New Policy: Dedikasi Petugas Landis Menjaga Hak Ibadah Jemaah Lansia
New Policy – Dalam rangka meningkatkan kualitas layanan, Kementerian Agama meluncurkan New Policy yang menekankan pengabdian petugas Landis (Layanan Jemaah Lansia dan Disabilitas) dalam memastikan kenyamanan serta kepuasan jemaah lansia saat menjalani ibadah haji. Kebijakan ini diperkenalkan sebagai respons atas tantangan yang dihadapi para jemaah berusia lanjut, termasuk kebutuhan khusus dalam menjalankan rukun Islam kelima. Dengan New Policy ini, petugas Landis diberikan wewenang lebih besar untuk mengawasi, mendukung, dan memastikan setiap aspek ibadah jemaah lansia di Mekah, sejak tiba di hotel hingga akhir perjalanan.
Pengawasan dan Pelayanan Intensif
Dalam dua bulan bertugas di Daerah Kerja (Daker) Mekah, Tim Landis mengelola 18 hotel yang menjadi tempat tinggal sekitar 3.800 jemaah lansia. Di bawah New Policy, para petugas tidak hanya fokus pada visitasi rutin, tetapi juga memastikan pelayanan yang menyeluruh, termasuk pengelolaan kesehatan dan kegiatan fisik seperti senam lansia. Abdul Aziz, salah satu petugas, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk meminimalkan risiko kelelahan dan memperkuat konsentrasi jemaah lansia dalam menjalankan ibadah.
“Kami memfokuskan pelayanan pada visitasi hotel, kontrol kesehatan rutin, menyelenggarakan senam lansia, hingga mengawal ibadah umrah wajib,” terang Abdul Aziz ditemui Media Center Haji, Rabu (17/6). Ia menambahkan, selama fase Armuzna, petugas tidak hanya memberikan istirahat sehari penuh setelah kedatangan jemaah, tetapi juga mengatur jadwal pengawasan yang lebih terpadu untuk memastikan kesehatan mereka tetap stabil.
Sebagai bagian dari New Policy, tim Landis juga mengadakan koordinasi intensif dengan Sektor Khusus (Seksus) dan petugas lainnya untuk memastikan kebutuhan pribadi jemaah lansia terpenuhi. Contohnya, para petugas aktif memesan kursi roda atau bantuan transportasi bagi jemaah yang mengalami kesulitan bergerak. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperkuat kebijakan yang mengutamakan kesejahteraan jemaah lansia.
Perjalanan yang Berkesan
Saat jemaah lansia menuju umrah wajib, New Policy menuntut petugas untuk memberikan perhatian ekstra. Dari hotel ke Terminal Syib Amir, para petugas bertugas menjaga emosi dan kesabaran jemaah, terutama saat mereka menghadapi rintangan seperti keterbatasan mobilitas atau kecemasan. “Banyak momen haru di terminal. Jemaah yang kebingungan kami tenangkan dan bimbing dari hati ke hati. Saat tahu mereka bisa melihat Ka’bah dan menyelesaikan umrah, rasanya sangat plong,” ujar Abdul Aziz.
Perjalanan ini menjadi bagian penting dari New Policy yang mengharuskan petugas tidak hanya memenuhi tugas teknis, tetapi juga memperkuat kepercayaan jemaah. Banyak jemaah lansia yang mengungkapkan rasa terima kasih setelah berhasil menjalani ibadah, yang menunjukkan bahwa kebijakan ini tidak hanya sekadar aturan, tetapi juga alat untuk meningkatkan pengalaman spiritual mereka. Dalam beberapa kasus, jemaah lansia yang mandiri juga meminta bantuan petugas melalui telepon saat menghadapi keadaan darurat.
Detil Perawatan Pribadi
Salah satu elemen penting dari New Policy adalah pengelolaan kebutuhan pribadi jemaah lansia. Petugas Landis secara rutin melakukan visitasi untuk menemukan jemaah yang memerlukan bantuan penuh, seperti menyuapi makan, mengganti popok, memandikan, atau bahkan menceboki di kamar mandi. “Lama-kelamaan mereka terbuka. Sembari memandikan, kami bercengkrama tentang keluarga mereka di rumah. Malah setelah itu, mereka selalu meminta bantuan kami lagi karena tidak tahu harus bersandar kepada siapa lagi selain petugas,” tambah Aziz.
Keberhasilan New Policy juga terlihat dari program Safari Wukuf Lansia yang diterapkan selama fase krusial. Sektor 5 mengikutsertakan 38 jemaah lansia di hotel transit khusus, di mana petugas berjaga tanpa henti selama lima hingga tujuh hari. Tugas ini tidak hanya menuntut keterampilan fisik, tetapi juga kesabaran dan empati dalam menghadapi perubahan suasana hati jemaah. Dengan pendekatan ini, petugas mampu memastikan bahwa setiap jemaah lansia dapat menyelesaikan ibadah umrah secara mandiri dan penuh makna.
Perjuangan di Fase Kritis
Melalui New Policy, petugas Landis juga diberikan tanggung jawab tambahan dalam fase kritis perjalanan haji. Dalam beberapa kasus, jemaah lansia mengalami gejala demensia aktif, yang membuat perawatan membutuhkan perhatian ekstra. “Malam hari tidak bisa tidur, tiba-tiba keluar kamar hanya mengenakan celana pendek dan bilang mau pulang ke kampung halaman,” urai Muhammad Rosi, salah satu anggota tim Landis. Keberadaan petugas di sini menjadi penentu utama kenyamanan dan keamanan jemaah.
Di samping itu, New Policy mendorong kolaborasi lebih erat antara tim Landis dengan petugas medis kloter. Mereka melakukan skrining obat, menandai waktu konsumsi, dan memastikan jemaah lansia mengonsumsinya tepat waktu. Dengan sistem ini, risiko kesalahan dalam penggunaan obat diminimalkan, sehingga kesehatan jemaah tetap terjaga sepanjang masa ibadah. Dukungan ini menjadi bukti bahwa New Policy tidak hanya memperhatikan aspek fisik, tetapi juga kebutuhan kesehatan mental para jemaah.
Perpisahan yang Berkesan
Saat ini, menjelang akhir masa operasional haji, New Policy telah menciptakan pengalaman yang tidak terlupakan bagi banyak jemaah lansia. Suasana haru semakin menyelimuti ruang-ruang hotel, dimana perpisahan yang dekat membuat jemaah merasa diperhatikan dan dirawat seperti anggota keluarga. “Kami berharap kebijakan ini dapat menjadi contoh terbaik dalam memperkuat ded
