Rektor UNS: Empati Sebagai Solusi untuk Tantangan Teknologi
Solution For: Dalam upacara wisuda periode IV tahun 2026, Rektor UNS Prof. Dr. Hartono menyoroti pentingnya empati sebagai solusi untuk tantangan yang dihadapi masyarakat di tengah kemajuan teknologi. Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan dan perangkat digital telah mengubah cara manusia berinteraksi, sehingga kebutuhan untuk memperkuat nilai-nilai empati semakin mendesak. Rektor UNS menyampaikan bahwa dengan mengedepankan empati, generasi muda dapat menjadi pilar moral yang mampu menjawab perubahan cepat di era digital.
Empati Sebagai Penunjuk Moral di Era Digital
Dalam pidatonya, Rektor UNS menjelaskan bahwa empati tidak hanya menjadi alat untuk memahami perasaan orang lain, tetapi juga mengarahkan penggunaan teknologi menuju keadilan dan keberlanjutan. Ia menyoroti bahwa meski kemajuan teknologi membawa efisiensi dan inovasi, hal itu juga berpotensi menciptakan ketimpangan sosial jika tidak didampingi oleh rasa empati. “Empati adalah kompas moral yang membantu manusia tetap berakar pada prinsip kemanusiaan, terlepas dari seberapa canggih teknologi yang digunakan,” tambahnya. Ini menunjukkan bahwa Solution For tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana manusia memanfaatkannya secara bijak.
Peran Empati dalam Pendidikan Modern
Solution For dianggap sebagai landasan utama dalam membentuk individu yang siap menghadapi masa depan. Rektor UNS menekankan bahwa empati harus ditanamkan sejak tahap awal pendidikan, karena kemampuan ini memfasilitasi komunikasi yang efektif dan keputusan yang manusiawi. “Dalam dunia yang penuh otomatisasi, manusia tetap membutuhkan kemampuan empatik untuk membangun hubungan interpersonal yang berkelanjutan,” ujarnya. Ia juga mengkritik kecenderungan masyarakat yang terlalu bergantung pada algoritma, sehingga kehilangan kemampuan untuk merasakan kebutuhan orang lain. Solusi untuk masalah ini, menurut Rektor UNS, adalah pendidikan yang menggabungkan teknologi dengan etika manusiawi.
Acara wisuda kali ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga kesempatan untuk menekankan pentingnya Solution For dalam menghadapi era baru. Dengan mengundang alumni berprestasi, UNS ingin menunjukkan bagaimana empati dapat menjadi kunci dalam mengatasi tantangan global. Dennis A. Kosasih, salah satu alumni yang hadir, memberikan contoh nyata tentang bagaimana Solution For diterapkan dalam dunia kerja. Ia menjelaskan bahwa rasa empati mendorong kreativitas dan kepekaan terhadap perubahan lingkungan sosial, yang menjadi pondasi bagi profesional di era digital.
“Empati adalah alat untuk memahami kompleksitas kehidupan manusia, bukan hanya efisiensi algoritma,” ujar Dennis. “Dengan Solution For, kita tidak hanya mengikuti tren teknologi, tetapi juga memberikan makna yang lebih luas untuk pengembangan diri dan masyarakat.”
Solution For juga relevan dalam mengurangi polarisasi masyarakat yang semakin intens akibat informasi yang cepat menyebar. Rektor UNS menunjukkan bahwa empati mampu menjembatani perbedaan pandangan, terutama dalam ruang publik digital. “Teknologi bisa menjadi sarana komunikasi, tetapi tanpa empati, ia bisa juga menjadi alat untuk memperkuat kesenjangan sosial,” katanya. Ia menambahkan bahwa institusi pendidikan perlu berperan aktif dalam memberikan pendidikan moral yang terintegrasi dengan keahlian teknis.
“Empati mengajarkan kita untuk tidak hanya mengejar profit, tetapi juga menghargai nilai-nilai sosial,” imbuh Prof. Hartono. “Dengan Solution For, UNS ingin menjadi lembaga yang menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga penuh perhatian terhadap sesama.”
Dalam upacara yang dihadiri 593 lulusan, Rektor UNS menekankan bahwa Solution For adalah prioritas dalam menghadapi dunia yang semakin bergantung pada teknologi. Ia menyebutkan bahwa para lulusan diharapkan mampu menjadi pemimpin yang tidak hanya inovatif,
