Krisis Pupuk dan Energi Mengancam Ketahanan Pangan Mesir
Dampak Perang Iran – Konflik di Iran mulai memengaruhi sektor pertanian Mesir dengan dampak yang merusak. Petani kecil di negara tersebut kini terjebak dalam ketidakpastian akibat kenaikan harga pupuk dan energi yang signifikan, menyebabkan pengurangan tenaga kerja dan pemangkasan luas lahan pertanian. Di desa Nazlet Al-Shobak, 50 kilometer di selatan Kairo, Ashraf Abu Ragab, seorang petani berusia 45 tahun, terpaksa bekerja sendirian setelah lahan yang dikelolanya berkurang separuh. Dulu, ia bisa mengandalkan tiga pekerja, namun kini harus mengorbankan tenaga manusia untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Gangguan Global yang Menyebabkan Krisis
Krisis ini berawal dari penghambatan arus barang melalui Selat Hormuz, jalur perdagangan penting. Secara normal, jalur ini mengangkut sepertiga pupuk dunia, seperlima LNG, dan 35% minyak mentah global. Maximo Torero, kepala ekonom FAO, mengingatkan bahwa gangguan tersebut menghancurkan pasokan bahan baku pertanian. “Petani harus memilih antara menggunakan input lebih sedikit, mengganti jenis tanaman, atau mengurangi irigasi. Semua pilihan itu mengurangi hasil panen,” terang Torero.
“Semua menjadi lebih mahal,” ujar Abu Ragab kepada AFP sambil berada di tengah tanaman jagung dan wijen miliknya. “Pupuk, benih, bahan kimia. Hasil panen tidak lagi mampu menutup biaya produksi.”
Di sisi produsen, keadaan justru berbeda. Perusahaan besar seperti Abu Qir Fertilizers melaporkan laba yang meningkat lebih dari dua kali lipat selama kuartal pertama. Mereka memanfaatkan harga global yang naik dan permintaan ekspor yang tinggi. “Produsen bisa mengekspor atau menaikkan harga, tetapi petani kecil tidak memiliki fleksibilitas itu,” kata Nader Nour Eldeen, profesor pertanian dari Universitas Kairo.
Teori Ekonomi yang Menekan Petani
Kenaikan biaya operasional hampir dua kali lipat sejak perang pecah membuat Abu Ragab memutuskan untuk berhenti menanam gandum, komoditas yang sangat bergantung pada pupuk. Di tingkat nasional, Mesir mengimpor 12-14 juta ton gandum setiap tahun untuk mendukung sistem subsidi roti. Krisis energi juga memperparah kondisi, dengan harga bahan bakar naik hingga 30% pada Maret lalu. Nilai tukar mata uang Mesir (pound) turun sekitar 15% sejak awal konflik.
Ekonomi Mesir rentan karena ketergantungan pada bahan bakar impor. Meskipun negara ini memproduksi sekitar tujuh hingga delapan juta ton pupuk nitrogen per tahun, akses domestik tetap tidak merata. Produsen lebih memilih pasar ekspor yang menguntungkan, meninggalkan petani kecil menghadapi kenaikan harga yang tidak terduga.
“Jika harga tetap seperti ini, banyak petani tidak akan sanggup melanjutkan usahanya,” tutup Hussein Abu Saddam, ketua Serikat Petani.
Ketergantungan pada impor dan harga pupuk yang tinggi membawa ancaman serius terhadap ketahanan pangan nasional. Abu Saddam memprediksi penurunan produksi tanaman pangan utama seperti gandum, jagung, dan beras jika kondisi ekonomi tidak membaik. Kondisi ini semakin menyulitkan petani yang telah kehilangan hampir setengah investasi musim lalu, tetap bertahan dalam ketidakpastian yang menggerogoti penghasilan mereka.
