Skip to content
Beritabaru1
fe1b8844-d830-4785-aa70-48971fa106fc-0
  • Home
  • News
  • Sepak Bola
  • Teknologi
  • Internasional
  • Humaniora
  • Politik Dan Hukum
  • Nusantara
  • Hiburan
  • Opini
  • Travelista
  • Ekonomi
  • Megapolitan
  • Kolom Pakar
  • Jelita
  • Olahraga
  • Haji
  • Otomotif
  • Jabar
  • Piala Dunia 2026
  • Kuliner
  • Kesehatan
  • Forum Mahasiswa
  • Fashion
  • Sela
  1. Home
  2. Humaniora
  3. Special Plan: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, WALHI Papua Soroti Krisis Hutan Adat
Humaniora

Special Plan: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, WALHI Papua Soroti Krisis Hutan Adat

Karen Smith Reporter Jumat, 05 Juni 2026 pukul 18:43 WIB 3 min read
0 Views 0 Komentar
Share:
d62e5dbf-5608-4623-8bab-9ec9ef42b4e8-0

Table of Contents

Toggle
  • Special Plan: WALHI Papua Soroti Krisis Hutan Adat di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026
    • Kebuntuan Hutan Adat yang Terus Menggila
    • Kontribusi Deforestasi Papua terhadap Kebuntuan Nasional
    • Pengabaian Prinsip FPIC dalam Proses Perizinan
    • Krisis Lingkungan yang Memengaruhi Generasi Masa Depan

Special Plan: WALHI Papua Soroti Krisis Hutan Adat di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

Special Plan – Dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, organisasi lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Papua menggunakan kesempatan ini untuk menyoroti isu krisis hutan adat yang semakin memburuk. Sebagai bagian dari Special Plan, kegiatan ini bertujuan mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem alami di wilayah timur Indonesia, yang kini terancam oleh pertambangan, perkebunan, dan proyek pembangunan lain yang tidak memperhatikan hak masyarakat adat.

Kebuntuan Hutan Adat yang Terus Menggila

Kritik WALHI Papua menyasar kebijakan pemerintah yang dianggap mengabaikan peran hutan adat sebagai warisan budaya dan sumber daya alam vital. Direktur Eksekutif WALHI Papua, Maikel Primus Peuki, mengungkapkan bahwa krisis ini memperparah ketimpangan lingkungan, karena hutan adat di Papua sering kali menjadi target utama pengusahaan lahan. “Special Plan ini menjadi ajang untuk meninjau kembali komitmen kita dalam melindungi hutan adat,” katanya, Jumat (5/6/2026). Ia menyoroti bahwa perlindungan lingkungan global tidak akan mencapai tujuannya tanpa peran aktif masyarakat adat.

Kontribusi Deforestasi Papua terhadap Kebuntuan Nasional

Laporan WALHI Papua menyebutkan bahwa laju penebangan hutan di wilayah itu mencapai 70 persen dari total deforestasi nasional dalam dua tahun terakhir. Angka ini menunjukkan betapa besar kontribusi Papua terhadap kerusakan lingkungan, yang semakin memperparah krisis ekologis. Dengan rata-rata 770.000 hektare hutan alam rusak setiap tahun, pemerintah dinilai perlu merevisi kebijakan yang sekarang berlangsung, karena hutan adat tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga warisan pengetahuan tradisional.

Maikel Primus Peuki menekankan bahwa hutan adat Papua adalah bagian dari Special Plan untuk mengembangkan keberlanjutan lingkungan. “Dengan melibatkan masyarakat adat secara aktif dalam pengelolaan sumber daya alam, kita bisa menciptakan solusi yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan,” jelasnya. Ia mengingatkan bahwa kebijakan yang tidak melibatkan komunitas lokal akan mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati dan penurunan kualitas hidup masyarakat.

Pengabaian Prinsip FPIC dalam Proses Perizinan

Kebijakan pembangunan di Papua sering kali dianggap melewatkan prinsip Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (FPIC), yang merupakan dasar hak masyarakat adat untuk mengelola sumber daya mereka. WALHI Papua menyebutkan bahwa banyak proyek perkebunan dan tambang dijalan tanpa konsultasi yang cukup dengan masyarakat setempat. “Special Plan ini justru menjadi momentum untuk memperkuat keadilan lingkungan, dengan memastikan FPIC dijalankan secara transparan,” ujarnya.

Sebagai contoh, dalam beberapa tahun terakhir, terdapat penambangan emas yang menutupi luas lahan hutan adat. Masyarakat setempat tidak hanya kehilangan tanah pertanian, tetapi juga terganggu dalam kehidupan mereka. Dengan Special Plan yang diusung, WALHI Papua berharap pemerintah bisa mengambil langkah konkret untuk menyelaraskan kebijakan lingkungan dengan kebutuhan masyarakat adat.

Krisis Lingkungan yang Memengaruhi Generasi Masa Depan

Keberlanjutan lingkungan di Papua sangat penting, karena hutan adat berperan sebagai penyangga ekosistem alami yang kompleks. Kesadaran akan kehilangan keanekaragaman hayati dan kekayaan sumber daya alam ini justru semakin menggembung dengan meningkatnya aktivitas ekstraktif. “Special Plan ini bukan hanya tentang peringatan, tetapi juga tentang tindakan nyata untuk melindungi hutan adat,” pungkas Maikel. Ia mengingatkan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini akan menyebabkan konsekuensi jangka panjang bagi masyarakat dan alam.

Dalam penutupnya, Maikel Primus Peuki menegaskan bahwa hutan adat Papua tidak hanya milik masyarakat adat, tetapi juga memiliki nilai global. “Special Plan ini memberikan perhatian internasional pada krisis hutan adat, karena Papua adalah rumah bagi hutan tropis yang sangat penting bagi keseimbangan ekosistem dunia,” kata dia. Ia menyerukan kolaborasi antara pemerintah, investor, dan masyarakat untuk menciptakan kebijakan lingkungan yang berkelanjutan dan inklusif.

Bagikan:

Berita Terkait

55aac335-2929-4d54-8a36-7e4e0700bde6-0

Special Plan: 13 Taman Nasional Ditargetkan Mandiri dalam Urusan Pendanaan pada 2030

26 Jun 2026
d324d0c8-8fb8-4f8b-9c9a-75051d1c034f-0

Mengagumkan! Karang Hitam Raksasa Berusia 400 Tahun Ditemukan di Selandia Baru

26 Jun 2026
464883ef-a30d-4ccc-a7e4-c02ce2b2e644-0

Key Discussion: Kapan Harus Berhenti Bayi Tabung? Dilema Berat Pasien IVF yang Jarang Terungkap

26 Jun 2026

Komentar

Tinggalkan Komentar Batal

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Field yang wajib diisi ditandai *

Dengan mengirim komentar, Anda menyetujui kebijakan komentar kami.

Terpopuler

Berita Terbaru

1782510039_d402f84363d336b912cf

Special Plan: Harga Biosolar B50 Harus Kompetitif untuk Tarik Minat Masyarakat

7 jam yang lalu
0b2edacb-c104-424a-8fb3-dc9eda9a848c-0

New Policy: Presiden Prabowo Didesak segera Terbitkan Perpres RAN HAM

7 jam yang lalu
1782510706_6702119ca7efdf53ac61

Key Issue: Klasemen Grup I Piala Dunia 2026: Prancis Sempurna, Senegal Pesta Gol

7 jam yang lalu
1782511360_747e74ee74aeda024e85

Topics Covered: Korban Jiwa Gempa Venezuela Bertambah Jadi 589 Orang, Ribuan Terluka

7 jam yang lalu
1782511855_c89e55d703da44da063a

Sindikat Judi Daring Hayam Wuruk Gunakan Kedok Perusahaan Teknologi

7 jam yang lalu

Kategori

  • Ekonomi (346)
  • Fashion (3)
  • Forum Mahasiswa (1)
  • Haji (28)
  • Hiburan (208)
  • Humaniora (655)
  • Internasional (333)
  • Jabar (58)
  • Jelita (19)
  • Kesehatan (5)
  • Kolom Pakar (3)
  • Kuliner (16)
  • Megapolitan (118)
  • Nusantara (434)
  • Olahraga (135)
  • Opini (52)
  • Otomotif (20)
  • Piala Dunia 2026 (181)
  • Politik Dan Hukum (169)
  • Sela (1)
  • Sepak Bola (427)
  • Teknologi (185)
  • Travelista (31)
  • Uncategorized (1)

About Us

Beritabaru1 menyajikan berita terbaru, analisis tajam, dan update penting setiap hari dengan gaya yang jelas dan terpercaya.

Trending Post

  • Hello world!
  • New Policy: Presiden Prabowo Didesak segera Terbitkan Perpres RAN HAM
  • Key Discussion: Preview Ligue 1 Rennes vs Paris FC, Ambisi Tuan Rumah di Roazhon Park
  • Bawa Kabur Motor Teman – Perempuan di Kukar Ditangkap Polisi
  • Main Agenda: Pengamat Soroti Peran Strategis Indonesia di Tengah Dinamika ASEAN

Quick Links

  • Ekonomi
  • Fashion
  • Forum Mahasiswa
  • Haji
  • Hiburan
  • Humaniora
  • Internasional
  • Jabar
  • Jelita
  • Kesehatan

Contact Us

Ready to get started? Contact us today!

  • Contact Us

Copyright © 2026 beritabaru1.com. All rights reserved.