Ahli Ebola: Wabah Saat Ini Bisa Jadi Terbesar dalam Sejarah
Ahli Ebola – Dunia kini berhadapan dengan ancaman besar setelah wabah ebola menyebar di Republik Demokratik Kongo (DRC). Menurut Dr. Simon Mardel, konsultan medis darurat dari NHS yang telah mengikuti penanganan penyakit ini selama tiga dekade, kondisi saat ini bisa terlihat sebagai ‘kecelakaan kereta api yang berjalan perlahan’ dengan risiko melebihi tragedi tahun 2014. Kini, wabah yang sedang terjadi di DRC dinyatakan sebagai pandemi ketiga terparah dalam sejarah, dengan lebih dari seribu kasus dan ratusan kematian yang tercatat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan status darurat kesehatan masyarakat sebagai respons terhadap situasi kritis ini. Salah satu kekhawatiran utama Dr. Mardel adalah adanya rantai penularan yang tidak terdeteksi. Laporan menunjukkan bahwa virus mungkin telah menyebar secara diam-diam sejak awal tahun, baru dikonfirmasi secara resmi di bulan Mei 2026. Kondisi ini memperumit upaya mengendalikan wabah karena kurangnya pemahaman mengenai tingkat penyebaran yang sebenarnya.
Virus yang Masih Tidak Dikenal
Wabah saat ini disebabkan oleh galur Bundibugyo, suatu varian ebola yang relatif langka. Hingga saat ini, belum ada vaksin yang dianggap efektif untuk menghadapi strain tersebut. “Kata-kata paling menakutkan bagi epidemiolog adalah ketidaktahuan mengenai rantai penyebaran yang belum terdeteksi,” tambah Dr. Mardel.
Dr. Mardel menyoroti hubungan antara ekspansi wabah ebola dengan aktivitas pertambangan emas ilegal. Berdasarkan pengalaman di wilayah Ituri, DRC, ia menjelaskan bahwa lingkungan tambang yang tidak higienis—dengan ribuan pekerja bekerja di bawah tanah bersama kotoran kelelawar dan sanitasi yang buruk—berfungsi sebagai inkubator sempurna bagi virus. Komunitas pertambangan ini terdiri dari pekerja muda yang mobilitasnya tinggi, sehingga mempercepat penyebaran ke daerah lain, termasuk keluar batas ke Uganda.
Selain itu, serangan terhadap klinik kesehatan yang dipicu oleh informasi salah di media sosial membuat masyarakat enggan mencari bantuan medis. Hal ini menyebabkan kasus-kasus baru tetap tersembunyi. Sebagai saksi bisu dari wabah tahun 2000 di Gulu, Uganda, Dr. Mardel menekankan bahwa tenaga medis menjadi kelompok paling rentan. “Pembersih, perawat, dan dokter yang bekerja paling keras adalah mereka yang paling berisiko,” katanya.
Kekhawatiran terbesarnya saat ini adalah jika wabah ini mencapai Nigeria, negara dengan populasi terbesar di Afrika. Dengan kemungkinan amplifikasi virus di rumah sakit yang sangat tinggi, satu kasus yang masuk bisa menyebabkan puluhan kasus baru dalam waktu singkat, membentuk skenario terburuk bagi keamanan kesehatan global. Jika tidak segera diatasi, virus ini hanya menunggu waktu untuk menyebar ke luar Afrika.
