Humaniora

Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Berorientasi pada Ekonomi Hijau

1786799189_ce6a95c22dea96c362e5
Foto : Michael Gonzalez - beritabaru1.com
Daftar Isi
  1. AKPRIND University Dorong Desa Sumberadi Menuju Ekonomi Hijau Lewat Inovasi Teknologi
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

AKPRIND University Dorong Desa Sumberadi Menuju Ekonomi Hijau Lewat Inovasi Teknologi

Beritabaru1.com – AKPRIND University kembali menunjukkan dedikasinya dalam mendukung pembangunan pedesaan melalui penerapan inovasi teknologi yang berorientasi pada ekonomi hijau. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan judul “Penguatan Pemberdayaan Masyarakat Desa Sumberadi, Sleman melalui Teknologi Tepat Guna dan Teknologi Informasi Berbasis Ekonomi Hijau” telah menghadirkan sejumlah terobosan bagi warga setempat. Tim pengabdi ini fokus pada pengelolaan limbah, pengembangan usaha peternakan, serta penguatan tata kelola masyarakat berbasis teknologi informasi.

Program ini dipimpin oleh Dr. Syaftyudin, S.T., M.T., dengan dukungan tim yang terdiri dari Muhammad Sholeh, S.T., M.T., Mukasi Wahyu Kurniawati, S.T., M.Eng., dan Endang Widayati, S.P., M.M.A. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara kolaboratif bersama Pemerintah Desa Sumberadi serta berbagai kelompok masyarakat sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan melalui pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.

Ekonomi Hijau sebagai Fondasi Pembangunan Berkelanjutan

Dr. Syafryudin, ST, MT, selaku Ketua Pelaksana, menekankan bahwa konsep ekonomi hijau yang diterapkan tidak sekadar berfokus pada peningkatan pendapatan warga, melainkan juga pada pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

“Desa memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang melalui pemanfaatan teknologi. Karena itu kami menghadirkan berbagai inovasi yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat, mulai dari pengelolaan sampah, pengembangan peternakan, hingga digitalisasi manajemen kelompok. Harapannya, teknologi ini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” terangnya.

Salah satu prioritas utama dalam program ini adalah pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Tim pengabdi memperkenalkan alat press untuk plastik dan karton guna meningkatkan nilai jual limbah anorganik. Selain itu, mesin pemilah sampah juga diperkenalkan untuk membantu masyarakat memisahkan limbah berdasarkan jenisnya sehingga proses daur ulang berjalan lebih efektif.

Masyarakat setempat juga menerima pelatihan budidaya maggot atau Black Soldier Fly (BSF) sebagai alternatif pengolahan sampah organik. Larva maggot memiliki kemampuan mengurai limbah organik dengan cepat, sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi berupa pakan ternak berprotein tinggi dan residu yang dapat digunakan sebagai pupuk organik.

“Kami ingin membangun sistem pengelolaan sampah yang tidak berhenti pada proses pengumpulan, tetapi mampu menghasilkan nilai ekonomi. Dengan alat press, mesin pemilah, dan budidaya maggot, sampah dapat diolah menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus mengurangi beban lingkungan,” paparnya.

Penguatan Sektor Peternakan dan Sistem Manajemen Digital

Program ini juga memberikan perhatian khusus pada sektor peternakan melalui penyediaan mesin perajang rumput untuk mempercepat penyediaan pakan ternak. Mesin KOHE (kotoran hewan) juga diperkenalkan untuk mengolah limbah peternakan menjadi pupuk organik. Kedua teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi usaha peternakan serta mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Muhammad Sholeh, S.T., M.T., sebagai anggota tim, menjelaskan bahwa penerapan teknologi tepat guna harus disertai dengan penguatan sistem pengelolaan kelompok. Selain memperkenalkan berbagai peralatan, tim juga mengembangkan sistem manajemen berbasis teknologi informasi. Sistem ini membantu masyarakat melakukan pencatatan administrasi, pengelolaan data kelompok, inventaris peralatan, hingga dokumentasi hasil produksi secara lebih tertib dan transparan.

Sholeh menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi juga membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat untuk mempromosikan produk, membangun jejaring pemasaran, serta meningkatkan daya saing usaha desa.

Pendampingan Langsung untuk Keberlanjutan Program

Mukasi Wahyu Kurniawati, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kesiapan masyarakat dalam mengoperasikan dan mengembangkannya.

“Kami menggunakan metode pendampingan secara langsung. Masyarakat dilibatkan mulai dari proses pelatihan, praktik penggunaan alat, hingga evaluasi. Dengan cara ini, teknologi yang diberikan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi benar-benar menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari,” ucapnya.

Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti berbagai pelatihan mulai dari penggunaan alat press plastik dan karton, praktik pengoperasian mesin pemilah sampah, budidaya maggot, demonstrasi mesin perajang rumput dan mesin KOHE, serta pelatihan penggunaan sistem manajemen berbasis teknologi informasi. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan diskusi mengenai pengembangan usaha berbasis ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Frequently Asked Questions

What is Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Berorientasi?

Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Berorientasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Berorientasi matter?

Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Desa yang Berorientasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment