Indonesia dan Korea Selatan Perkuat Kerja Sama Melalui Pusat Pengendalian Karhutla
Beritabaru1.com – Kerja sama bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan kembali menunjukkan kemajuan signifikan dengan peresmian fasilitas baru untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan. RI Korea Selatan Bangun Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan yang berlokasi di Daops Manggala Agni Sumatera XVII/OKI, Sumatera Selatan ini menjadi bukti nyata komitmen kedua negara dalam menghadapi tantangan lingkungan global. Fasilitas modern ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas nasional dalam mengelola ancaman karhutla yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.
Perjalanan Kerja Sama Tingkat Tinggi
Inisiatif pembangunan pusat pengendalian ini bermula dari diskusi intensif antara Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dengan Menteri Korea Forest Service Park Eun-Sik. Pertemuan tersebut terjadi saat Menteri Antoni melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan pada bulan April lalu, yang merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan. Kedua pemimpin sektor kehutanan tersebut membahas berbagai aspek kemajuan kerjasama yang telah dibangun selama beberapa tahun terakhir.
“Banyak inisiatif yang akan kita kerjasamakan, tapi salah satunya memang memfinalisasi Forest and Land Fire Management Center yang baru saja kita lihat ini. Mudah-mudahan nanti Bapak Park datang ke Indonesia untuk memperpanjang kerja sama, sekaligus meresmikan Forest and Land Fire Management Center yang ada di sini,” ujar Raja Antoni usai melakukan pengecekkan Indonesia Forest and Land Fire Management Center, Kamis (6/8).
Asap Karhutla Melintasi Batas Negara
Menurut Menhut, dampak kebakaran hutan tidak terbatas pada wilayah administratif tertentu. Fenomena asap transboundary atau asap lintas batas menjadi tantangan serius yang memerlukan pendekatan internasional. Asap akibat karhutla dapat menyebar ke berbagai wilayah hingga melintasi batas negara, sehingga membutuhkan kolaborasi yang lebih kuat dalam upaya pencegahan dan penanganannya.
“Karena asap hasil kebakaran hutan itu tidak mengerti wilayah administratif. Kebakarannya di OKI, tapi bisa dirasakan di daerah lain, bahkan sampai luar negeri. Asap itu bisa melampaui lintas batas negara,” ujarnya.
Antisipasi Ancaman El Nino 2024
Menhut Raja Antoni menyampaikan bahwa pengalaman Indonesia dalam menghadapi karhutla terus menunjukkan tren perbaikan dari tahun ke tahun. Pemerintah menargetkan luas kebakaran hutan dan lahan tetap dapat ditekan meski tahun ini dihadapkan pada ancaman El Nino yang datang lebih cepat akibat perubahan iklim global. Target ini menjadi penting untuk meminimalkan dampak bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan tahun ini kita bisa membuktikan bahwa meskipun El Nino datang lebih cepat, angka karhutla jauh lebih rendah dibandingkan 2023, dengan dampak yang seminimal mungkin bagi masyarakat,” katanya.
Hasil Kolaborasi Lima Tahun
Pada kesempatan yang sama, Korea Indonesia Forest Center (KIFC) Co-Director Jeong Cheol-Ho menjelaskan bahwa pusat pengendalian kebakaran hutan tersebut merupakan hasil dari kolaborasi yang telah dibangun kedua negara selama lima tahun terakhir. Indonesia dan Korea selama ini saling berbagi teknologi, pengalaman, serta praktik terbaik dalam pengendalian kebakaran hutan hingga akhirnya melahirkan Indonesia Forest and Land Fire Management Center.
“Lima tahun lalu kita duduk bersama untuk mencari cara terbaik mengatasi kebakaran hutan di Indonesia. Kita berbagi ide, teknologi, dan pengalaman. Hari ini hasil dari kerja keras kita adalah Pusat Manajemen Kebakaran Hutan ini. Tapi yang lebih berharga dari fasilitas ini adalah semangat, pikiran, dan kerja sama yang ada di dalamnya,” kata Jeong.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pusat Pengendalian Karhutla
Apa itu Indonesia Forest and Land Fire Management Center? Fasilitas ini adalah pusat pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang dibangun melalui kerja sama Indonesia dan Korea Selatan, berlokasi di Sumatera Selatan.
Kapan pusat pengendalian ini diresmikan? Pusat pengendalian ini diresmikan pada Kamis, 6 Agustus 2024, setelah lima tahun proses pembangunan dan kolaborasi kedua negara.
Apa manfaat utama pusat pengendalian ini? Pusat ini berfungsi untuk meningkatkan kapasitas penanganan karhutla, berbagi teknologi, dan mengembangkan strategi pencegahan kebakaran hutan yang lebih efektif.
Bagaimana peran Korea Selatan dalam proyek ini? Korea Selatan berkontribusi melalui transfer teknologi, pengalaman manajemen kebakaran hutan, dan dukungan teknis melalui Korea Indonesia Forest Center (KIFC).
Jeong memastikan kerja sama Indonesia dan Korea di bidang pengendalian karhutla tidak berhenti pada proyek yang selesai tahun ini. Kolaborasi ini akan terus berlanjut untuk menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks di masa depan, termasuk adaptasi terhadap perubahan iklim global.
