengawasan kualitas kolonoskopi yang ketat, termasuk adenoma detection rate (ADR). Sejak 2025, kami bahkan menurunkan usia inisiasi skrining menjadi 45 tahun karena meningkatnya insiden early-onset CRC,” jelas Prof. Han-Mo Chiu dari Taiwan dalam Meeting Results.
Strategi yang diusulkan dalam Meeting Results mencakup penguatan pelatihan tenaga kesehatan, peningkatan akses ke alat diagnosis, dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang tanda-tanda dini kanker kolorektal. Dalam sesi panel, para ahli sepakat bahwa kesadaran publik harus ditingkatkan melalui kampanye edukasi berkelanjutan, sementara pemerintah perlu memastikan dukungan kebijakan yang memadai. Selain itu, Meeting Results juga menyoroti peran penting teknologi digital dalam mempermudah proses skrining dan pelacakan kasus, terutama di daerah-daerah dengan akses terbatas.
Dalam Meeting Results, disebutkan bahwa program skrining kanker kolorektal di Indonesia masih menghadapi hambatan infrastruktur dan sumber daya manusia. Dengan populasi yang mencapai 281 juta orang, menjangkau seluruh masyarakat membutuhkan inisiatif kolaboratif yang lebih besar. PB PGI berkomitmen untuk bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, lembaga internasional, serta organisasi lokal guna menciptakan skema skrining yang efektif, terjangkau, dan berkelanjutan. “Kita perlu menyesuaikan kebijakan skrining dengan kebutuhan masyarakat, terutama di daerah terpencil,” kata Prof. Murdani Abdullah dari Human Cancer Research Centre (HCRC) IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Meeting Results juga menekankan pentingnya evaluasi berkala terhadap kebijakan skrining. Dengan data yang terkini, PGI berharap dapat mengukur dampak program ini dan melakukan perbaikan sesuai dengan hasil. Prof. Murdani mengungkapkan bahwa sejak 2025, jumlah kasus kanker kolorektal di Indonesia mencapai 104.235 per lima tahun, atau sekitar 37,3 kasus per 100 ribu penduduk. Angka ini menunjukkan bahwa keberhasilan program skrining sangat tergantung pada komitmen dan konsistensi dalam implementasi.
Kesimpulan dari Meeting Results menegaskan bahwa deteksi dini kanker kolorektal adalah pondasi utama dalam mengurangi beban penyakit ini. Para peserta sepakat bahwa Meeting Results kali ini menjadi langkah penting dalam menggerakkan transformasi sistem kesehatan. Dengan adopsi pendekatan yang lebih holistik, PGI berharap bisa menjadi mitra utama dalam mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui upaya skrining yang lebih baik.
