New Policy: Orangtua Perlu Siapkan Dana Sekolah Anak Sejak Dini
New Policy – Seiring berlakunya new policy terbaru mengenai kenaikan biaya pendidikan, para orangtua diwajibkan untuk merencanakan keuangan pendidikan anak lebih awal. Dengan tingkat inflasi pendidikan yang terus meningkat, persiapan dana sejak dini menjadi kunci untuk menghindari ketimpangan keuangan dan memastikan pendidikan berkualitas bisa terpenuhi tanpa mengorbankan kebutuhan sehari-hari.
Mengapa Biaya Pendidikan Menjadi Tantangan Utama?
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa biaya pendidikan di Indonesia telah mengalami peningkatan signifikan sepanjang tahun. Untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), biaya rata-rata mencapai Rp4,56 juta per tahun, sementara di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), angka ini mencapai Rp10,19 juta. New policy ini memperkuat kebutuhan untuk mengantisipasi fluktuasi biaya secara lebih matang.
Kenaikan biaya pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh perubahan kebijakan pemerintah dalam penyediaan fasilitas pendidikan. Sejumlah sekolah menaikkan tarif masuk atau biaya operasional, sehingga orangtua harus lebih siap dalam menyisihkan dana khusus untuk pendidikan. Dalam kelompok 40% rumah tangga dengan pengeluaran terendah, biaya pendidikan SD mencapai Rp3,28 juta, sedangkan di kelompok 20% dengan pengeluaran tertinggi, angkanya mencapai Rp8,88 juta per tahun. Perbedaan ini memperlihatkan pentingnya new policy dalam menyelaraskan pendanaan pendidikan dengan kemampuan ekonomi setiap keluarga.
Strategi Persiapan Dana Pendidikan Berdasarkan New Policy
Menurut Fabiola Noralita, Direktur Bisnis Individu merangkap Pelaksana Tugas Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, new policy ini menuntut pendekatan finansial yang lebih sistematis. “Setiap orang tua tentu ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Karena itu, perencanaan dana pendidikan sebaiknya tidak menunggu hingga anak memasuki usia sekolah, melainkan dipersiapkan sejak dini sebagai bagian dari perencanaan keuangan keluarga,” katanya. Dengan strategi yang tepat, orangtua bisa menghindari tekanan finansial saat anak memasuki tahap pendidikan tinggi.
Persiapan dana pendidikan bisa dimulai dengan menetapkan anggaran bulanan atau tahunan yang realistis. Dalam konteks new policy, kebutuhan ini semakin kritis karena biaya pendidikan yang meningkat pesat. Orangtua dianjurkan menyisihkan dana pendidikan secara rutin, baik melalui tabungan maupun investasi. Misalnya, menabung melalui rekening tabungan pendidikan atau memanfaatkan produk asuransi pendidikan yang menawarkan perlindungan dari risiko ekonomi tak terduga.
Menurut Fabiola, keberlanjutan pendidikan anak bisa terjamin jika orangtua membangun kebiasaan mengatur keuangan jangka panjang. “Dengan new policy yang menekankan transparansi biaya, keluarga perlu memiliki strategi yang fleksibel dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan pendidikan,” tambahnya. Strategi ini juga membantu mengurangi risiko utang dan memastikan anak tidak terganggu karena kesulitan finansial orangtua.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa new policy tidak hanya berdampak pada biaya pendidikan SD dan SMA, tetapi juga pada pendidikan tinggi. Biaya kuliah di beberapa universitas ternama bisa mencapai ratusan juta per tahun, sehingga persiapan dana harus dimulai lebih awal. Selain itu, new policy menekankan pentingnya pendidikan non-formal atau pelatihan tambahan yang bisa menjadi pilihan untuk memperkaya keterampilan anak di masa depan.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, sekitar 45,45% masyarakat Indonesia belum memahami betul peran asuransi dalam pengelolaan dana pendidikan. Sementara inklusi keuangan hanya mencapai 28,50%, ini menunjukkan perlunya edukasi keuangan yang lebih luas. Dengan new policy yang mendorong transparansi biaya, orangtua diharapkan lebih terbuka dalam menginvestasikan dana pendidikan untuk jangka panjang.
